Purbaya: Saya Pejabat dengan Pola Pikir Ekonom, Makanya Banyak Musuh

ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/kye
Menteri Keuangan / Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fariz Azhar Nasution (kanan) dan Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Robert Leonard Marbun (kiri) memberikan keterangan pers mengenai kondisi dan stabilitas sistem keuangan terkini di Jakarta, Selasa (28/7/2026). KSSK untuk pertama kalinya mengundang Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia dalam rapat koordinasi menjelang pen
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
3/9/2026, 15.33 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim tetap mempertahankan pola pikir sebagai ekonom meski kini menjabat sebagai pejabat pemerintah. Ia berseloroh, pendekatan ini membuat dirinya kerap dimusuhi. 

“Siapa bilang saya bukan ekonom lagi? Masih ekonom kok, udah pejabat sekarang ya. Pejabat itunya doang, isi kepala tetap ekonom, cara berpikirnya tetap ekonom, makanya banyak dimusuhi," kata Purbaya berseloroh dalam acara ‘Sarasehan 100 Ekonom Indonesia’, di Jakarta, Kamis (3/9).

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya ketika menjelaskan pendekatannya dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah.

Menurut dia, menjadi pejabat hanya mengubah posisi dan tanggung jawabnya. Sementara itu, latar belakang dan cara berpikir ekonom tetap menjadi dasar dalam melihat berbagai persoalan.

Dalam forum Sarasehan 100 Ekonom itu,  Purbaya ditanya terkait belanja subsidi pemerintah yang sudah membengkak di luar target. Pengalamannya sebagai ekonom sebelum terjun ke dalam pemerintahan juga turut disinggung.

Menjawab pertanyaan itu, Purbaya lalu mengklaim pemerintah telah mengendalikan kesinambungan fiskal agar tetap terjaga. 

“Kkalau kita lihat defisit yang saya sebutkan, itu sampai bulan Juli 0,9%. Artinya apa? Itu menunjukkan kita sudah mengendalikan belanja dan lain-lain sehingga kesinambungan fiskalnya tetap terjaga,” katanya. 

Purbaya menuturkan, ia diminta Presiden Prabowo Subianto untuk memperhitungkan dampak kenaikan harga minyak saat perang Iran dan AS meletus. Saat menerima perintah itu, ia lalu membuat skema jika harga minyak naik hingga US$ 100 per barel

Selain itu, Purbaya mengaku telah memetakan dampak kenaikan harga tersebut terhadap beberapa sektor dan menyampaikannya pada Presiden.  Ia juga menepis anggapan  bahwa pemerintah boros dalam menggunakan anggaran. 

“Jadi kita kendalikan belanja-belanja yang enggak perlu dan tetap membolehkan belanja-belanja yang lebih produktif. Sedangkan daya beli masyarakat, dijaga dengan meng-absorb tadi kenaikan harga minyak dunia melalui subsidi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman