Meski bertransaksi dengan rupiah, ekonomi masyarakat desa tetap terpengaruh gejolak Dolar melalui harga impor dan minyak yang mendorong biaya hidup dan pangan.
Melonjaknya harga kedelai akibat nilai tukar rupiah yang melemah membuat harga produk keripik tempe skala rumahan ikut naik Rp 5.000 dari sebelumnya Rp 75 ribu per kg menjadi Rp 80 ribu per kg.
Pelemahan rupiah meningkatkan biaya produksi dan ancaman ketahanan pangan di desa, di mana penguatan koperasi menjadi solusi krusial untuk membangun kemandirian ekonomi lokal.
BI menilai, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi dinamika global dan terjadi pada mayoritas mata uang negara berkembang.
Analisis ekonomi Indonesia mengungkap dilema di balik pencapaian, dari rupiah yang melemah hingga dominasi belanja pemerintah yang menyempitkan ruang swasta.
Rupiah kembali bergerak menguat 32 poin atau berkisar 0,23% dengan berada di level 16.897 pada pembukaan perdagangan Kamis (22/1) setelah BI Rate atau suku bunga acuan yang dipertahankan di 4,75%.