Beroperasinya Kilang Minyak Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan menandai tonggak penting dalam upaya Indonesia memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM). Proyek strategis nasional ini diresmikan pemerintah sebagai bagian dari agenda besar hilirisasi energi dan transisi menuju BBM yang lebih bersih serta ramah lingkungan.
Dengan nilai investasi mencapai Rp123 triliun atau US$7,4 miliar, RDMP Balikpapan dinilai meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260 ribu barel per hari (BPD) menjadi 360 ribu BPD atau naik sekitar 30%. Peningkatan kapasitas ini membuat kilang Balikpapan menjadi salah satu kilang terbesar dan termodern di Indonesia, sekaligus memperkuat peran Pertamina dalam memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
Selama masa konstruksi, proyek ini pun menyerap sekitar 24 ribu tenaga kerja dan setelah beroperasi penuh akan mempekerjakan sekitar 2 ribu pekerja permanen.
Dampak paling signifikan dari beroperasinya RDMP Balikpapan adalah penghematan devisa negara. Produksi BBM dari kilang ini diperkirakan mampu menekan impor bensin senilai Rp44,6 triliun per tahun, solar Rp14,9 triliun, avtur Rp5,4 triliun, serta LPG Rp2,9 triliun. Secara keseluruhan, penghematan devisa dari pengurangan impor BBM diproyeksikan mencapai sekitar Rp68 triliun per tahun. Pemerintah menilai langkah ini krusial untuk menjaga neraca perdagangan energi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Di samping itu, RDMP Balikpapan juga membawa manfaat lingkungan. RDMP Balikpapan memproduksi BBM dengan standar Euro 5, di mana kadar sulfur ditekan hingga di bawah 10 ppm, jauh lebih rendah dibandingkan BBM Euro 2 yang masih berada di kisaran 500 ppm. Penurunan drastis kadar sulfur ini diharapkan mampu mengurangi emisi gas buang kendaraan, memperbaiki kualitas udara, dan menghadirkan “langit yang lebih biru” di kota-kota besar Indonesia.