Dongkrak Daya Saing, Pemerintah Targetkan Biaya Logistik RI Turun ke 10%

ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/YU
Foto udara kendaraan angkutan barang yang akan menyeberang ke Bali antre di kantong parkir Dermaga Bulusan, Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (22/5/2026).
Penulis: Ade Rosman
23/9/2026, 15.44 WIB

Pemerintah menargetkan biaya logistik nasional turun dari sekitar 14% menjadi 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, penurunan biaya logistik dinilai menjadi salah satu ruang perbaikan yang dapat mendorong efisiensi dan meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia.

Airlangga menyampaikan, pemerintah melihat penurunan biaya logistik sebagai salah satu langkah yang relatif mudah dilakukan untuk memperbaiki efisiensi ekonomi.

"Biaya logistik kita itu sekitar 14% (dari PDB). Kalau kita bisa turunkan menjadi 10%, itu low hanging fruit," kata Airlangga dalam acara Antara Business Forum 2026, di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (23/9).

Menurut Airlangga, penurunan biaya logistik sebesar empat persen tersebut dapat memberikan dampak terhadap perekonomian nasional. Karena itu, pemerintah terus mendorong efisiensi di sektor logistik.

Airlangga mengatakan, efisiensi logistik juga berkaitan dengan upaya pemerintah meningkatkan daya saing industri nasional. Biaya logistik yang lebih rendah dapat membantu menekan biaya distribusi barang sehingga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif.

Tingkatkan Investasi

Selain logistik, pemerintah juga mendorong peningkatan investasi sebagai bagian dari strategi memperkuat pertumbuhan ekonomi. Airlangga mengatakan, pertumbuhan investasi perlu berada di atas pertumbuhan ekonomi karena investasi dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, serta menghemat devisa.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6% dan terus meningkat hingga sekitar 8% pada 2029. Untuk mencapai target tersebut, Airlangga menilai berbagai sumber pertumbuhan perlu didorong secara bersamaan, termasuk investasi, industri, ekspor, dan efisiensi logistik.

“Dalam persaingan secara global efisiensi 4% itu nilainya sangat signifikan,” kata Airlangga.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman