Selama delapan tahun perjalanannya, Kilang Pertamina Internasional (KPI) telah memainkan peran penting dalam mendukung kemandirian energi nasional.
Perjalanan KPI dimulai pada tahun 2017, ketika perusahaan ini resmi berdiri sebagai langkah strategis Pertamina memperkuat bisnis pengolahan dan petrokimia.
Dua tahun kemudian, pada 2019, KPI berhasil meningkatkan produksi BBM di Kilang Cilacap menjadi 53 MBSD (million barrel stream per day) melalui proyek Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC).
Tahun 2020, KPI resmi menjadi Subholding Refining & Petrochemical Pertamina dan meresmikan proyek KLBC. Tak berhenti di situ, KPI terus melanjutkan langkah-langkah pengembangan produk ramah lingkungan dan efisiensi energi di tahun-tahun berikutnya.
Pada 2021, Kilang Balongan mulai memproduksi Pertadex Sulphur 50 ppm, produk BBM dengan kadar sulfur rendah yang lebih ramah terhadap lingkungan. Tahun berikutnya menjadi momentum penting dengan penyelesaian Green Refinery Cilacap fase 1, yang mampu mengolah 3 MBSD bahan baku biodiesel.
Selain itu, Kilang Balongan juga meningkatkan kapasitas pengolahan menjadi 150 MBSD dengan penggunaan gas sebesar 40 BBTUD (Billion British Thermal Units per day).
KPI kemudian menorehkan inovasi besar di tahun 2023 melalui peluncuran produk bioavtur berbahan baku Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO). Produk ini menjadi bukti nyata komitmen KPI dalam mengembangkan bahan bakar terbarukan untuk sektor penerbangan.
Di tahun yang sama, uji terbang Bioavtur J2.4 bersama Garuda Indonesia menjadi tonggak penting dalam sejarah penerbangan hijau di Indonesia.
Kemudian pada 2024, KPI kembali melangkah maju dengan mulai memproduksi Marine Fuel Oil (MFO), bahan bakar transportasi laut yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, Kilang Balikpapan berhasil meningkatkan kapasitas pengolahannya hingga 360 MBSD, memperkuat posisi KPI sebagai tulang punggung energi nasional.
Memasuki 2025, KPI menandai era baru dengan produksi Biodiesel B40 dari Kilang Plaju dan Kasim, serta peluncuran Pertamina SAF (Sustainable Aviation Fuel) yang menggunakan bahan baku minyak jelantah. Inovasi ini menunjukkan komitmen KPI terhadap transisi energi berkelanjutan.
Dari sisi kinerja, KPI mencatat total intake sebesar 245 juta barel yang mencakup minyak mentah, intermedia, dan gas, year-to-date September 2025. Dari jumlah tersebut, volume produk bernilai tinggi terhadap total volume intake atau yield valuable mencapai 83 persen.
Indeks Penggunaan Energi (Energy Intensity Index/EII) tercatat sebesar 106 persen, di mana angka yang lebih kecil menunjukkan efisiensi energi yang lebih baik. Selain itu, realisasi program dekarbonisasi berhasil menurunkan emisi hingga 345 ribu ton CO₂e.