Pariwisata Indonesia: Tumbuh Tinggi Saja Tidak Cukup

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Muhammad Rahmad
10/7/2026, 07.05 WIB

Ada dua cara membaca hasil pariwisata Indonesia pada paruh pertama 2026, dan keduanya sama-sama benar.

Cara pertama membuat kita bangga. Jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia tumbuh 7% sampai 8% dibandingkan tahun lalu — pertumbuhan tertinggi kedua di Asia Tenggara, hanya kalah dari Vietnam. 

Pertumbuhan itu dicapai justru ketika jumlah wisatawan ke Thailand menurun dan Malaysia hampir tidak tumbuh. Padahal Malaysia sedang menggelar kampanye besar Visit Malaysia 2026. 

Wisatawan yang memilih Indonesia juga tergolong paling banyak berbelanja: rata-rata Rp23,5 juta per orang selama berkunjung, sekitar 40% lebih tinggi daripada belanja wisatawan di Vietnam atau Malaysia.

Cara kedua seharusnya membuat kita gelisah. Dengan segala pertumbuhan itu, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia tetap berada di urutan kelima dari enam negara tujuan wisata utama ASEAN. Pada semester I-2026, Thailand menerima sekitar 16 juta wisatawan, Malaysia 13 juta, Vietnam 12,3 juta, dan Singapura 8,5 juta. Indonesia baru 7,5 juta. 

Bacalah sekali lagi urutan itu: Singapura, negara yang luasnya tidak sampai sepersepuluh Jakarta Raya, yang tidak memiliki gunung, candi, ataupun laut seindah Raja Ampat, menerima tamu lebih banyak daripada kita.

Bagi negara terbesar di Asia Tenggara — terbesar penduduknya, terluas wilayahnya, dan menurut penilaian dunia terkaya alam dan budayanya di kawasan — posisi kelima jelas bukan tempat yang sepadan. Pertanyaannya: mengapa kita bisa berada di sana, dan bagaimana keluar dari sana?

Pertumbuhan Tinggi di Atas Jumlah yang Kecil

Di sinilah kita perlu jujur pada hitung-hitungan sederhana. Pertumbuhan tinggi di atas jumlah yang kecil tetap menghasilkan jumlah yang kecil. Tumbuh 7% sampai 8% dari sekitar 15 juta wisatawan setahun berarti tambahan sedikit di atas satu juta orang. 

Sementara itu, Thailand yang sedang menurun pun masih menerima dua kali lipat tamu kita, dan Vietnam yang tumbuh 14% sampai 15% dari 21 juta wisatawan menambah tamu tiga juta orang setahun. Kalau semua berjalan seperti sekarang, jarak kita dengan para tetangga bukan menyempit, melainkan terus melebar. Apresiasi atas pertumbuhan semester pertama karena itu tidak boleh membuat kita berpuas diri.

Kabar baiknya, penyebab ketertinggalan ini bukan sesuatu yang gaib. Wisatawan dunia tidak menolak Indonesia — begitu tiba di sini, mereka justru berbelanja paling banyak. Alam dan budaya kita pun dinilai dunia terbaik kedua di ASEAN dan ke-22 di dunia. Yang menahan mereka datang adalah tiga kebijakan yang tertinggal dari negara tetangga.

Tiga Kebijakan yang Tertinggal

Pertama, urusan visa. Malaysia membebaskan wisatawan dari 158 negara dari kewajiban mengurus visa. Thailand membebaskan 93 negara, Vietnam hampir 40 negara — dan Vietnam melakukannya tanpa menunggu negara lain memberikan kemudahan serupa bagi warganya. 

Indonesia baru membebaskan belasan negara. Wisatawan dari negara selebihnya harus membayar Rp500 ribu per orang begitu mendarat. Bagi keluarga dengan empat anggota, itu berarti Rp2 juta sebelum liburan dimulai — selisih yang cukup membuat mereka memilih negara sebelah yang gratis.

Kedua, urusan penerbangan. Wisatawan tidak mungkin datang bila kursi pesawatnya tidak tersedia. Rute penerbangan langsung dari pasar-pasar yang sedang tumbuh pesat — India, Timur Tengah, Australia — menuju Indonesia masih jauh lebih sedikit daripada menuju Bangkok atau Kuala Lumpur.

Ketiga, urusan promosi. Negara-negara yang berhasil membesarkan pariwisatanya umumnya menganggarkan promosi sekitar US$8,5 untuk setiap wisatawan yang ditargetkan. Jepang memakai ukuran itu dan berhasil melipatgandakan wisatawannya dari 6 juta menjadi hampir 43 juta dalam lima belas tahun. Anggaran promosi kita masih jauh di bawah takaran tersebut.

Ada satu angka yang merangkum semuanya. Pada triwulan I-2026, jumlah orang Indonesia yang berwisata ke Vietnam tumbuh 43,9% — lebih cepat daripada pertumbuhan wisatawan dunia yang datang ke Indonesia. Warga kita sendiri lebih mudah dan lebih tertarik pergi ke Vietnam daripada dunia datang ke sini. Sulit mencari cermin yang lebih jelas dari itu.

Mengapa Harus Diputuskan Sebelum Oktober

Paruh kedua 2026 memberi Indonesia kesempatan yang jarang datang. Dua pesaing terbesar sedang melemah: Thailand menurun, Malaysia kehabisan tenaga di tengah kampanyenya sendiri. 

Permintaan wisata dunia diperkirakan tumbuh 3% sampai 4%. Musim ramai akhir tahun sudah di depan mata. Dan wisatawan dunia biasanya menentukan tujuan liburan akhir tahunnya pada September dan Oktober — sehingga kebijakan yang berlaku mulai Oktober akan mendatangkan tamu pada November dan Desember. Sedangkan kebijakan yang tertunda hingga akhir tahun baru terasa hasilnya pada 2027.

Karena itu, lima keputusan perlu diambil sebelum Oktober. Pertama, bebaskan visa tahap pertama bagi negara-negara yang wisatawannya paling banyak berbelanja dan risikonya terkendali, lalu evaluasi setelah dua belas bulan. Menurut perhitungan PKPEI, devisa yang masuk bisa berlipat puluhan kali dari penerimaan visa yang hilang. 

Kedua, mempermudah maskapai membuka rute dan menambah kursi dari India, Timur Tengah, Tiongkok, dan Australia. Ketiga, arahkan anggaran promosi ke kampanye Agustus sampai November, saat dunia sedang memilih tujuan liburannya. Keempat, padatkan kalender acara akhir tahun dan ajak jutaan pelancong yang singgah di Singapura melanjutkan perjalanan ke Indonesia. Kelima, pastikan kesan pertama yang baik: antrean imigrasi tidak lebih dari 30 menit dan destinasi di luar Bali siap menyambut tamu.

Hasilnya dapat diperiksa pada akhir tahun: 16,5 juta sampai 17 juta wisatawan, penerimaan devisa Rp385 sampai Rp432 triliun yang akan menjadi rekor tertinggi dalam sejarah. Alhasil, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun Indonesia akan naik peringkat di kawasannya sendiri dengan melampaui Singapura.

Pertumbuhan semester pertama sudah membuktikan pariwisata kita mampu berlari. Tugas semester kedua adalah membuktikan bahwa negara terbesar di Asia Tenggara tidak selamanya rela berada di urutan kelima. Modalnya sudah kita miliki sejak lama. Yang ditunggu tinggal keputusannya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Muhammad Rahmad
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.