Presiden Prabowo Subianto berencana mengganti seluruh atap rumah warga menjadi genteng lewat program “gentengisasi” agar Indonesia makin indah. Dia mendapat laporan dari banyak profesor bahwa limbah batu bara yang dicampur bahan genteng bisa menghasilkan genteng yang bagus.
“Pabrik-pabrik genteng itu tidak mahal. Nanti Koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2 Februari lalu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut program ini bakal menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
“Gentengisasi enggak sampai Rp1 triliun,” kata dia di Indonesia Economic Summit 3 Februari lalu.
Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Ashar Saputra mengatakan program ini perlu dikaji lebih dalam. Menurutnya, penggunaan material atap memiliki perbedaan dari segi kondisi geografi, budaya, dan kemampuan ekonomi.
Secara teknis, menurut Ashar, seng memiliki risiko kebocoran yang rendah bahkan juga dipasang dengan kemiringan rendah. Sementara genteng, akan lebih aman dipasang pada kemiringan lebih dari 30%.
Genteng cenderung lebih berat yang menuntut struktur bangunan yang lebih kokoh. Saat terjadi gempa, genteng dapat meningkatkan risiko fatalitas jika struktur bangunan tidak kokoh.