AI dan Kesehatan Mental

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Djoko Budiyanto Setyohadi
22/5/2026, 06.05 WIB

Setiap malam, jutaan anak muda membuka layar bukan untuk menghubungi orang lain melainkan untuk berbicara dengan mesin. Mereka mencurahkan perasaannya kepada chatbot AI: berbagi kesepian, kecemasan, dan keputusasaan kepada pendamping digital yang selalu ada dan tidak pernah menghakimi. 

Di Indonesia, gejalanya tidak berbeda. Indonesia AI Report 2025 mencatat 69% pengguna AI di kota-kota besar berinteraksi dengan chatbot lebih dari tiga kali dalam sepekan.

Angka itu terlihat biasa  sampai dibaca bersama temuan lain. Studi Robinson (2025) yang melibatkan 2.247 anak muda dari delapan negara menemukan bahwa tiga dari empat anak muda Indonesia pernah mengalami quarter-life crisis angka tertinggi di antara semua negara yang diteliti, termasuk India, Brasil, dan Turki. 

Yang lebih penting dari angkanya adalah karakternya: tiga emosi yang paling dominan dalam krisis anak muda Indonesia adalah kebingungan dan ketidakpastian (29,8%), kecemasan (30,7%), dan evaluasi diri negatif (28,8%). Ini adalah profil orang yang kebingungan dan bisa jadi tersesat. 

Dan AI, dengan seluruh kemampuannya merangkai kata, adalah mesin yang paling mahir berpura-pura punya jawaban untuk pertanyaan yang sebenarnya tidak bisa dijawab oleh siapa pun kecuali diri sendiri.

Mesin yang Selalu Menjawab

AI adalah mesin perangkai kata. Cara kerjanya sederhana: membaca miliaran kalimat manusia, lalu merangkainya kembali sesuai pola pertanyaan yang masuk. 

Ketika seseorang mengetikkan “aku merasa sendirian,” AI tidak merasakan apa pun. Ia hanya mengenali pola  dan merespons dengan kata-kata yang secara statistik paling sering mengikuti kalimat seperti itu. Itulah yang membuatnya berbahaya sekaligus menarik.

AI selalu menjawab. Tidak pernah lelah. Tidak pernah menghakimi. Tidak pernah meminta giliran bicara. Bagi 15,5 juta remaja Indonesia yang mengalami masalah kesehatan mental (I-NAMHS, 2022) sementara hanya 2,6% dari mereka yang benar-benar mengakses layanan konseling sebuah mesin yang selalu menjawab terasa seperti berkah. 

Di Amerika Serikat, hampir separuh anak muda usia 18–25 tahun dengan kebutuhan kesehatan mental tidak mendapatkan penanganan apa pun tahun lalu. Di Indonesia, dengan keterbatasan layanan yang jauh lebih dalam, angkanya bisa lebih buruk. Berkah itu nyata  tapi ia bekerja seperti pereda nyeri: meredam gejala cukup lama hingga kita lupa bahwa lukanya belum diobati.

Survei APJII (2025) menunjukkan kontradiksi yang mengkhawatirkan: 43,7% pengguna AI di Indonesia adalah Gen Z  kelompok tertinggi di antara semua generasi  sementara indeks literasi AI mereka hanya 49,96 dari 100, masuk kategori buruk. 

Ketua APJII Muhammad Arif Angga menyatakan masalahnya secara langsung: banyak pengguna hanya bisa memakai AI, tetapi tidak bisa membedakan antara keputusan AI dan keputusan manusia (APJII, 2025).

Tanpa pemahaman tentang cara kerja AI, pengguna tidak bisa mengenali batas antara alat dan teman. Dan AI, yang dirancang untuk merespons secara personal, dengan cepat mengisi ruang itu  bukan sebagai alat, melainkan sebagai konselor, bahkan pengganti hubungan manusia.

Kekosongan yang Diisi Mesin

AI memiliki dua kelemahan yang jarang disadari penggunanya: ia rentan halusinasi, dan ia dirancang untuk terus-menerus menyenangkan bukan menantang. Kombinasi keduanya menciptakan ketergantungan yang tinggi dan tidak sehat. Mesin yang tidak pernah berkata "tidak" tidak akan pernah bisa membantu seseorang tumbuh. 

Di Amerika Serikat, kematian Adam Raine, remaja 16 tahun yang menjalin komunikasi intens dengan platform AI selama berbulan-bulan sebelum mengakhiri hidupnya  memicu gugatan hukum terhadap provider AI dan perdebatan nasional tentang tanggung jawab platform AI.  Rasanya Indonesia belum sampai di sana.

Indonesia masih meregulasi AI di level konten mengawasi apa yang dikatakan, bukan bagaimana sistem dirancang untuk berkata. Padahal sebagian besar risiko tidak lahir dari konten yang lolos sensor, melainkan dari desain sistem yang sejak awal dioptimasi untuk membuat pengguna terus kembali. 

Dari 8.700 responden yang disurvei APJII, banyak pelajar sudah menjadikan chatbot sebagai tempat curhat: bukan karena AI lebih baik dari manusia, tapi karena manusia yang seharusnya ada, tidak tersedia. Dan ketika negara tidak hadir, mesin yang mengisi kekosongan itu tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban karena kita belum punya hukum untuk melakukannya.

Masalah ini bukan tentang melarang AI. Masalahnya ada pada kekosongan yang menyebabkan AI menjadi pilihan pertama, bukan pilihan terakhir. Ada tiga yang perlu diisi bersamaan.

Pertama, kekosongan layanan. Pemerintah perlu mempercepat target 50 persen puskesmas dengan layanan kesehatan jiwa sebuah target yang diakui menghadapi tantangan besar karena 60–70 persen psikolog dan psikiater terkonsentrasi di Jakarta, bahkan ada provinsi yang hanya memiliki satu psikolog (Antara, 2024). Selama layanan hanya tersedia di kota besar, remaja akan terus memilih mesin yang selalu tersedia.

Kedua, kekosongan literasi. Generasi yang tidak bisa membedakan keputusan AI dari keputusan manusia adalah generasi yang paling rentan dimanipulasi secara emosional oleh sistem yang dirancang untuk menyenangkan, bukan untuk membantu bertumbuh. Literasi AI harus masuk kurikulum  bukan sebagai mata pelajaran teknologi, melainkan sebagai soft skill berpikir kritis.

Ketiga, kekosongan regulasi. Rancangan Perpres tentang AI yang ditargetkan terbit September 2025 hingga April 2026 masih menunggu penandatanganan di Sekretariat Negara (Komdigi, 2026). Yang lebih mengkhawatirkan: dalam draf yang sudah selesai itu, chatbot empatik tidak disebut. Ia terlalu rendah risikonya untuk diatur secara khusus  tapi terlalu dekat dengan kehidupan remaja untuk diabaikan.

Penutup

Indonesia Emas 2045 bukan hanya soal berapa banyak unicorn yang lahir atau berapa persen pertumbuhan ekonomi yang dicapai tetapi juga tentang generasi yang sehat. Tapi data bercerita sebaliknya: jutaan remaja membutuhkan layanan kesehatan mental, hanya 2,6 persen yang mengaksesnya, dan yang paling banyak menjangkau mereka justru AI.

Bukan karena AI lebih baik. Tapi karena kita belum selesai membangun hal yang jauh lebih tua dari AI: sistem yang membuat manusia merasa cukup dilihat, cukup didengar, dan cukup didampingi untuk bisa tumbuh.

Regulasi AI belum terbit. Layanan kesehatan jiwa belum merata. Literasi digital masih di bawah rata-rata. Tiga kekosongan, satu generasi, dan waktu yang terus berjalan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Djoko Budiyanto Setyohadi
Profesor di bidang Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.