Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu momen paling dinantikan umat Muslim setiap tahunnya. Selain menjadi waktu puncak pelaksanaan ibadah haji di tanah suci, Idul Adha merupakan waktu bagi masyarakat untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban.
Pada momen Hari Raya Idul Adha, umat Islam akan berbondong-bondong pergi ke lapangan untuk menunaikan sholat sunnah dan menyampaikan khutbah. Ada beragam tema yang bisa diangkat untuk khutbah Idul Adha 2026, mulai dari kisah nabi Ibrahim, hikmah kurban, dan masih banyak lagi.
Tentunya tema khutbah Idul Adha 2026 harus berkesan, menyentuh hati, serta mampu menggugah kesadaran para jamaah. Melalui tema yang kuat, jamaah diajak memahami bahwa Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban, melainkan simbol ketaatan total kepada Allah, sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada sesama.
Tema Khutbah Idul Adha 2026
Berikut contoh tema khutbah Idul Adha 2026 yang menarik.
1. Tema Khutbah Idul Adha 2026 Tentang Pelajaran Dari Hikmah Qurban Nabi Ibrahim A.S.
السَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلهِ ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ الَّذِي هَدَانَا إِلَى الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلالَمِ وَأَكْرَمَنَا بِشَرِيْعَةِ نُسُكِ الْحَجِّ إِلَى الْبَيْتِ الْحَرَامِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِرُبُوْبِيَّتِهِ وَجَلَالِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ سَائِرِ خَلْقِهِ، أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ وَكَرَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ مِنْ جَمِيعِ أُمَّتِهِ،
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَافْعَلُوا مَأْمُورَاتِهِ وَاتْرُكُوا مَنْهِيَّاتِهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَاللَّهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah
Alhamdulillah, puji dan syukur kita persembahkan ke hadirat Allah Azza Wajalla atas anugerah rahmat dan nikmat yang dilimpahkan kepada kita. Shalawat beriring salam, semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW tauladan terbaik atas segenap makhluk.
Sebagai khatib saya mengajak dan menyeru kepada hadirin pada umumnya, terutama kepada diri saya sendiri, marilah kita meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah, karena itulah kunci bahagia dan sebaik-baik bekal bagi kita.
Pada hari ini 10 Dzulhijjah, suara takbir menggema, tahmid berkumandang, tahlil (ucapan La ilaha illallah) bersenandung, bersahut dari masjid, surau dan mushalla, dari perkotaan, hingga pedesaan, masyarakat pegunungan, para nelayan, sampai ke seluruh pelosok tanah air bahkan hingga ke penjuru dunia sebagai pertanda rasa bahagia dan syukur kepada Allah.
Firman Allah :
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدُيكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan Allah) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu" (Q.S.Al-Baqarah: 185)
Pada saat yang bersamaan, ribuan bahkan jutaan umat manusia berdatangan dari seluruh penjuru dunia, meninggalkan sanak keluarga dan handaitaulan serta menanggalkan semua atribut, pangkat dan jabatan mengunjungi tanah kelahiran Rasulullah SAW "Mekkah Al-Mukarramah" sembari tak henti-henti mengucapkan talbiyah sebagai ketundukan kepada Allah menerima panggilan suci melaksanakan ibadah haji.
Dalam kesempatan ini, Khatib mengajak jama'ah semua untuk merenungi dan mengambil pelajaran dari hikmah Qurban Nabi Ibrahim A.S. mari kita memahami dari kisah keshalihan Ibrahim dan keikhlasan Isma'il A.S. tersebut. Kisah Indah, penuh haru dan menyentuh hati, sarat dengan muatan hikmah tersebut selalu terngiang manakala 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah datang menghampiri. Sebagian kecil lembaran kisah tersebut diungkap dalam Al-Qur'an, antara lain Q.S. Ash-Shaffat ayat 102.
Allah berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَبُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (Q.S. Ash-Shaffat : 102)
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah
Dari kutipan ayat ini, memberikan gambaran tentang Qurban dan Pengorbanan Nabi Ibrahim yang penuh dengan hikmah yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi Ummat Islam dan ditumbuh kembangkan dalam berbagai bentuk sikap mulia. Beberapa diantaranya :
1. Peristiwa Qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap Isma'il merupakan simbol kepada semua manusia bahwasanya untuk mencapai kesuksesan dan ridha Allah maka semangat rela berqurban harus digalakkan disertai dengan kecintaan kepada Allah di atas segalanya.
Betapa sulit keadaan Nabi Ibrahim A.S. saat itu. Di satu sisi beliau adalah seorang Nabi dan Rasul yang harus menyampaikan dan melaksanakan titah dan perintah Allah. Sedangkan di sisi yang lain beliau adalah seorang ayah yang secara naluri sangat cinta kepada anaknya. Anak adalah buah hati, belahan jiwa, perhiasan dunia, kebanggaan dan prestise serta anugerah istimewa bagi orang tua. Anak menjadi Penerus cerita, pelanjut sejarah, simpanan berharga, kekayaan yang mahal, dan investasi terbaik di masa depan serta merupakan matahari keluarga. Singkatnya, anak adalah cita-cita dan harapan orang tua.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَمَلُ رَحْمَةٌ مِنَ اللَّهِ لِأُمَّتِي لَوْلَا الْأَمَلُ ما أَرْضَعَتْ أُمُّ وَلَدًا وَلَا غَرَسَ غَارِسُ شَجَرًا
"Sesungguhnya cita-cita (harapan) itu merupakan Rahmat Allah bagi ummatku, seandainya tidak ada cita-cita niscaya tiada seorang ibupun yang mau menyusui anaknya dan tiada seorang petanipun yang mau menanam pohon" (H.R.Ad-Dailamy dan lainnya).
Orang tua berkorban dengan bekerja keras guna memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Seorang anakpun berkorban dengan menjadi anak yang shalih-shalihah, yang mandiri, yang dapat membahagiakan dan menjadi kebanggaan orang tuanya. Sebagai orang tua...Sudahkah kita berperan sebagai orang tua yang baik bagi anak-anak kita..?, rela berkorban dan menghadirkan diri sebagai sosok yang dikagumi anak-anak kita...?, menampilkan diri sebagai pribadi yang patut dibanggakan dalam keluarga...?. orang tua bukan hanya bisa menyampaikan contoh tapi mampu menjadi contoh. Menjadi contoh teladan berarti mampu mengolah, mengelola sikap perilaku dengan contoh positif, dan mampu menunjukkan arah serta membangun semangat kepada orang-orang sekitarnya.
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah
2. Qurban pada hakikatnya menyembelih atau memotong sifat-sifat hewani seperti egois, rakus atau tamak, mencuri atau korupsi, merampas hak-hak orang lain, kezhaliman bahkan tirani/diktator sudah selayaknya dipangkas atau dihilangkan.
Nabi Ibrahim A.S tidak diperintah Allah untuk menjadi pembunuh agar membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa "kepemilikan" terhadap Ismail, karena pada hakikatnya semua adalah milik Allah. Setiap kita adalah "Ibrahim" dan setiap Ibrahim mempunyai "Isma'il". "Ismailmu" mungkin "hartamu". "Ismailmu" mungkin "jabatanmu", "Ismailmu" mungkin "gelarmu". "Ismailmu" mungkin "ego dan kesombonganmu", "Ismailmu" mungkin adalah sesuatu yang paling engkau "sayangi" dan engkau "pertahankan" di dunia ini.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya "Madarijus Salikin" menjelaskan bahwa pemuasan nafsu merupakan perbuatan manusia yang membuat mereka tidak berbeda dengan semua jenis hewan. Di antara jiwa manusia ada yang menyerupai perilaku hewan, bahkan lebih dari itu. Al-Qur'an dalam berbagai ayat menyebutkan manusia yang berperilaku hewan, antara lain dalam Q.S. Al-A'raf: 179, Allah berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا وَلَهُمْ عَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا أُوْلَبِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَبِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Q.S. Al-A'raf : 179)
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah
3. Pembagian daging hewan qurban kepada orang yang tidak mampu hakikatnya adalah membangun kesetia kawanan dan solidaritas sosial ummat Islam dan memupuk rasa kebersamaan serta nilai-nilai persaudaraan, Agar silaturrahim tetap terjalin dan ukhuwwah selalu terjaga.
Kita prihatin terhadap pertikaian antar umat, politik penuh intrik, fanatik terhadap organisasi dan kelompok lebih besar daripada terhadap agama. Hasud, iri, dengki dan fitnah menjadi barang murah, menjadi lipstik keseharian di masyarakat, permusuhan dan perpecahan menjadi subur, sedangkan cinta dan kasih sayang menjadi pudar, Ukhuwwah Islamiyyah menjadi mahal, bahkan terlalu mahal sehingga tidak terjangkau. Adapun ummat yang di bawah bagai daun kering, yang mudah dihimpun tapi sulit diikat, jika terkena angin langsung berisik, jika terkena api langsung terbakar.
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Kaum Muslimin dan Muslimat Jama'ah Idul Adha Rahimakumullah
Nanti, bila malam telah semakin larut, saat suasana semakin sunyi, yang terdengar hanya suara jangkrik, sesekali desiran angin menerpa pepohonan, lalu kita terjaga dari tidur yang nyenyak, mimpi yang indah, segera kita mengambil air wudhu', laksanakan shalat malam (Tahajjud), setelah itu kita bermunajat mendo'akan orang tua kita, kita juga berdo'a kiranya Allah merekatkan antar kita persaudaraan yang kuat, ukhuwwah Islamiyyah yang utuh dan tidak mudah goyah, sehingga kita akan merasakan indahnya kebersamaan dalam Islam. Imam Al-Ghazali pernah berkata: "Ukhuwwah (persaudaraan) itu bukan pada indahnya pertemuan, tapi pada ingatan seseorang terhadap saudaranya di dalam do'anya".
Demikianlah Khutbah ini semoga bermanfaat. Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.
A'udzubillahiminasy-syaithonirrojim
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
بَارَكَ اللهُ وَلَكُمْ بِالْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهُ الْعَظِيمِ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ .
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً .
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ وَالْإِعْتِصَAMِ بِحَبْلِ اللَّهِ الْمَتِيْنِ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنَ
أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ وَكَرَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوْا يَا إِخْوَانِي رَحِمَكُمُ اللهُ أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَاعْلَمُوا أَنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ جَعَلَ الْخَلِيْلِ إِبْرَاهِيمَ إِمَامًا لَّنَا وَخَالِصُ الْأُمُورِ, وَمُؤْذِي الْفُجُوْرِ, وَمُدَرِّسُ مَنَاسِكَ الْحَجِّ الْمَبْرُوْرِ, وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى صَلَّى عَلَى النَّبِيِّهِ قَدِيمًا وَقَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِي
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ وَكَرَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِينَ وَارْضَى اللَّهُمَّ عَلَى أَرْبَعَةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ سَيِّدِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي وَعَلَى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَعَلَيْنَا نْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
أَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنِ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَاتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اللَّهُمَّ اغْفِر| لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُحِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الفَاتِحِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ الله
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْتَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
2. Tema Khutbah Idul Adha 2026 Tentang Momentum Tekankan Solidaritas dan Soliditas
الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ x3
كَبِيْرًا, وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ, لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَاابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً ، وَأَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ حَجَّ اْلبَيْتَ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْناً وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلَتِهِ فَكَانَ ذَالِكَ مِنْ نِعْمَةِ اْلعُظْمىَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ اْلعَتِيْقِ ذَاكِرًا أًسْمَآءَ رَبِّهِ اْلحُسْنىَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْباَعِهِ اِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ كِتَابِهِ رِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الَّرحمن الرحيم. إِنّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَالأَبْتَرُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd..
Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Segala puji bagi Dzat yang Mahakuat. Di pagi hari nan cerah saat mentari mulai terik dan harapan yang membuncah, kebesaran Ilahi dikumandangkan di seluruh penjuru dunia. Umat Islam sejagat berbondong-bondong menuju tempat-tempat suci untuk bersimpuh di hadapan-Nya dalam rangka Hari Raya Idul Adha nan bahagia.
Pada waktu yang bersamaan, kaum Muslimin yang tengah menjalankan ibadah haji, kini tengah melontar Jumrah Aqabah setelah wukuf di Arafah sebagai simbol menundukkan ego dan melawan sifat-sifat syaithaniyah dan hayawaniyah yang ada dalam diri setiap manusia. Dengan spirit ketundukan dan kepatuhan akan kebesaran-Nya, umat Islam di seluruh penjuru bumi menggemakan takbir dan tahmid yang menggetarkan kalbu emnsyukuri hidayah yang telah diraihnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah
Idul Adha merupakan hari raya bersejarah untuk mengenang kembali peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas putranya, Ismail AS. Saat Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah melalui mimpinya untuk "menyembelih" anaknya yang sangat dicintai, dia menghadapi dua pilihan yaitu mengikuti dorongan perasaan dengan menyelamatkan Ismail, atau mentaati perintah Allah dengan totalitas ketundukan.
Di tengah kebimbangan itu, Ismail menyatakan dengan tegas atas pertanyaan ayahnya, bahwa ia siap dengan sepenuh hati untuk menjalankan perintah Allah SWT. Kemudian, turunlah firman Allah SWT:
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.
"Dan kami panggillah: Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini sebagai ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS As-Shaffat: 104-107).
Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan qurban, di setiap tanggal 10 Dzulhijah dan pada hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Deskripsi historis ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah SWT and kerelaan untuk berkorban adalah esensi yang melekat dari ibadah Qurban. Nilai-nilai tersebut telah diimplementasikan dengan baik oleh Nabi Ibrahim dan ditanamkan kepada anak kesayangannya, Ismail as.
Sikap rela berkorban ini merupakan salah satu karakter keberimanan yang dimunculkan dari kedalaman spiritualitas demi sebuah tujuan tertinggi. Dalam konteks hubungan sosial, rela berkorban merupakan perwujudan sikap "altruisme", menjunjung nilai-nilai "mengutamakan orang lain" dari pada diri sendiri. Yaitu, mengorbankan apa yang kita punya, bahkan yang kita cintai untuk kesejahteraan orang lain. Jika Nabi Ibrahim as. mengorbankan Ismail, sedangkan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dengan rela mengorbankan segala materi untuk membantu orang lain yang lebih memerlukan, walaupun mereka sendiri masih membutuhkannya. Allah berfirman:
وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"...Mereka (kaum Anshar) mengutamakan kepentingan orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka, meski mereka sendiri masih memerlukannya..." (QS Al-Hasyr: 9).
Ayat ini menunjukkan keberhasilan Rasulullah SAW dalam menanamkan karekater kuat dan memupuk sikap solidaritas kemanusiaan di kalangan para sahabat. Atas alasan ini, mereka rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi kepentingan yang lebih besar. Untuk itu, hari raya Idul Adha seharusnya dijadikan momentum untuk penguatan karakter keimanan, memupuk rasa solidaritas yang mampu mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan.
Dalam satu studi tentang "Spending Money on Others", dalam ulasan Blanding, M (2023) Why giving to others makes us happy. Working Knowledge, Harvard Business School menyatakan bahwa para peneliti meminta partisipan untuk sekadar mengingat kembali saat mereka dermawan kepada orang lain dan membandingkan perasaan mereka saat mereka memberi kepada orang lain dan saat mengingat mereka menghabiskan uang untuk diri sendiri.
Para peneliti tersebut menemukan bahwa orang tidak mengekspresikan kebahagiaan saat mengingat menghabiskan uang untuk diri sendiri sebanyak dan sebaik saat mereka mengingat tindakan memberi kepada orang lain.
Hasil riset Elizabeth Dunn, pakar psikologi sosial dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, menyimpulkan bahwa semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain terbukti menambah kebahagiaannya sebagaimana dimuat dalam Jurnal SCIENCE (2008) dengan judul tulisan yang mengejutkan: "Spending Money on Others Promotes Happiness" (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).
Temuan ilmiah tersebut menunjukkan, bahwa yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membelanjakannya. Orang yang menyedekahkan uang atau hartanya untuk membantu mereka yang membutuhkan ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri. Logika terbalik yang jamak terjadi justru mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi demi mengejar kebahagiaan semu.
Momentum Idul Adha yang menekankan prinsip solidaritas dan soliditas publik jika benar-benar dijadikan landasan untuk membangun negeri dapat dimulai saat ini. Seberat apapun problem yang dihadapi oleh negara ini, dengan modal semangat pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan, niscaya berbagai masalah akan teratasi. Sebab, rakyat dan para pemimpinnya merasa "berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing". Langkah ini juga akan mengikis sikap mementingkan diri sendiri dan mencintai harta (hubbud dunya) secara berlebihan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Berdasarkan paparan di atas, ibadah qurban mempunyai dua nilai: kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Kesalehan spiritual dalam hal ini adalah penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Ismail. Sikap ini penting untuk diteladani, terutama bagi generasi muda Indonesia.
Ismail adalah figur anak saleh, atau prototipe generasi muda yang baik. Ia berpandangan jauh ke depan atas dasar spiritualitas yang tinggi, berani mengambil sikap di saat situasi yang sulit, rela berkorban, dan berbakti kepada orang tuanya. Ismail bukanlah pemuda penakut yang mudah putus asa, tapi seorang lelaki muda gentleman yang berani mengambil risiko atas sebuah prinsip yang diyakininya. Ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya dan berkata:
يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
"...Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Shaffat: 102).
Ismail juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Dalam surat Maryam ayat 55 dijelaskan bahwa Ismail adalah sosok pemuda yang "shadiqal wa'di", yaitu jujur dan menepati janji. Imam al-Thabari dalam kitab Jami'ul Bayan menjelaskan bahwa ada dua dimensi kejujuran dalam diri Ismail. Pertama, kejujuran yang dibangun dalam relasi antar manusia, dan kedua, kejujuran yang bersifat lebih eksklusif antara manusia dengan Tuhannya. Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan begitu, berbohong adalah termasuk dosa besar (kabura maqtan), sebab ia telah melakukan dua hal yaitu menipu orang lain dan ingkar janji di mata Allah.
Itulah hebatnya Ismail. Andai saja generasi muda Indonesia mampu meneladani Ismail, tentu bangsa ini akan bergerak lebih cepat ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Kesalehan Ismail ini sudah sepatutnya menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda zaman sekarang. Apalagi, sejak 2012 lalu hingga 2035, Indonesia telah dan akan dibanjiri generasi muda usia produktif, atau yang biasa disebut bonus demografi.
Yaitu, periode jumlah tenaga kerja produktif jauh lebih banyak daripada tenaga non produktif. Puncak bonus demografi adalah antara tahun 2020-2035, di mana jumlah penduduk produktif (usia 15-64) akan jauh lebih besar dari pada usia non produktif (di bawah 15, dan di atas 64).
Ini artinya peranan generasi muda sekarang sangat strategis. Namun, bangsa ini juga tengah dihadapkan pada problematika yang menimpa generasi muda; mulai dari kasus penyalahgunaan NARKOBA, miras, terorisme, dan kekerasan. Menurut Indonesia Drugs Report 2022 yang dirilis oleh Pusat Penelitian Data, dan Informasi Badan Narkotika Nasional (Puslitdatin BNN) prevalensi jumlah penduduk usia 15-65 tahun yang terpapar narkoba pada 2021, setidaknya pernah pakai, pada 2021 adalah sejumlah 4,8 jackpot jiwa. Menurut data mereka, rentang usia pertama kali dalam menggunakan narkoba adalah pada 17 sampai 19 tahun. Di sinilah mengapa usia remaja menjadi rentang usia pengguna narkoba terbanyak dan pada usia mereka 35 sampai 44 tahun, ketergantungan ini dapat menjadi tanpa henti. Selain itu, kekerasan yang melibatkan pemuda juga masih terus menghiasi berita-berita di media massa, seperti bullying, tawuran, dan geng motor.
