Beberapa minggu menjelang maraton, biasanya menjadi masa ketika pelari mulai mengurangi porsi latihan. Long run yang sebelumnya menjadi agenda rutin mulai dikurangi, sementara perhatian mulai beralih pada persiapan race day. Sepatu lomba disiapkan, perlengkapan mulai dicek, dan strategi berlari kembali dipikirkan.

Namun, persiapan menuju garis finis sebenarnya tidak dimulai ketika pelari berdiri di garis start. Banyak hal yang perlu dipastikan jauh sebelumnya agar tubuh dan pikiran siap ketika perlombaan dimulai. 

Hal ini menjadi semakin penting saat pelari akan menghadapi Maybank Marathon 2026 in Partnership with Visa. Ajang yang telah digelar sejak 2012 ini merupakan lomba lari dengan tiga kategori jarak. Yakni marathon 42,195 kilometer, half marathon 21,0975 kilometer, dan 10K. Maybank Marathon juga menjadi ajang lari pertama di Indonesia yang meraih predikat “Elite Label Road Race” dari World Athletics.

Karakter rute yang memadukan elevasi dengan kondisi cuaca tropis Bali membuat persiapan tidak cukup hanya dengan mengejar jarak tempuh. Pelari juga perlu mengenali medan, menyiapkan mental untuk menghadapi rasa lelah, serta memastikan perlengkapan dan asupan yang digunakan saat lomba sudah benar-benar familiar.

Setidaknya ada tiga hal yang bisa menjadi perhatian dalam beberapa pekan terakhir sebelum race day.

Kenali Cuaca dan Kontur Rute Bali

Bagi pelari, mengetahui jarak lomba saja belum cukup untuk menyusun strategi. Kondisi rute dan cuaca dapat memengaruhi bagaimana tubuh mengeluarkan energi sepanjang perlombaan.

Pada Maybank Marathon, pelari perlu bersiap menghadapi kondisi cuaca tropis Bali. Udara pagi mungkin terasa sejuk, tetapi kelembapan yang tinggi dan suhu yang meningkat setelah matahari terbit dapat membuat tubuh bekerja lebih keras. 

Hujan juga menjadi salah satu kemungkinan yang perlu diantisipasi karena dapat membuat permukaan jalan lebih licin sekaligus mengubah kenyamanan dan strategi berlari.

Karena itu, masa latihan dapat dimanfaatkan untuk membiasakan diri berlari dalam kondisi yang beragam. Pakaian yang ringan dan cepat kering, misalnya, dapat membantu ketika suhu meningkat atau ketika pelari harus berlari dalam kondisi basah. Topi atau visor juga bisa menjadi bagian dari perlengkapan yang dipersiapkan.

Hidrasi pun perlu direncanakan, baik melalui air maupun minuman elektrolit. Yang tidak kalah penting, pelari perlu mengetahui respons tubuhnya sendiri. Jika kondisi cuaca atau rute ternyata berbeda dari perkiraan, strategi pace sebaiknya tidak dipaksakan.

Dengan memahami karakter lintasan sejak sebelum lomba, pelari dapat datang ke garis start dengan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana energi akan digunakan sepanjang perjalanan menuju finis.

Ketika Tubuh Mulai Lelah, Mental Ikut Diuji

Menempuh jarak puluhan kilometer tidak hanya menguji kemampuan fisik. Terdapat fase ketika tubuh mulai terasa berat dan jarak menuju finis masih cukup jauh. Pada saat seperti itu, kemampuan untuk tetap menjalankan strategi yang sudah disiapkan menjadi penting.

Salah satu kondisi yang kerap dihadapi pelari adalah hitting the wall, ketika rasa lelah semakin kuat dan pikiran mulai mendorong untuk berhenti. Materi persiapan Maybank Marathon menyebutkan bahwa pikiran bahkan dapat menggoda pelari untuk menyerah lebih cepat daripada kemampuan tubuh yang sebenarnya.

Persiapan mental bisa dimulai dengan mengenali lintasan dan melakukan visualisasi terhadap jalur yang akan dilalui. Strategi pacing dan nutrisi juga perlu disiapkan agar pelari memiliki pegangan ketika tenaga mulai terkuras.

Setiap pelari tentu memiliki cara berbeda untuk menjaga semangat. Ada yang merasa lebih nyaman mendengarkan musik atau podcast, ada pula yang memilih berlari bersama teman atau pasangan. Bagi sebagian lainnya, membagi lintasan menjadi bagian-bagian kecil dan berfokus untuk terus bergerak dapat membantu melewati momen sulit.

Persiapan mental bukan berarti memaksakan diri ketika tubuh memberikan sinyal untuk berhenti. Justru, mengenali kondisi tubuh dan mampu menyesuaikan strategi menjadi bagian dari kemampuan seorang pelari menghadapi perlombaan.

Ketika rencana sudah dipikirkan sebelum race day, pelari tidak perlu mengambil terlalu banyak keputusan ketika rasa lelah mulai datang.

Race Day Bukan Waktunya Mencoba Gear Baru

Ada satu hal sederhana yang sering terlupakan menjelang lomba, yaitu jangan mencoba sesuatu yang belum pernah digunakan sebelumnya.

Sepatu baru mungkin terlihat lebih menarik. Energi gel dengan rasa baru mungkin terasa layak dicoba. Begitu pula pakaian, kaus kaki, atau minuman yang baru dibeli. Namun, race day bukan tempat yang ideal untuk mengetahui apakah semuanya benar-benar cocok dengan tubuh.

Perlengkapan dan asupan yang akan digunakan selama maraton sebaiknya sudah diuji dalam latihan. Pakaian, kaus kaki, sepatu, energi gel hingga minuman isotonik perlu dipastikan nyaman dan tidak menimbulkan masalah ketika digunakan dalam jarak jauh.

Salah satu cara untuk mengetahuinya adalah melakukan simulasi saat long run. Gunakan sepatu, pakaian, kaus kaki, serta asupan yang sama dengan yang direncanakan untuk race day. Dari sana, pelari bisa mengetahui lebih awal jika ada sepatu yang menimbulkan rasa tidak nyaman, pakaian yang menyebabkan gesekan, atau asupan tertentu yang tidak cocok.

Hal-hal kecil seperti lecet atau rasa tidak nyaman mungkin terdengar sepele pada awalnya. Namun, setelah berlari puluhan kilometer, gangguan tersebut bisa menjadi masalah yang menguras energi dan mengganggu konsentrasi.

Karena itu, semakin dekat dengan hari perlombaan, fokusnya bukan lagi mencari perlengkapan yang paling baru, tetapi memastikan perlengkapan yang dipilih sudah terbukti bekerja dengan baik bagi tubuh.

Semangat mempersiapkan diri sebelum race day tersebut menjadi bagian dari rangkaian Road to Maybank Marathon bersama adidas Indonesia. Program ini membekali peserta dengan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan yang mungkin muncul selama perlombaan.

Project Director Maybank Marathon, Bambang Irawan mengingatkan, pada pekan-pekan akhir menjelang maraton, fokus pelari seharusnya bukan lagi menambah porsi latihan, akan tetapi memastikan tubuh dan pikiran siap menghadapi berbagai kondisi di race day

“Melalui Road to Maybank Marathon bersama adidas Indonesia, kami ingin membantu pelari memahami tantangan tersebut agar mereka dapat Train Smart. Race Safe. Finish Strong," ujar Bambang Irawan.

Pada hari perlombaan, tidak semua hal bisa berjalan persis seperti yang direncanakan. Cuaca bisa berubah, pace bisa melambat, dan rasa lelah bisa datang lebih cepat dari perkiraan. Yang bisa dilakukan pelari adalah memastikan sebanyak mungkin hal sudah dipersiapkan sebelumnya.

Mengenali rute membuat pelari lebih siap menghadapi medan. Menyiapkan mental membantu ketika kilometer-kilometer terakhir mulai terasa berat. Sementara itu, menggunakan gear dan nutrisi yang sudah teruji membuat pelari tidak perlu beradaptasi dengan hal baru ketika fokus seharusnya tertuju pada lintasan.

Pada akhirnya, perjalanan menuju garis finis dimulai jauh sebelum pelari berdiri di garis start. Ada latihan yang harus dijalani, tetapi ada pula keputusan-keputusan kecil yang menentukan bagaimana tubuh dan pikiran menghadapi puluhan kilometer di depan.

Karena ketika race day tiba, waktunya bukan lagi untuk mencoba-coba. Waktunya untuk menjalankan apa yang sudah dipersiapkan. Train Smart, Race Safe, Finish Strong.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.