5G Jadi Fondasi Percepatan Adopsi AI di Indonesia

Ericsson
Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia
1/4/2026, 15.40 WIB

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Seiring dengan tren tersebut, jaringan 5G dinilai akan menjadi fondasi penting untuk mendukung berbagai perangkat dan aplikasi berbasis AI yang semakin berkembang.

Laporan terbaru Ericsson ConsumerLab 2026 menunjukkan bahwa meningkatnya adopsi AI turut mengubah pola penggunaan data seluler. Pengguna kini tidak lagi hanya mengonsumsi konten secara pasif, tetapi semakin aktif menciptakan konten interaktif. Perubahan ini menyebabkan peningkatan kebutuhan terhadap kapasitas uplink, sementara kecepatan respons AI juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kepuasan pengguna terhadap jaringan.

Pada 2030, jumlah pengguna yang memanfaatkan AI di luar smartphone dan laptop diperkirakan meningkat dua kali lipat, mencakup perangkat seperti smartwatch, kacamata pintar, hingga asisten pada kendaraan pintar.

“Peralihan menuju penggunaan AI di berbagai perangkat membutuhkan performa jaringan yang konsisten di mana pun. Hal ini menuntut operator untuk menghadirkan optimasi jaringan yang mengutamakan kebutuhan AI. Teknologi 5G serta arsitektur yang siap untuk masa depan menjadi krusial untuk mengakomodasi pertumbuhan data dan keperluan uplink yang berkembang pesat," ujar Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia Ronni Nurmal dalam pernyataan resminya, Rabu (1/4/2026).

Data terakhir menunjukkan jumlah pelanggan 5G diperkirakan mencapai 2,9 miliar pada akhir 2025. Angka tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031. Dalam periode tersebut, lebih dari separuh penggunaan data seluler diproyeksikan akan didominasi jaringan 5G.

Di Indonesia sendiri, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan cakupan jaringan 5G mencapai 32 persen pada 2030.

Ericsson Mobility Report juga mencatat, konsumsi data global mencapai rata-rata 21 GB per smartphone per bulan pada 2025. Angka ini diperkirakan terus meningkat seiring tingginya permintaan terhadap layanan video dan aplikasi berbasis AI. Di kawasan Asia Tenggara dan Oceania, konsumsi data diproyeksikan mencapai 42 GB per bulan per smartphone pada 2031.

Dalam perkembangan teknologi jaringan, Ericsson menyoroti konsep “Network for AI dan AI for Network”. Artinya, jaringan harus mampu mendukung berbagai aplikasi AI yang membutuhkan interaksi real-time, sementara AI juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kecerdasan dan efisiensi pengelolaan jaringan itu sendiri.

Saat ini, setidaknya 20 persen orang Indonesia telah menggunakan AI multimodal setiap hari. AI multimodal sendiri merupakan AI yang mampu menggabungkan teks, suara, dan gambar.

Angka tersebut diprediksi meningkat menjadi 41 persen pada 2030. Selain itu, penggunaan AI juga semakin meluas ke berbagai perangkat, dengan setidaknya 33 persen pengguna diperkirakan akan mengakses AI melalui lebih dari satu perangkat dalam lima tahun mendatang.

Bahkan, sekitar 46 persen penggunaan AI diproyeksikan terjadi di luar rumah atau gedung, menegaskan pentingnya konektivitas yang stabil di mana saja.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, jaringan 5G dipandang tidak hanya mendukung pengalaman digital yang lebih imersif seperti AR/VR dan analitik video real-time, tetapi juga menjadi infrastruktur strategis bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia serta fondasi menuju pengembangan jaringan 6G di masa depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.