[Foto] Kompos Keliling, Terobosan Baru Kurangi Sampah dari Rumah

Katadata/Fauza Syahputra
Penulis: Fauza Syahputra
Editor: Yuliawati
11/7/2026, 10.21 WIB

"Komling-komling" sahut suara petugas ketika mengendarai gerobak sampah listrik untuk mengambil sisa makanan dari warga di kawasan RT 11/RW 07, Gandaria Utara, Jakarta Selatan.

Komling merupakan singkatan dari Kompos Keliling, program pengolahan sampah organik yang diinisiasi oleh Imam Basori selaku ketua RT di lingkungan ini.

Program tersebut dijalankan melalui sistem jemput bola dengan mendatangi setiap rumah warga untuk mengumpulkan sampah organik mulai dari sisa makanan, sayuran hingga kulit buah.

Setiap harinya melalui Komling ini terkumpul sampah organik sekitar lima hingga 10 kilogram. Sampah tersebut selanjutnya didaur ulang menjadi pupuk kompos dengan menggunakan mesin pencacah berkapasitas 2,5 liter.

Imam menyebutkan pupuk tersebut digunakan untuk menyuburkan tanah dari tanaman yang berada di lingkungannya. "Saya juga sudah siapkan tanaman sayur untuk warga sehingga mereka termotivasi untuk memilah sampah," ujarnya kepada Katadata.co.id, Rabu (8/7). 

Dirinya juga menjelaskan bahwa tujuan dari Komling yakni untuk mengurangi kiriman sampah ke tempat pembuangan akhir atau TPA. "Jadi harus memutus mata rantai (sampah) dari hulunya dulu, tingkat terendah ya dari RT dan RW," jelasnya.

Sebelumnya Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan mulai Agustus 2026 Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantargebang hanya akan menerima sampah residu.

Imam juga menuturkan program tersebut sebagai bagian dari edukasi kepada warga tentang pemilahan sampah. Ia menyebut saat ini warga belum memahami jenis sampah.

"Masyarakat hanya tahu kalau sampah itu sama semua dan saat kami berkunjung (Komling) ternyata mereka mencampur sampah plastik, logam dan kertas," katanya.

Seperti yang diketahui sampah terbagi menjadi empat jenis yakni pertama sampah organik yang berasal dari limbah sisa makhluk hidup baik hewan, manusia dan tumbuhan. Kedua sampah anorganik berupa sampah dari material logam, plastik dan kaca.

Kemudian sampah dari bahan berbahaya dan beracun atau B3 seperti baterai bekas, lampu neon, cat, hingga peralatan medis. Terakhir sampah residu yakni sampah yang tidak bisa didaur ulang dan terurai berupa popok bekas, kemasan plastik, botol hingga bahan kimia.

Selain melalui program Komling, di kawasan RT 11/RW 07, Gandaria Utara, juga terdapat mesin Smart Geprek yang digunakan untuk memadatkan sampah botol plastik dan kaleng minuman bekas.

Sampah tersebut merupakan limbah bekas yang dikumpulkan dari warga. Sampah ini kemudian disetorkan ke bank sampah dan keuntungannya akan digunakan untuk dana operasional bersama. "Bagi saya selaku Ketua RT, dana ini dari warga, oleh warga dan untuk warga," tutupnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Fauza Syahputra