Hal ini bisa terjadi antara lain dikarenakan cara berfikir yang pendek, tidak mempunyai harapan hidup, serta mementingkan diri sendiri. Apalagi didasarkan pada sebuah keyakinan yang ingin cepat mendapatkan kesenangan hidup dengan cara mengorbankan diri dan bahkan menyakiti orang lain. Ini tidak boleh dibiarkan. Bagi orang tua dan juga generasi muda, perlu meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim as, supaya bisa terhindar dari hal-hal negatif. Sebab, Nabi Ibrahim telah berhasil membangun keluarga dengan karakter pasrah total kepada Allah SWT. dan gigih berjuang untuk meraih apa yang diinginkan dengan kesungguhan tekad dan komitmen ilahiyah.
Dalam istilah agama, hal ini lebih kita kenal sebagai ikhtiar dan tawakkal (i'qil wa tawakkal). Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu-kesatuan yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk tercapainya keseimbangan dalam perjalanan kehidupan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah
Tidaklah tercapai suatu tujuan ataupun cita-cita dalam kehidupan, melainkan harus didukung oleh ikhtiar atau totalitas usaha dalam meraihnya. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam upaya meraih tujuan hidup. Namun tidak instan, perlu usaha keras dan totalitas untuk meraih cita dengan karakter kuat dan semangat berkorban. Hal ini tidak akan bermakna, serta seringkali menjadi sia-sia, apabila tidak dibarengi dengan totalitas kepasrahan dan doa kepada Allah SWT.
Tentang kedua prinsip ini, istri Nabi Ibrahim, Hajar telah mengajarkan kepada kita dalam peristiwa Sai. Ia tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit. Ia berlari ke sana ke mari, dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya dan berputus asa.
Ia gunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti. Kita tahu bahwa Hajar tidak mendapatkan apa yang dicari dari hasil upayanya saat naik ke gunung Shafa dan gunung Marwah, tetapi dari karunia Allah SWT. lewat tendangan kaki balita Nabi Ismail as. Pencarian air ini melambangkan sebuah proses upaya dengan gigih untuk sebuah tujuan hidup yang lebih baik di muka bumi meskipun kadang mendapatkan bukan dari upayanya tetapi karena karunia Allah SWT.
Berjuang hidup yang pantang menyerah. Setiap orang harus siap berjuang keras dan pantang menyerah. Namun demikian, juga selalu disertai dengan kesabaran, keuletan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam hidup ini, kita haruslah siap menghadapi segala kemungkinannya.
Terkadang kegagalan harus kita alami untuk menjadikan kita semakin kuat. Terkadang juga, keberhasilan datang menghampiri usaha keras. Tetapi, jangan sampai terjerumus lupa diri kepada Allah, Sang Penentu segala hasil. Ini penting agar kita tidak sombong, angkuh, dan lupa atas keberhasilan tersebut. Itulah tujuan yang ingin dicapai dengan sikap tawakkal dalam totalitas usaha, sebagaimana dicontohkan Hajar saat mendaki dan menuruni bukit Shafa dan Marwah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Di akhir khutbah ini, saya ingin memberikan underline bahwa Idul Qurban mengantarkan kita untuk dapat meneladani kisah sukses keluarga Nabi Ibrahim. Pertama, sosok Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail AS mengajarkan kepada kita tentang pentingya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, serta optimisme dalam menjalani hidup. Ini merupakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga yang patut diteladani. Masing-masing anggota keluarga mempunyai karakter kuat yang didasari pada keimanan. Sikap taat kepada Allah, gigih berjuang, dan jujur harus diutamakan dalam mengarungi kehidupan ini.
