KOMIK: Asalkan Purbaya Bisa Tersenyum

Leoni Susanto
9 Juni 2026, 08:19

Di tengah pelemahan rupiah yang terus mencetak rekor, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Indonesia tidak sedang menuju krisis ekonomi dan moneter seperti periode 1998.

Sejak awal Juni, nilai tukar rupiah sudah tembus Rp18.000 per US$, meskipun Bank Indonesia telah mengambil kebijakan menaikkan suku bunga menjadi 5,25% pada Rapat Dewan Gubernur 19-20 Mei.

“Kita tidak sedang menuju keadaan seperti 1997-1998 lagi. Fiskal kita baik, ekonominya bagus, hanya ada sentimen negatif di sana-sini yang mengganggu sedikit terhadap nilai tukar,” kata Purbaya dalam kunjungannya ke Kantor Bea dan Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu, 6 Juni.

Di saat yang bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tertekan hingga sentuh level 5.505 pada 6 Juni. Penurunan lebih dari 38% sejak awal tahun berjalan ini sekaligus menjadi level tercuram sejak Pandemi Covid-19. Salah satu penyebabnya adalah sentimen negatif dari penilaian dan keputusan lembaga pemeringkat global, seperti dikeluarkannya 18 saham dari Indeks MSCI dan empat saham dari FTSE Global Equity Index Series.

Beberapa waktu terakhir, media asing turut menyorot kondisi perekonomian dan ketidakpastian kebijakan fiskal Indonesia. Seperti artikel populer The Economist berjudul Indonesia’s Presidents is jeopardising the economy and democracy yang menyorot pemborosan anggaran dan kemunduran demokrasi Indonesia, hingga artikel Bloomberg ‘Sell Indonesia” Sweeps Trading Desks as Prabowo Tightens Grips yang menyorot aksi investor asing jual aset keuangan Indonesia akibat krisis kepercayaan.

Sementara itu, masyarakat mulai gelisah akibat kondisi perekonomian yang memburuk. Tingkat kriminalitas di kota-kota besar meningkat. Sejumlah sinyal menunjukkan daya beli masyarakat terus menurun. Harga bahan baku juga melonjak karena rupiah terus melemah.

Baru-baru ini, fenomena “makan irit” dan penurunan omzet warung tegal atau warteg menjadi pembicaraan. Fenomena ini terjadi di mana masyarakat mulai memilih lauk yang lebih murah di warung makan ketika sejumlah menu yang biasa dihidangkan harus dihapus oleh penjual warteg karena harga bahan baku yang melonjak.

“Kalau memang benar ada fenomena di warteg ada perubahan konsumsi, saya akan tambah lagi stimulus kepada perekonomian. Itu akan memberi daya beli tambahan ke masyarakat,” kata Purbaya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Bintan Insani

Cek juga data ini