Rupiah Dibuka Menguat Tipis 18.133 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Pasar Saham

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/kye
Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Jumat (16/10/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pagi melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
30/10/2026, 09.36 WIB

Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis pada Jumat (30/10) pagi. Melansir data spot Bloomberg, rupiah masih tertahan di atas 18.000, mata uang garuda dibuka di angka 18.133 per dolar AS. 

Nilai tukar rupiah pagi ini menguat 4 poin atau sekitar 0,02% dari penutupan Kamis (29/10). 

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai rupiah masih tertekan oleh harga minyak dunia yang kembali naik. Harga minyak jenis WTI disebutnya mencapai level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Dari faktor dalam negeri, sentimen di pasar domestik juga dinilai masih membebani mata uang garuda.

“Sentimen risk off dan net sell asing di pasar domestik juga masih membebani rupiah,” kata Lukman, saat dihubungi, Jumat (30/10).

Lukman memperirakan, pergerakan rupiah hari ini fluktuatif di kisaran 18.11 hingga 18.200 per dolar AS. Mengacu pada data spot Bloomberg, pada pukul 09.13 WIB rupiah berada di angka 18.122, menguat 11 pooin atau 0,06% dari pembukaan pagi tadi.

Sebelumnya, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri Hashim Djojohadikusumo menyebut nilai tukar rupiah berpotensi merosot hingga 22.000 per dolar AS akibat gejolak yang ditimbulkan setelah MSCI membuka opsi menurunkan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti pun telah merespons ucapan Hashim tersebut. Destry memastikan bank sentral terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

“Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif yang oke, dibandingkan dengan peer group kita,” kata Destry kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/10).  

Selain bergantung dari supply dan demand, pergerakan rupiah juga disebutnya bergantung pada persepsi. Ia mencontohkan kebijakan global yang mempengaruhi nilai tukar rupiah, salah satunya keputusan bank sentral AS, The Fed. 

“Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi Di global, Amerika gak naikkan suku bunga The Fed, Dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang di luar kontrol dari kita,” katanya.  

Di sisi lain, Destry menegaskan komitmen BI untuk menjaga stabilitas agar  terciptanya iklim ekonomi yang kondusif.  

“Untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan,” kata dia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman