Melampaui Kartini: Dari Akses ke Partisipasi Ekonomi

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Nuri Taufiq
28/4/2026, 08.05 WIB

Beberapa hari setelah peringatan Hari Kartini berlalu, refleksi yang lebih mendalam justru menjadi semakin relevan. Pertanyaan yang patut diajukan bukan lagi sekadar bagaimana kita memperingatinya, tetapi sejauh mana semangat emansipasi telah benar-benar terintegrasi dalam sistem sosial dan ekonomi kita. Dalam konteks ini, Kartini tidak cukup dimaknai sebagai symbolic commemoration, melainkan sebagai bagian dari ongoing agenda pembangunan yang menuntut capaian nyata dan terukur.

Dalam kerangka pembangunan modern, keberhasilan emansipasi tidak hanya berhenti pada perluasan akses, tetapi juga pada kualitas outcomes yang dihasilkan. Oleh karena itu, capaian perempuan Indonesia hari ini perlu dibaca melalui pendekatan berbasis data yang tidak hanya deskriptif, tetapi juga analitis dan berorientasi kebijakan.

Jika kita menengok data, terdapat alasan kuat untuk bersikap optimistis. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah perempuan Indonesia meningkat dari 8,07 tahun pada 2020 menjadi 8,79 tahun pada 2025. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan yang signifikan dalam human capital formation. Pendidikan dalam hal ini tidak hanya menjadi instrumen mobilitas sosial, tetapi juga fondasi utama dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja.

Di balik angka tersebut, terdapat transformasi sosial yang lebih luas. Jutaan perempuan kini memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan formal. Hal ini menciptakan expanded opportunities yang memungkinkan perempuan untuk berpartisipasi lebih aktif dalam berbagai sektor pembangunan. Dalam perspektif ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia perempuan merupakan bentuk investasi jangka panjang yang memberikan returns tidak hanya pada individu, tetapi juga pada perekonomian nasional.

Apa yang dahulu diperjuangkan Kartini kini telah berkembang menjadi realitas yang semakin inklusif. Perempuan Indonesia tidak hanya memperoleh akses terhadap pendidikan, tetapi juga menunjukkan kapasitas yang kuat dalam berbagai bidang. Mereka hadir sebagai tenaga profesional, akademisi, wirausahawan, hingga pemimpin di berbagai sektor strategis. Ini merupakan indikasi bahwa proses pemberdayaan telah bergerak dari tahap akses menuju tahap aktualisasi.

Namun demikian, kemajuan ini juga membuka ruang refleksi yang lebih substansial. Pertanyaan utama saat ini bukan lagi soal akses ke pendidikan, melainkan bagaimana memastikan bahwa capaian tersebut dapat terkonversi menjadi economic participation yang setara dan berkualitas.

Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam pasar kerja terus mengalami peningkatan. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional mencatat bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan pada Agustus 2025 sebesar 56,63%. Angka ini mencerminkan peningkatan female labor force participation dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jika dibandingkan dengan laki-laki yang berada pada kisaran 84,4%, terlihat adanya participation gap yang masih cukup lebar.

Kesenjangan ini memberikan sinyal adanya faktor struktural yang memengaruhi keterlibatan perempuan dalam pasar kerja. Dengan kata lain, tantangan yang dihadapi tidak lagi berkaitan dengan kapasitas individu, melainkan pada keberadaan structural barriers yang membatasi akses terhadap peluang ekonomi.

Menariknya, dari sisi pendidikan, kesenjangan antara laki-laki dan perempuan semakin mengecil. Selisih rata-rata lama sekolah kini hanya sekitar 0,56 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa dari perspektif human capital endowment, perempuan Indonesia telah berada pada posisi yang semakin kompetitif. Bahkan, dalam beberapa kelompok tertentu, capaian perempuan telah melampaui laki-laki.

Kondisi ini mencerminkan bahwa Indonesia sedang berada dalam fase transisi penting, yaitu pergeseran dari perluasan akses menuju optimalisasi peran. Tantangan kebijakan saat ini adalah memastikan adanya keterkaitan yang kuat antara peningkatan kualitas pendidikan dengan peluang ekonomi yang tersedia, atau dalam istilah pembangunan dikenal sebagai linkage between supply and demand di pasar tenaga kerja.

Dari sisi struktur ketenagakerjaan, sekitar 39,90% pekerja pada 2025 adalah perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa perempuan telah menjadi bagian penting dalam struktur labor market di  Indonesia. Dengan komposisi penduduk yang relatif seimbang, peningkatan partisipasi perempuan ke depan akan menjadi salah satu key driver dalam pertumbuhan ekonomi.

Lebih jauh, keterlibatan perempuan dalam ekonomi juga memiliki dampak yang lebih luas pada kesejahteraan rumah tangga. Berbagai studi menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan perempuan cenderung diikuti oleh peningkatan investasi pada pendidikan dan kesehatan keluarga. Hal ini menciptakan multiplier effect yang memperkuat kualitas sumber daya manusia secara keseluruhan.

Dalam konteks global, peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi sering dikaitkan dengan pertumbuhan yang lebih inklusif. Perempuan bukan hanya bagian dari tenaga kerja, tetapi juga agen perubahan yang mendorong inovasi, memperkaya perspektif, dan memperkuat ketahanan ekonomi. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan tidak hanya merupakan agenda sosial, tetapi juga strategi ekonomi yang rasional.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, terdapat beberapa area strategis yang perlu diperkuat.

Pertama, penguatan care economy. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan memiliki peran dominan dalam pekerjaan domestik dan pengasuhan, yang sebagian besar bersifat unpaid work. Meskipun tidak tercatat dalam indikator ekonomi formal, kontribusi ini sangat penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan.

Pendekatan kebijakan yang lebih progresif mulai mengarah pada pengakuan terhadap sektor ini. Penyediaan layanan penitipan anak, penerapan flexible working arrangement, serta kebijakan cuti pengasuhan yang lebih inklusif merupakan langkah konkret untuk mengurangi beban ganda yang sering dihadapi perempuan.

Kedua, perluasan akses ke sektor bernilai tambah tinggi atau high value-added sectors. Dengan meningkatnya tingkat pendidikan, perempuan memiliki peluang besar untuk masuk ke sektor strategis seperti teknologi, keuangan, dan industri kreatif. Namun, transisi ke sektor ini membutuhkan dukungan dalam bentuk peningkatan keterampilan melalui program upskilling dan reskilling.

Selain itu, peningkatan digital literacy juga menjadi kunci agar perempuan dapat beradaptasi dengan perubahan struktur ekonomi yang semakin berbasis teknologi. Semakin besar keterlibatan perempuan di sektor ini, semakin kuat kontribusinya terhadap transformasi ekonomi Indonesia.

Ketiga, penguatan ekosistem pasar kerja yang inklusif (inclusive labor market ecosystem). Hal ini mencakup praktik pengupahan yang adil, sistem promosi berbasis kinerja atau merit-based system, serta peningkatan representasi perempuan dalam posisi kepemimpinan.

Lingkungan kerja yang inklusif tidak hanya memberikan manfaat bagi perempuan, tetapi juga bagi organisasi secara keseluruhan. Berbagai studi menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi competitive advantage yang meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan kinerja organisasi.

Dari perspektif makro, peningkatan partisipasi perempuan akan memperkuat labor supply, meningkatkan produktivitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. Dengan kata lain, pemberdayaan perempuan merupakan bagian integral dari strategi pembangunan nasional.

Refleksi pasca-Hari Kartini ini seharusnya membawa kita pada pemahaman bahwa perjuangan telah memasuki fase baru. Jika pada masa lalu fokusnya adalah membuka akses pendidikan, maka saat ini fokusnya adalah memastikan tercapainya equitable outcomes dalam bidang ekonomi.

Melanjutkan semangat Kartini hari ini berarti memastikan bahwa setiap capaian pendidikan menjadi jembatan menuju kesempatan ekonomi yang setara. Dengan pendekatan evidence-based policy dan kolaborasi yang kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak hanya memperkecil kesenjangan, tetapi juga mengakselerasi pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Ketika perempuan maju, ekonomi tidak hanya tumbuh, tetapi juga menjadi lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Di situlah semangat Kartini menemukan relevansinya yang paling nyata, bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai arah strategis dalam membangun masa depan bangsa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Nuri Taufiq
Analis Data di Badan Pusat Statistik RI

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.