Barang Cina Kian Banjiri Dunia, Surplus Perdagangan Mendekati US$ 1 Triliun
Ekspor Cina pada September melonjak tajam dan mendorong surplus neraca perdagangan sepanjang tahun ini hampir mendekati US$ 1 triliun. Kinerja ini meningkatkan optimisme bahwa surplus perdagangan Cina pada tahun ini akan melampaui rekor tahun lalu sebesar US$ 1,2 triliun.
Data yang dirilis oleh Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok pada Rabu (14/10) menunjukkan bahwa pengiriman barang ke luar negeri melonjak 36% dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan impor meningkat 31%. Akibatnya, surplus perdagangan pada September melebar hingga mencapai hampir US$ 134 miliar, melampaui seluruh perkiraan dalam survei ekonom yang dilakukan Bloomberg.
Surplus perdagangan Cina sepanjang tahun ini mencapai US$ 938 miliar, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ekspor antara lain didorong oleh pengiriman ke AS yang melesat 40%, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan data resmi Cina, surplus perdagangan dengan AS melonjak hingga US$ 34 miliar, angka tertinggi sejak Januari 2025.
Ekspor ke negara lainnya seperti Australia, Inggris, dan Korea Selatan juga mencapai rekor tertinggi. Lonjakan ekspor Cina terutama terutama didorong oleh pengiriman produk berteknologi tinggi yang melonjak hampir 64% pada September.
"Seiring dengan stabilnya hubungan perdagangan Tiongkok-AS dan meredanya ketegangan perdagangan jangka pendek dengan Uni Eropa, para pembuat kebijakan seharusnya memiliki ruang lebih luas untuk kembali fokus pada permintaan domestik yang saat ini masih lesu," ujar para ekonom HSBC Holdings Plc yang dipimpin oleh Taylor Wang dalam riset mereka.
Lonjakan ekspor Cina terjadi di tengah stagnasi konsumsi domestik negara tersebut. Hal ini memicu penolakan lebih keras dari mitra-mitra dagang utamanya. Setelah berbulan-bulan berselisih dengan Uni Eropa, Brussels dan Beijing sepakat untuk membatasi impor mobil hibrida dari Cina. Namun, pihak CIna memandang kesepakatan itu sebagai langkah untuk menjamin "ruang ekspor dan pertumbuhan yang stabil" bagi produsen mobil mereka.
Cina mencatat rekor surplus perdagangan sebesar US$34,8 miliar dengan Uni Eropa pada bulan September, sebelum kedua belah pihak mengumumkan hasil perundingan mereka. Angka ketimpangan tersebut hampir 21% lebih tinggi dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.
Selain Uni Eropa, mitra dagang utama Beijing lainnya juga mencatat nilai pengiriman barang dari Cina yang belum pernah terjadi sebelumnya pada bulan lalu. Rekor ekspor tertinggi tercatat pada tujuan pengiriman ke Australia, Inggris, Korea Selatan, Rusia, dan negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN.
Jumlah negara yang mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok melebihi 3% dari produk domestik bruto (PDB) mereka. Menurut para ekonom di Goldman Sachs Group Inc, angka ini meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2005.
Pada tahun lalu, terdapat 82 negara yang memiliki defisit dengan negara ekonomi terbesar di Asia ini. Menurut Goldman Sachs Group, sebagian besar di antaranya adalah negara berkembang berpendapatan rendah.