Mendapat Surat Keputusan di 2007 dan resmi dibuka pada 2010, Geoforest Watu Payung pada awalnya adalah destinasi favorit bagi para pemburu kabut dan fajar.

Geoforest Watu Payung dikelola oleh Kelompok Hutan Kemasyarakatan Sidomulyo III dengan skema jasa lingkungan. Kawasan ini berada di tengah hutan jati yang ditetapkan menjadi hutan lindung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2007.

Seiring berjalannya waktu, pengelola berinisiatif mengemas cerita asal-usul tempat itu. Mulai dari legenda batu keramat Watu Payung hingga keberadaan hutan jati yang melingkupi kawasan ekowisata di bawah naungan Perhutanan Sosial tersebut.

Pesona ekowisata kawasan ini semakin tereksplorasi, saat didirikan sejumlah seni instalasi. Pembuatan seni instalasi yang bertajuk Telek Oseng itu memuat beragam filosofi budaya setempat.

Sementara itu, bentang alam Watu Payung pun tak kalah memukau. Tersaji deretan bukit karst Sewu dan aliran sungai Oya. Pengunjung pun bisa menikmati pemandangan itu dengan berdiri di atas seni instalasi yang terletak di tebing bukit karst.

Meski kaya akan atraksi wisata, namun sejak pandemi, manajemen mulai kesulitan bertahan. Uang kas pengelola habis hanya untuk memenuhi operasional tanpa diiringi pemasukan sepdadan.

Saat ini pengelola mencoba berbagai cara untuk bertahan. Sejumlah rencana pun dicanangkan. Misalnya seperti mengemas wisata budaya dan alam atau rencana sinergi dengan beberapa destinasi di dukuh setempat. Selain itu pengelola juga mulai berkolaborasi dengan pemerintah daerah.