Bos BI Sebut Gejolak MSCI Hanya Sementara, Investor Asing Masih Minati RI

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
29/10/2026, 19.32 WIB

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mewacanakan penurunan status pasar Indonesia menjadi standalone market bersifat jangka pendek atau sementara. Investor asing dinilai masih memandang Indonesia sebagai negara dengan potensi ekonomi yang besar.

Destry menuturkan, Indonesia tetap menarik bagi investor jangka panjang di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, ia mengakui masih ada sejumlah persoalan yang perlu dibenahi, terutama terkait transparansi, tata kelola, dan regulasi pasar modal.

“MSCI itu mungkin kalau saya melihatnya ini jangka pendek. Jadi ini shock, semua shock kan gitu, Pak,” kata Destry dalam acara Rapimnas Kadin Indonesia 2026, di Jakarta, Kamis (29/10).

Ia menyebut, dunia usaha juga melihat prospek investasi jangka panjang Indonesia masih cukup kuat. Menurut Destry, persoalan MSCI seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pembenahan pasar modal. Ia menilai tuntutan investor terhadap transparansi dan tata kelola perlu dijawab melalui perbaikan yang konkret.

“MSCI kenapa akhirnya terjadi seperti sekarang, ya berarti memang mungkin mari ayo kita perbaiki bersama transparansi, governance, yang sekarang sebenarnya udah dijalani, gitu kan. Cuma kan memang mungkin mereka maunya cepat gitu, sedangkan buat kita susah gitu untuk secepat itu,” kata dia.

Destry menilai perbaikan tata kelola dan regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan investor asing. Ia menyebut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan sejumlah perubahan untuk menjawab berbagai persoalan tersebut.

Ia berharap, setelah persoalan yang menjadi perhatian investor ditangani, minat investor terhadap pasar keuangan Indonesia dapat kembali menguat.

“Jadi tinggal masalah yang nanti kembali masalah governance, regulasi, dan sebagainya yang sama-sama kita perbaiki tentu ini juga akan bisa lebih banyak meng-invite nanti investor jangka panjang,” kata Destry.

Destry meyakini, pandangan investor asing terhadap Indonesia masih relatif positif. Dalam kesempatan yang sama, ia menceritakan pertemuannya dengan seorang pimpinan global bank asing yang memiliki eksposur investasi besar di Indonesia maupun pasar global.

Para investor tersebut, menurut dia, menilai Indonesia masih menjadi salah satu tujuan investasi yang menarik di tengah berbagai risiko di negara lain. Destry mencontohkan pasar Amerika Serikat (AS) yang menghadapi risiko akibat tingginya valuasi saham, terutama pada sektor teknologi yang terdorong perkembangan akal imitasi (AI). Sedangkan sejumlah negara Eropa menghadapi persoalan utang dan defisit anggaran.

“Nah jadi buat mereka yang aman memang masih di Asia. Nah tapi Asianya di mana? Dia prefer di Indonesia,” kata Destry.

Di sisi lain, Destry menegaskan bahwa potensi ekonomi Indonesia perlu diimbangi dengan perbaikan tata kelola agar dapat menarik lebih banyak investasi jangka panjang. Ia juga menyoroti valuasi saham Indonesia yang dinilai sudah murah. 

“Jadi teman saya analis di equity sampai bilang, ‘Masa sih sekarang harganya tuh kembali ke level tahun 1993?’ Begitu kan, Pak. Dengan PE ratio cuma 7. Padahal untuk negara Indonesia yang sebegininya gitu, itu udah enggak masuk akal,” katanya.

Destry juga memastikan, BI bersama otoritas terkait terus berupaya menjaga kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia menyebut Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga telah menggelar rapat untuk membahas kondisi tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman