Ajang olahraga tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga mampu mendorong aktivitas ekonomi di daerah penyelenggara. Mulai dari sektor akomodasi, kuliner, transportasi hingga pelaku usaha lokal merasakan manfaat dari meningkatnya mobilitas peserta dan wisatawan selama penyelenggaraan event.

Hal tersebut disampaikan Vice President Finance & Business Development Katadata Indonesia, Ivan Triyogo Priambodo, saat memaparkan hasil kajian dampak ekonomi sejumlah ajang lari nasional dalam sesi The Live Signal: Sports Events as Unignorable Brand Moment pada Asia Pacific Media Forum (APMF) 2026 yang berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Bali, 5–7 Agustus.

Ivan memaparkan hasil kajian terhadap Mangkunegaran Run yang menunjukkan total dampak ekonomi meningkat sekitar 119,8 persen, dari sekitar Rp40 miliar pada 2025 menjadi Rp87,9 miliar pada 2026. Namun, ia mengingatkan bahwa kenaikan tersebut perlu dipahami secara utuh karena cakupan pengukuran pada 2026 juga memasukkan belanja penyelenggara, berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya menghitung pengeluaran pelari dan pengunjung.

"Bukti yang layak untuk pengambilan keputusan bukan hanya soal angka yang menarik. Ia juga membutuhkan transparansi tentang bagaimana angka itu dihitung," ujar Ivan, Rabu (5/8/26).

Selain nilai ekonomi secara keseluruhan, kajian tersebut juga mencatat rata-rata pendapatan harian pelaku usaha lokal meningkat 104,1 persen, sementara lalu lintas pelanggan naik 90,8 persen selama penyelenggaraan acara.

Kajian itu turut menyoroti dampak lingkungan dari penyelenggaraan event. Emisi karbon yang berasal dari operasional acara dan perjalanan peserta diperkirakan mencapai sekitar 6.740 ton CO2 ekuivalen. Melalui inisiatif #MoveForElephants bersama Katadata Green, PermataBank, dan sejumlah mitra, kontribusi dari 7.750 pelari dikonversikan menjadi dukungan setara penanaman 5.000 pohon untuk membantu pemulihan habitat gajah Sumatra.

Selain Mangkunegaran Run, Ivan juga memaparkan hasil kajian terhadap Maybank Marathon 2025. Berdasarkan kajian tersebut, ajang lari itu menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp225,5 miliar atau setara 0,17 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) sektor-sektor terkait.

Kajian juga menunjukkan pelaku usaha di sekitar rute lomba mengalami rata-rata kenaikan pendapatan sebesar 56 persen dan peningkatan jumlah pelanggan sebesar 43 persen. Bahkan, sekitar dua dari sepuluh pelaku usaha pariwisata menambah jumlah tenaga kerja selama penyelenggaraan acara.

Menurut Ivan, manfaat ekonomi tersebut tidak hanya terjadi pada hari perlombaan. Banyak peserta datang lebih awal dan memperpanjang masa tinggal setelah lomba usai sehingga mendorong permintaan terhadap hotel, restoran, transportasi, hingga destinasi wisata.

"Ajang lari bukan hanya beberapa jam kompetisi. Ia menjadi pusat dari perjalanan peserta yang lebih panjang, mulai dari persiapan dan perjalanan, hari lomba, pemulihan, hingga berbagi cerita dan kenangan," katanya.

Ivan menilai besarnya dampak ekonomi sebuah event olahraga perlu didukung oleh pengukuran yang kredibel agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bagi penyelenggara, pemerintah daerah, maupun sponsor. Menurut Ivan, manfaat sebuah event tidak hanya diukur dari jumlah peserta atau kemeriahan penyelenggaraan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap perekonomian lokal, masyarakat, dan lingkungan.

Ia menambahkan, bukti yang terukur juga menjadi dasar untuk memastikan manfaat sebuah event dapat dipertahankan dan ditingkatkan pada penyelenggaraan berikutnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.