Pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump di Amerika Serikat bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa untuk memperbaiki hubungan bilateral. Sambutan langsung dan tidak biasa dari Trump—yang menjemput dan menunggu Xi tepat saat turun dari pesawat di bandara—seolah ingin memberikan sinyal kuat mengenai pentingnya kedudukan Tiongkok dan pengaruh besar dari kedua negara adidaya tersebut di panggung dunia.
Dalam pertemuan itu, Trump mengatakan kedua negara mewakili sistem yang berbeda, tetapi ikatan antara masyarakat tetap kokoh dan kondisi bilateral berjalan dengan baik. Pernyataan ini menunjukkan ada sebuah kesadaran bahwa persaingan antarkeduanya tidak bisa menghapus hubungan kepentingan ekonomi dan sosial yang sudah terbentuk sebelumnya.
Di sisi lain, Xi Jinping juga melihat hubungan kedua negara dari sudut pandang sejarah. Xi mengatakan bahwa Trump punya visi “Make America Great Again” sebagai usaha membangun kembali kekuatan Amerika Serikat. Sementara itu, Tiongkok punya agenda “Great Rejuvenation of the Chinese Nation” atau kebangkitan besar bangsa Tiongkok.
Kedua slogan ini menunjukkan dua cerita nasional yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu mempertahankan dan memperkuat posisi negara masing-masing dalam persaingan global.
Persaingan Hegemoni
Pertemuan antara Xi dan Trump tidak menghasilkan kesepakatan besar. Hal yang terlihat justru sebatas terciptanya ruang komunikasi politik antara kedua negara di tengah perang dagang. Meskipun sempat saling membalas tarif, keduanya kini sepakat untuk memperpanjang gencatan perang dagang hingga 10 Januari 2027. Di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, persaingan kedua negara diprediksi akan terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang.
Meskipun isu krisis kepercayaan (trust issue) terhadap Amerika Serikat menguat belakangan ini akibat langkah geopolitiknya, AS masih memiliki posisi yang kuat. Kekuatan ini didukung oleh jaringan aliansi global, dominasi dolar dalam sistem keuangan internasional, serta perusahaan-perusahaan teknologi raksasa dengan jaringan luas yang menciptakan ketergantungan di berbagai negara berkembang.
Sementara itu, Tiongkok terus mengembangkan kecerdasan buatan (AI) dan robotika melalui dukungan kuat dari negara, industri berbasis Research & Development (R&D), serta perguruan tinggi sehingga inovasi mereka bergerak sangat cepat. Selain itu, Tiongkok memperluas pengaruhnya melalui investasi, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah, terutama ASEAN dan Afrika.
Melalui pendekatan ekonomi dan pembangunan, Beijing berusaha menjalin hubungan jangka panjang dengan negara-negara berkembang untuk memperluas pengaruh globalnya. Sebagai contoh, di Indonesia banyak perusahaan Tiongkok yang berinvestasi dan mendirikan kantor di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Perebutan Kepemimpinan AI
Salah satu isu terbesar dalam pertemuan antara Xi dan Trump adalah bagaimana kedua dua negara adidaya tersebut memandang perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Sebab, AI diperkirakan akan menjadi teknologi kunci yang sangat menentukan kekuatan ekonomi dan geopolitik dalam sepuluh tahun ke depan.
Amerika Serikat saat ini masih menjadi pusat perkembangan AI yang dimotori secara masif oleh perusahaan-perusahaan teknologi raksasa atau yang dikenal sebagai “Big Tech”. Namun, di internal Amerika Serikat sendiri terdapat perdebatan besar mengenai arah perkembangan AI.
Sebagian pihak memandang AI sebagai peluang untuk menciptakan lompatan ekonomi dan teknologi. Sementara itu, pihak lain mengingatkan akan risiko dari perkembangan AI yang terlalu cepat, terutama terkait masalah keamanan, ancaman PHK (kehilangan pekerjaan), dan privasi. Bahkan di beberapa negara bagian terjadi penolakan terhadap pembangunan pusat data (data center) yang dinilai boros listrik, menguras air bersih, serta menimbulkan polusi suara.
Pandangan Trump terhadap AI cenderung menekankan pentingnya kepemimpinan teknologi Amerika Serikat. Gagasannya untuk mengarahkan Artificial Intelligence menjadi “Super Intelligence” sering ia sampaikan di berbagai media dan platform Truth Social.
Bahkan dalam sebuah acara talkshow, Trump secara terbuka menelepon CEO Nvidia, Jensen Huang, meminta agar pengembangan AI tidak diperlambat supaya tidak tertinggal dari Tiongkok. Hal ini mencerminkan keinginannya agar Amerika Serikat tetap berada di garis terdepan dalam inovasi teknologi.
Sementara itu, pendekatan Xi Jinping terhadap AI lebih menekankan pada aspek pengendalian dan kemanfaatan sosial. Tiongkok memandang AI sebagai alat pembangunan yang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Xi, Tiongkok memiliki tanggung jawab dalam mengelola AI demi kebaikan bersama. Ia ingin memastikan bahwa perkembangan AI tetap berada di bawah kendali manusia sehingga dapat difungsikan untuk kepentingan publik.
Perbedaan pendekatan ini makin menegaskan perbedaan ideologi kedua negara dalam memandang filosofi teknologi. Amerika Serikat cenderung memandang AI sebagai ajang persaingan inovasi dan kepemimpinan teknologi berorientasi profit.
Sebaliknya, Tiongkok lebih berfokus mengintegrasikan AI dengan tujuan pembangunan nasional, stabilitas politik, serta pembentukan pengaruh baru di tingkat global.
Pertarungan AI antara kedua negara ini berpotensi menjadi salah satu faktor utama yang menentukan siapa pemilik pengaruh terbesar dalam dekade mendatang. Negara yang berhasil menguasai AI tidak hanya akan unggul secara ekonomi, tetapi juga berpeluang besar menetapkan standar teknologi global.
Taiwan
Selain teknologi, Taiwan tetap menjadi isu paling sensitif dalam hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok. Xi Jinping kembali menegaskan bahwa isu Taiwan membutuhkan pendekatan yang bijaksana. Beijing menganggap Taiwan sebagai bagian dari kepentingan inti nasionalnya yang tidak dapat di intervensi oleh pihak manapun.
Di bawah kepemimpinan Trump, pendekatan Amerika Serikat terhadap Taiwan terlihat lebih hati-hati dibanding sebelumnya. Washington memang menunjukkan masih berkomitmen pada Taiwan, tetapi mereka juga harus mempertimbangkan risiko meningkatnya ketegangan dengan Beijing. Sikap yang lebih berhati-hati ini mengindikasikan bahwa konflik Taiwan bisa membawa dampak besar bagi ekonomi dan keamanan kedua negara.
Bagi Trump, hubungan dengan Tiongkok tidak lepas dari kalkulasi politik domestik. Kebijakan luar negeri, isu perdagangan, teknologi, dan keamanan, menjadi bagian dari upaya membangun citra kepemimpinan menjelang agenda pemilu nasional november yang akan datang.
Kesimpulan
Pertemuan Xi dan Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok tidak sedang menuju hubungan yang harmonis, tetapi juga berusaha menghindari konflik terbuka. Pertemuan diplomasi ini mencerminkan persaingan strategis jangka panjang antara dua model pembangunan yang berbeda dalam menentukan arah pemanfaatan teknologi serta pemilik pengaruh terbesar dalam tatanan politik global.
Bagi negara-negara seperti Indonesia dan ASEAN, pertemuan kedua negara ini harus dilihat sebagai peluang dan tantangan. ASEAN menjadi kawasan strategis karena berada di tengah kepentingan Amerika Serikat dan Tiongkok.
Kemampuan menjaga keseimbangan hubungan diplomatik dan menarik investasi sangat penting, tetapi harus diikuti transfer teknologi. Jangan hanya dijadikan pasar konsumen atau sekadar penyedia bahan baku mentah bagi industri mereka.
Indonesia dan ASEAN harus mampu memanfaatkan kerja sama ini untuk membangun kemandirian teknologi serta meningkatkan daya saing di tingkat global.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.