Bos BI: Indonesia Harus Kembali ke Industri, Jangan Terjebak Ekspor Komoditas
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai Indonesia perlu kembali memperkuat industrialisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Indonesia dinilai mulai kembali bergantung pada ekspor komoditas setelah sempat membangun industri manufaktur pada medio akhir 1980-an hingga awal 1990-an.
Destry menilai, industrialisasi nasional belum tuntas. Indonesia perlu memperdalam hilirisasi, memperkuat daya saing manufaktur, serta meningkatkan produktivitas agar dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
"Back to basic. Industrialisasi kita kan nanggung, ya. Kita sudah mulai di akhir '80-an sama awal '90, tapi kemudian kembali ke komoditas,” kata Destry dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10).
Menurut dia, Indonesia masih memiliki ruang untuk memperdalam pengolahan sumber daya alam sebelum diekspor. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari komoditas nasional tidak berhenti pada tahap pengolahan awal, tetapi berlanjut ke rantai produksi yang lebih kompleks.
Pada kesempatan itu, Destry menjelaskan, tingkat kompleksitas ekonomi Indonesia masih rendah. Padahal, kedalaman rantai produksi dan kemampuan menghasilkan produk yang lebih beragam menjadi salah satu aspek yang mencerminkan perkembangan industri suatu negara.
“Di situ melihat bagaimana kedalaman dan sejauh apa downstreaming itu dilakukan. Ternyata Indonesia sangat rendah. Jadi kita baru setengahnya udah kita ekspor, padahal sebenarnya kita bisa terus melakukan complexity sampai dalam,” katanya.
Oleh karena itu, ia menilai pengembangan industri tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan sumber daya alam. Namun perlu juga meningkatkan kualitas tenaga kerja, memanfaatkan teknologi, serta memperkuat produktivitas agar industri nasional mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi.
Destry mengatakan, upaya tersebut semakin mendesak di tengah perubahan peta perdagangan dan investasi global akibat dinamika geopolitik serta perkembangan tekno;ohi berbasis akal imitasi (AI) yang dinilai turut memengaruhi daya saing antarnegara.
Ia berpandangan, Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi agar mampu memanfaatkan potensi sumber daya alam dan tenaga kerja untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Potensi ada, tadi Pak Menkeu sudah menyampaikan, kita punya orang, kita punya kekayaan alam yang enggak banyak negara punya kekayaan alam seperti kita,” kata dia.
Di sisi lain, selain memperkuat industrialisasi, Destry menekankan pentingnya perencanaan ekonomi jangka menengah dan panjang yang terarah. Menurut dia, pertumbuhan berkelanjutan membutuhkan kebijakan yang terkoordinasi dan tidak berjalan secara terpisah-pisah.
Ia mengatakan, pemerintah perlu memiliki tahapan yang jelas untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi, termasuk dalam pengembangan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja.
Selain itu, Destry juga berharap Danantara dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi melalui investasi produktif dan pembukaan proyek-proyek strategis yang mampu menarik partisipasi swasta.
Menurut dia, Danantara memiliki peran penting untuk membuka peluang investasi sekaligus meningkatkan kepercayaan sektor swasta agar bersedia berinvestasi bersama.
“Saya berharap Danantara ini bisa menjadi lokomotif buat pertumbuhan ke depan. Dana Danantara ini akan memainkan peran yang sangat penting untuk bisa membuka unlock project-project, kemudian beri private sector itu juga kesempatan dan confidence untuk melakukan investasi bersama,” kata Destry.