BI Ramal The Fed Naik Bunga Lagi, Ini Risiko ke Ekonomi RI
Bank Indonesia memperkirakan The Federal Reserve atau The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada kuartal IV 2026. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan, kenaikan suku bunga The Fed atau Fed Fund Rate terutama didorong oleh gejolak geopolitik yang belum surut.
“Jadi kesimpulannya, di global, kita akan menghadapi fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market,” ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (28/9).
Destry menjelaskan, kenaikan suku bunga oleh bank-bank sentral global dapat memicu terjadinya flight to quality atau perpindahan arus modal dari negara berkembang menuju negara maju. Hal ini dapat memicu tekanan terhadap neraca pembayaran Indonesia dan nilai tukar.
Ia mengatakan, tekanan tersebut juga tercermin dari penguatan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar AS atau DXY telah mencapai 101,11, sedangkan indeks dolar terhadap mata uang Asia berada di level 96,26.
"Yang terasa adalah pelarian arus modal dari emerging market kembali kepada developed countries khususnya terhadap di Amerika Serikat,” kata Destry.
Destry memastikan, BI akan mengarahkan kebijakan moneter untuk lebih menjaga stabilitas dan kebijakan lainnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam menghadapi risiko tersebut.
BI juga menyiapkan insentif hedging melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan kisaran 10%-30%. Kebijakan ini ditujukan antara lain untuk menghadapi tekanan outflow di pasar keuangan.
Ia menyebut, kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong masuknya kembali aliran modal asing. Hingga saat ini, aliran modal yang masuk disebut telah mencapai US$ 6 miliar.
Selain itu, BI terus melakukan ekspansi likuiditas untuk menjaga kondisi pasar keuangan domestik. Tambahan likuiditas melalui instrumen swap dan repo secara kumulatif telah mencapai sekitar Rp 387 triliun sepanjang 2026.
BI juga terus mendorong penurunan yield dan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Destry menyampaikan, yield SRBI tenor 12 bulan kini berada di level 6,76%, turun dari level tertingginya yaitu 7,74%.
Sementara itu, outstanding SRBI telah turun dari Rp 1.096 triliun menjadi Rp 1.013 triliun. Menurut Destry, kondisi tersebut membuat ruang likuiditas bagi perekonomian semakin besar.
Di sisi lain, Destry menututkan perekonomian Indonesia masih tumbuh terkendali di tengah tekanan global. Yang mana ekonomi Indonesia disebut tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II 2026.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh sekitar 5,45%. Pertumbuhan ini antara lain ditopang oleh pengeluaran pemerintah dan investasi, khususnya investasi yang berkaitan dengan pemerintah.
BI memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9%-5,7% pada 2026. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi 2027 diproyeksikan berada di kisaran 5,2%-6%.
Destry mengatakan, untuk dapat mencapai proyeksi pertumbuhan 2027 tersebut memerlukan peningkatan investasi swasta, termasuk investasi dari Danantara.