TEDxPadjadjaran University 2026 sukses diselenggarakan di Universitas Padjadjaran Kampus Dipatiukur, Sabtu (4/7). Memasuki penyelenggaraan tahun ketiganya, TEDxPadjadjaran University menghadirkan enam TED Talks yang menginspirasi lebih dari 100 Ink Whisperers (sebutan bagi para peserta TEDxPadjadjaran University), key opinion leaders (KOL), dan media partner.

Mengusung tema besar “Manuscript of Transformation” dengan tagline “A Library Full of Evidence to Produce Objectivity”, TEDxPadjadjaran University 2026 mengajak audiens membangun cara berpikir yang lebih kritis melalui berbagai perspektif berbasis bukti.

Tema “Manuscript of Transformation” lahir dari keresahan terhadap fenomena ketika opini semakin mudah disamakan dengan fakta, sementara bukti dan kepakaran justru semakin dipertanyakan.

Melalui tema tersebut, setiap TED Talk diposisikan sebagai sebuah manuskrip atau naskah yang memuat gagasan, pengalaman, argumen, serta bukti yang dapat dipelajari, dipertanyakan, dan direfleksikan. Keenam manuskrip tersebut kemudian membentuk sebuah library metaforis yang menghadirkan beragam perspektif untuk membantu audiens menghasilkan pemahaman yang lebih objektif di tengah derasnya arus informasi.

“Kami percaya bahwa transformasi tidak terjadi ketika seseorang diminta untuk mempercayai sesuatu, melainkan ketika mereka diberi ruang untuk mempertanyakan asumsi, mengevaluasi evidence, dan membangun pemahamannya sendiri,” ujar Licensee TEDxPadjadjaran University 2026, Rama dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7).

Selain TED Talks, tahun ini dihadirkan juga interactive exhibition bagi para Ink Whisperers untuk mengenal lebih jauh tema “Manuscript of Transformation”  yang dibawakan oleh TEDxPadjadjaran University 2026.

Sama seperti tahun sebelumnya, rangkaian TED Talks dibuka oleh dua pembicara lokal, yaitu Shahira Danish, mahasiswa Universitas Padjadjaran, serta Rika Subana, alumni Universitas Padjadjaran.

Melalui “The Richest Place on Earth”, Shahira Danish mengajak audiens merefleksikan bagaimana kuburan menjadi “tempat terkaya di dunia” karena menyimpan begitu banyak ide, dan potensi yang tidak pernah diwujudkan semasa hidup. Gagasan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk menghadirkan perubahan melalui tindakan nyata sebelum seluruh potensinya terkubur bersama waktu.

Sementara itu, melalui “Rumah Berantakan”, Rika Subana mengangkat kisah tentang budaya bertetangga sebagai refleksi atas bagaimana ruang privat kerap dipengaruhi oleh ekspektasi sosial serta penilaian lingkungan sekitar. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, ia mengajak audiens mempertanyakan kembali batas antara ruang pribadi dan tekanan sosial yang selama ini dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Rangkaian TED Talks kemudian dilanjutkan oleh empat pembicara yang menghadirkan perspektif dari berbagai bidang. Melalui “Tarot”, Pesulap Merah mengupas asal-usul kartu tarot yang awalnya merupakan kartu permainan di Eropa sebelum berkembang menjadi media ramalan.

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang membuktikan kemampuan tarot dalam meramalkan masa depan. Pesulap Merah juga memaparkan bagaimana barnum effect, confirmation bias, dan cold reading menjadi mekanisme psikologis yang membuat banyak orang mempercayai ramalan tersebut.

Lewat “Sesar Lembang”, Kiki Nasution mengajak audiens mempertanyakan berbagai fenomena yang telah lama dinormalisasi oleh masyarakat. Ia menyoroti bagaimana ancaman yang nyata justru sering kali dianggap biasa karena telah terlalu lama hadir di sekitar kita, sehingga kewaspadaan perlahan berubah menjadi sikap apatis terhadap risiko yang sebenarnya.

Melalui “Silent Truth”, Prasanti Widyasih membahas fenomena menurunnya kepercayaan publik terhadap kepakaran di tengah derasnya arus informasi. Ia menyoroti bagaimana masyarakat kini semakin mudah mempercayai informasi yang sejalan dengan keyakinannya dibandingkan penjelasan yang didasarkan pada evidence dan keahlian, sehingga perlahan melahirkan krisis terhadap otoritas ilmu pengetahuan.

Sementara itu, melalui “Unheard Rights”, M. Atiatul Muqtadir mengangkat gagasan bahwa menyampaikan pendapat merupakan hak setiap individu, bukan sebuah privilese. Ia menyoroti bagaimana perhatian publik sering kali bergeser dari substansi isu menuju siapa yang menyampaikan isu tersebut, sehingga diskusi mengenai persoalan yang sebenarnya justru terabaikan.

Melalui perspektif tersebut, ia mengajak audiens untuk kembali menempatkan fokus pada gagasan dan isu yang diperjuangkan, bukan semata-mata pada identitas pembicaranya.

TEDxPadjadjaran University 2026 tidak hanya menjadi ruang bagi para Ink Whisperers untuk memperoleh perspektif baru melalui rangkaian TED Talks. Melalui Networking Session, peserta berkesempatan berdiskusi secara langsung dengan para speakers, bertukar ide, pandangan, dan pengalaman yang memperkaya proses belajar di luar sesi utama.

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan band serta interactive performance yang dibawakan oleh Teater Djati sejak pembukaan acara, menghadirkan pengalaman yang lebih imersif bagi seluruh peserta.

Melalui “Manuscript of Transformation”, TEDxPadjadjaran University 2026 berharap setiap gagasan yang disampaikan tidak berhenti sebagai presentasi di atas panggung, melainkan terus hidup sebagai sebuah manuskrip yang menginspirasi refleksi, diskusi, dan perubahan cara berpikir.

Keenam TED Talks tersebut membentuk sebuah library yang dipenuhi evidence, dan beragam perspektif, sehingga setiap Ink Whisperers dapat membawa pulang bukan hanya wawasan baru, tetapi juga keberanian untuk mengevaluasi informasi secara kritis, dan membangun pemahaman yang lebih objektif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.