Dalam panggung politik kekuasaan, masuk ke dalam pemerintahan selalu menuntut ongkos yang tidak murah. Ketika sebuah partai memutuskan bergabung dengan kabinet, ia memang memperoleh akses terhadap sumber daya dan otoritas kebijakan. Namun di saat yang sama, ia harus menanggung beban politik bersama (collective responsibility). Makin pekat asosiasi sebuah partai dengan pusat kekuasaan, makin besar pula risiko identitas aslinya melebur dan kehilangan taji.
Dilema ini terlihat jelas dalam pidato politik Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Peringatan 25 Tahun Partai Demokrat baru-baru ini. Di satu sisi, AHY menegaskan komitmen penuh Demokrat untuk menyukseskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Namun di sisi lain, AHY melemparkan pesan reflektif yang cukup menohok: “kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya” dan mengingatkan pentingnya “jujur pada kenyataan ekonomi rakyat” yang sedang tertekan.
Pernyataan tersebut mendadak memantik reaksi dari sesama parpol koalisi. Sebagian menilai Demokrat mulai pasang kuda-kuda untuk 2029, bahkan tuduhan main dua kaki kembali mengemuka. Sekilas, posisi AHY tampak kontradiktif. Namun dalam kalkulasi politik rasional, dinamika ini bukanlah bentuk inkonsistensi, melainkan manuver terukur yang bisa disebut sebagai “Loyalitas Berjarak”: seni mendukung pemerintah tanpa harus kehilangan identitas dan daya tawar elektoral.
Menari di Atas Tali Tipis
Posisi Demokrat hari ini ibarat berjalan di atas tali tipis. Ada dua magnet yang saling menarik: keharusan menjaga disiplin koalisi di dalam kabinet, dan kebutuhan mempertahankan kepercayaan pemilih di luar.
Jika terlalu main aman dan larut dalam narasi manis pemerintah, Demokrat terancam dipersepsikan sekadar sebagai pengikut status quo. Sebaliknya, jika terlalu sering berseberangan, loyalitasnya di kabinet akan dipertanyakan oleh mitra koalisi.
Oleh karena itu, persoalan Demokrat bukan sekadar memilih antara mendukung atau mengkritik. Persoalan utamanya adalah menentukan dosis dukungan dan jarak politik yang tepat.
Keberhasilan pemerintahan Prabowo memang akan memberikan efek limpahan positif (spillover effect) kepada seluruh partai pendukung. Namun, keuntungan politik tersebut tidak otomatis terbagi rata. Tanpa diferensiasi yang jelas, insentif elektoral terbesar akan selalu tersedot oleh partai utama kekuasaan (ruling party) seperti Gerindra atau partai dengan mesin politik mengakar seperti Golkar.
Demokrat butuh pemerintah yang berhasil, tetapi Demokrat juga butuh keunikan karakter agar pemilih punya alasan konkret untuk mencoblos mereka, bukan partai koalisi lainnya.
Ketika Jabatan Tidak Cukup
Dinamika ini sejalan dengan teori perilaku partai politik dari Kaare Strøm, yang membagi orientasi partai ke dalam tiga tujuan: office-seeking (mengejar posisi/jabatan), policy-seeking (memengaruhi kebijakan), dan vote-seeking (memaksimalkan suara pemilih).
Masuknya Demokrat ke kabinet—termasuk posisi AHY di jajaran menteri—jelas telah memuaskan dahaga office-seeking sekaligus membuka akses policy-seeking. Namun, berpuas diri di titik ini adalah jebakan. Partai tetap wajib mengonversi posisi tersebut menjadi modal suara (vote-seeking).
Pasar pemilih pro-pemerintah saat ini sudah sangat sesak. Jika Demokrat ikut melarutkan seluruh narasi politiknya, mereka akan kehilangan warna. Di sinilah penekanan AHY terhadap isu-isu kebebasan berpendapat, etika demokrasi, serta empati pada daya beli kelas menengah difungsikan sebagai alat pembeda.
Ibarat kata, Demokrat sedang mencoba menaruh telur di dua keranjang: tetap menikmati jatah di dalam rumah kekuasaan, sambil tetap memegang sekoci penyelamat berupa simpati publik jika arus politik mendadak berubah.
Siasat Menuju 2029
Kalkulasi ini menjadi makin rasional jika ditarik ke horizon Pemilu 2029. Dengan dihapusnya presidential threshold oleh Mahkamah Konstitusi secara fundamental telah mengubah struktur insentif politik. Peta koalisi masa depan menjadi jauh lebih cair dan sulit ditebak. Dalam lanskap yang dinamis ini, daya tawar (leverage) adalah segalanya.
Demokrat tidak perlu terburu-buru mengunci arah angin 2029 dari sekarang. Strategi terpenting saat ini adalah menjaga keluwesan opsi (flexibility of options). Jika pemerintahan Prabowo berkinerja impresif hingga 2029, Demokrat punya alasan kuat untuk terus berada di dalam lingkar utama. Jika terjadi pergeseran peta politik atau penurunan kepuasan publik terhadap kondisi ekonomi, Demokrat sudah memiliki posisi yang cukup berjarak untuk melakukan reposisi tanpa dicap oportunis.
Prinsip utamanya: bukan menentukan pilihan politik 2029 sejak dini, melainkan memastikan Demokrat tetap memiliki pilihan ketika 2029 tiba.
Ujian Kredibilitas
Meski secara teoritis rasional, siasat main dua kaki atau loyalitas berjarak ini menyimpan satu risiko besar: krisis kredibilitas.
Strategi ini hanya akan bekerja jika publik menangkap adanya konsistensi antara narasi dan tindakan nyata. Jika AHY berbicara mengenai empati ekonomi dan kontrol kekuasaan, tetapi Demokrat selalu menjadi “stempel karet” atas setiap kebijakan pemerintah yang tidak populer, pidato tersebut hanya akan dinilai sebagai kosmetik politik belaka.
Sebaliknya, jika kritik yang dilempar terlalu keras tanpa memperhitungkan posisi di dalam pemerintahan, mitra koalisi akan dengan cepat mencap Demokrat sebagai “duri dalam daging”.
Ruang gerak Demokrat sangatlah sempit. Terlalu dekat, identitas terkikis. Terlalu jauh, posisi di dalam kabinet kehilangan makna. Terlalu sering berubah, kredibilitas yang menjadi korban.
Pada akhirnya, Demokrat sedang melakoni sebuah paradoks politik: membutuhkan kekuasaan, tetapi tidak boleh terlihat sepenuhnya bergantung pada kekuasaan. Pengujian sejati dari strategi ini tidak akan selesai di panggung pidato. Pengujian sesungguhnya terjadi ketika pemerintah mengambil keputusan kontroversial atau ketika kebijakan eksekutif berhadapan langsung dengan aspirasi publik. Apakah Demokrat berani memberikan koreksi substantif di meja kebijakan kabinet?
Jika titik keseimbangan itu berhasil dijaga, loyalitas berjarak akan menjadi mesin pemupuk daya tawar yang efektif menuju 2029. Namun jika gagal, Demokrat berisiko mengalami kerugian ganda: tidak cukup beda untuk memikat pemilih rakyat, tetapi tidak cukup dominan di mata mitra koalisi.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.