Duka menyelimuti Indonesia pasca insiden tabrakan kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam, 27 April. Sebanyak 16 korban meninggal dunia, semuanya terkonfirmasi penumpang perempuan.
Sepekan setelah kejadian maut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyebut sebanyak 17 korban luka-luka masih dirawat.
“Per Senin, sebanyak 84 pelanggan (luka-luka) telah kembali ke rumah, sementara 17 pelanggan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit,” kata VP Corporate Communication PT KAI Anne Purba, Senin, 4 Mei.
Kecelakaan ini menjadi alarm rapuhnya sistem perkeretaapian di Indonesia. Dalam kunjungannya ke RSUD Bekasi untuk menjenguk korban, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk segera melakukan investigasi penyebab kecelakaan kereta. Prabowo salah satunya juga menyorot permasalahan perlintasan tidak berpintu.
Hal ini menyusul kejadian taksi listrik mogok yang tertemper KRL di perlintasan sebidang tanpa pintu di Jalan Ampera Bekasi. Kejadian inilah yang kemudian memicu kecelakaan maut antar-kereta di Stasiun Bekasi Timur.
PT KAI telah mengidentifikasi sebanyak 1.864 perlintasan sebidang di Indonesia yang dinilai memiliki risiko tinggi terhadap keamanan dan keselamatan masyarakat. Ratusan di antaranya akan segera ditutup.
Di sisi lain, Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) tengah melakukan investigasi menyeluruh terkait penyebab kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur, salah satunya mengusut dugaan permasalahan sinyal sebagai penyebab kecelakaan.
“Saat ini tim investigator masih melakukan investigasi ke lapangan. Persinyalan juga salah satu aspek yang sedang didalami,” kata Humas KNKT Arif Iskandar, Kamis, 30 April.