Mampukah RI Keluar dari Middle Income Trap Jika Ekonomi Tumbuh Tinggi?

ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Ilustrasi.
Editor: Agustiyanti
8/9/2026, 17.55 WIB

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menilai pertumbuhan ekonomi tidak cukup untuk menghadapi perubahan kondisi global saat ini. Pertumbuhan ekonomi harus diiringi dengan peningkatan kapasitas produktif.

 

"Pertumbuhan saja tidak lagi cukup. Kita membutuhkan pertumbuhan yang membangun kapasitas produktif yang lebih kuat untuk masa depan," kata Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Rudyard dalam acara Bappenas – ADBI Joint Conference on Asian Countries Long Term Development Visions, Selasa (8/9).

Menurut dia, kapasitas produktif di Indonesia perlu dibangun dengan meningkatkan produktivitas, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Selain itu, perlu upaya untuk memperkuat industri dan mendorong institusi yang lebih tangguh.

Febrian mengatakan, lingkungan pembangunan saat ini berbeda dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Ketegangan geopolitik turut membentuk kembali pola perdagangan dan investasi, sementara perkembangan teknologi mengubah cara negara memproduksi barang, berkompetisi, hingga menciptakan lapangan kerja.

Di saat yang sama, perubahan iklim dan transisi energi menghadirkan risiko baru sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi negara-negara di kawasan.

"Teknologi mengubah cara kita memproduksi, bersaing, dan menciptakan lapangan kerja. Perubahan iklim dan transisi energi menghadirkan risiko-risiko baru, tetapi juga membawa peluang-peluang baru," ujarnya.

Karena itu, menurut Febrian, strategi pembangunan tidak bisa hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi harus memastikan pertumbuhan tersebut memperkuat kemampuan ekonomi untuk menghadapi perubahan di masa mendatang.

Keluar dari Jebakan Pendapatan Menengah

Febrian mengatakan, Indonesia telah menetapkan arah tersebut melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dan visi Indonesia Emas 2045. Ia menyebut, visi pembangunan hanya akan bermakna jika diterjemahkan ke dalam kebijakan dan tindakan konkret.

"Hal ini berarti meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun institusi yang mampu menopang transformasi selama beberapa dekade," katanya.

Senada, Dean and CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro, menilai perjalanan negara-negara Asia dari berpendapatan menengah menuju berpendapatan tinggi membutuhkan perubahan sumber pertumbuhan. 

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi pada tahap awal pembangunan memang umumnya banyak ditopang industrialisasi, integrasi perdagangan, akumulasi modal, serta perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke manufaktur. Namun, sumber-sumber tersebut tidak lagi memadai ketika perekonomian semakin berkembang.

"Mempertahankan pertumbuhan semakin membutuhkan produktivitas yang lebih tinggi, peningkatan teknologi, inovasi, keterampilan yang lebih baik, serta institusi yang mampu merespons secara efektif terhadap perekonomian yang semakin kompleks," ujar Bambang.

Menurut Bambang, mencapai status negara berpendapatan menengah memang merupakan pencapaian besar. Namun, mempertahankan proses tersebut menuju negara berpendapatan tinggi mengharuskan perekonomian terus melakukan transformasi.

Geopolitik dan AI ubah strategi pembangunan

Bambang juga menyoroti perubahan lingkungan global yang membuat strategi pembangunan Asia pada masa lalu tidak dapat diterapkan begitu saja saat ini.

Fragmentasi geopolitik, menurut dia, tengah membentuk kembali pola perdagangan, investasi, arus teknologi, dan rantai nilai global. Pada saat yang sama, kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital mengubah sumber produktivitas dan daya saing.

Transisi menuju ekonomi rendah karbon juga membawa konsekuensi yang sama. Di satu sisi, transisi tersebut menciptakan peluang baru, tetapi di sisi lain menimbulkan biaya penyesuaian yang signifikan.

“Ada satu pertanyaan yang seharusnya menjadi benang merah dalam diskusi kita: Sejauh mana strategi pembangunan yang mendukung transformasi Asia di masa lalu masih dapat diterapkan saat ini, dan di mana strategi tersebut perlu disesuaikan?” kata dia.

Menurutnya, negara tidak cukup hanya memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk terus beradaptasi ketika teknologi, pasar, demografi, dan kondisi global berubah. 

“Perencanaan pembangunan jangka panjang bukanlah tentang memprediksi secara tepat seperti apa suatu perekonomian akan terlihat 20 atau 30 tahun dari sekarang,” katanya.

Menurutnya yang lebih penting adalah menetapkan arah pembangunan sembari membangun institusi, SDM, dan kapasitas produktif yang memungkinkan negara beradaptasi terhadap perubahan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah