Asing Borong Obligasi Pemerintah US$ 656,7 Juta, Tertinggi Sejak 2019

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Penulis: Agustiyanti
24/8/2026, 12.33 WIB

Kementerian Keuangan mencatatkan, terdapat aliran modal asing masuk ke obligasi pemerintah mencapai US$ 656,7 juta pada Kamis (20/8). Pembelian bersih obligasi negara ini merupakan yang tertinggi sejak Juli 2019, didorong penguatan nilai tukar rupiah dan ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tetap stabil.

Mengutip Bloomberg, angka tersebut menjadikan total pembelian bersih asing yang masuk sepanjang bulan ini mencapai US$931,74 juta. Dengan demikian, terjadi aliran modal asing masuk ke obligasi pemerintah dalam tiba bulan berturut-turut. 

Lonjakan arus masuk ini mencerminkan membaiknya sentimen investor setelah langkah-langkah Bank Indonesia (BI) untuk menarik dana asing, yang dibarengi dengan intervensi di pasar mata uang, berhasil memperkuat rupiah. Kurs rupiah telah menguat 1,8% sepanjang bulan Agustus, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia setelah sempat mengalami tekanan jual pada awal tahun.

Arus modal asing yang mengalir deras pada Kamis terjadi sehari setelah BI mempertahankan suku bunga acuan. Ini adalah keputusan moneter pertama di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur Destry Damayanti. Destry yang kini menjadi satu-satunya calon Gubernur BI definitif usulan Presiden Prabowo, juga memperluas program insentif lindung nilai atau hedging untuk menarik lebih banyak arus masuk dana.

"Tingginya pembelian bersih asing merupakan "dampak positif dari strategi perubahan arah BI. Tidak ada lagi kekhawatiran akan pengetatan suku bunga lebih lanjut untuk meredam depresiasi mata uang," ujar Wee Khoon Chong, ahli strategi pasar senior Asia Pasifik di BNY.

Selain itu, ia menilai, stabilitas di pasar valuta asing mendorong investor untuk kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia."

Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan defisit anggaran negara pada tahun depan juga memberikan sentimen positif bagi obligasi ini. "Membaiknya kredibilitas fiskal, penguatan rupiah, serta tidak adanya lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pekan lalu merupakan faktor-faktor yang memicu arus masuk dana tersebut", kata Jessica Tasijawa, analis pendapatan tetap di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Bank sentral pada hari Jumat menyatakan akan mengurangi frekuensi lelang SRBI dari sekali seminggu menjadi sekali setiap dua minggu. Destry mengisyaratkan adanya perubahan kebijakan untuk mengurangi penggunaan instrumen tersebut sebagai alat untuk menarik investor asing ke mata uang rupiah.

Nilai tukar rupiah telah pulih dan menguat 2,7% dari rekor terendahnya pada awal Juni. Hal ini berkat kenaikan suku bunga BI, meredanya kekhawatiran fiskal, serta pelemahan dolar AS. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun turun 52 basis poin dari puncaknya pada bulan Juni, sedangkan imbal hasil tenor 5 tahun, yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, turun lebih dalam sebesar 69 basis poin.

Lelang obligasi pemerintah pekan lalu mencatatkan permintaan yang kuat, dengan rasio penawaran terhadap target mencapai 2,64, angka tertinggi sejak bulan Desember berdasarkan data Bloomberg. Menurut PT Mandiri Sekuritas, nilai penawaran dari investor asing melonjak hingga Rp 17,2 triliun, angka ini jauh melampaui rata-rata tahun ini yang sebesar Rp8,3 triliun sekaligus mencatatkan tingkat partisipasi asing tertinggi sepanjang tahun ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.