Kedua, peristiwa qurban mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari untuk memupuk solidaritas kemanusiaan. Tanpa adanya pengorbanan, manusia akan mementingkan dirinya sendiri, lalu menjadi manusia rakus dan acuh terhadap lingkungan sekitar.
Di hari raya idul Adha kali ini, mari kita kobarkan semangat dan optimisme untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan meneladani totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah; kerelaan pengorbanan dan kejujuran Nabi Ismail, serta kegigihan dan ikhtiyar yang dilakukan oleh Hajar.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَهْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَهْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُتَافِقُوْنَ.
الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْراً كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَهْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَاماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَد| فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْا الخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْا عَنِ السَّيِّئَاتِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْا اللهَ إِلَى مَا دَعَاكُمْ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ اللهُ عَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْهَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ. يَا إِلَهَنَا وَإِلَهَ كُلِّ شَيْءٍ. هَذَا حَالُنَا يَا اللهُ لَا يَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالبَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالفَحْشَاءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةَ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
3. Tema Khutbah Idul Adha 2026 Tentang Ibadah Kurban dan Kepedulian Sosial
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاَنِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Mari kita awali khutbah ini, dengan senantiasa mengungkapkan syukur dan terimakasih kepada Allah swt, dengan kalimat alhamdulillâhilladzi bi ni'matihi tatimmusshalihat, yang telah mempertemukan kita semua pada momentum yang sangat luar biasa dan sakral, yaitu Hari Raya Idul Adha. Mudah-mudahan hari raya ini bisa menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba yang suci, diampuni segala dosa dan diterima semua amal ibadah oleh-Nya.
Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita haturkan, kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alih wa sahbih, sebagai manusia terbaik dan utusan terbaik. Karena berkah dakwah dan perjuangannya-lah, kita semua bisa berkumpul saat ini dalam keadaan iman dan Islam. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya dan bisa mendapatkan syafaatnya, kelak pada hari kiamat. Amin ya rabbal alamin.
Selanjutnya, melalui mimbar yang mulia dan momentum yang agung ini, kami selaku khatib mengajak kepada diri kami sendiri, keluarga, and semua jamaah yang turut hadir pada pelaksanaan shalat Idul Adha ini, untuk terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, salah satunya adalah dengan meningkatkan rasa kepedulian sosial dan empati terhadap sesama.
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Menumbuhkan kepedulian sosial dan empati kepada sesama saudara merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt yang bisa kita lakukan saat ini. Dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, kita semua bisa lebih memahami nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan solidaritas yang diajarkan dalam Islam. Sehingga, kita semua bisa menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat dan bantuan kepada sesama.
Menjadi manusia yang bermanfaat dan peduli terhadap sesama, merupakan salah satu ajaran mulia dalam agama Islam. Bahkan, Islam mengajarkan kepada kita semua, bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat terhadap sesama. Pasalnya, dengan memberikan manfaat kepada orang lain, kita bisa menciptakan dampak positif dalam kehidupan mereka. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain." (HR ad-Daru Quthni dan al-Baihaqi).
Momentum Hari Raya Idul Adha merupakan waktu yang sangat tepat untuk mengaplikasikan hadits ini. Pada momentum ini, kita semua yang sudah mampu untuk berkurban, sangat dianjurkan untuk berkurban. Tujuannya, selain sebagai bentuk patuh terhadap perintah Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, juga untuk menumbuhkan sikap kepedulian sosial dan empati kepada sesama manusia. Pentingnya dan perintah berkurban telah ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah swt berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya, "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." (QS Al-Kautsar [108]: 2).
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Hari Raya Idul Adha tidak hanya tentang ritual ibadah shalat dan takbir saja, namun juga untuk membangun dan memperkuat hubungan sosial. Dan hal ini bisa kita raih dengan cara berkurban. Dengan berkurban, selain menjadi bentuk kepatuhan dan wujud syukur setiap Muslim kepada Allah, juga memiliki makna sosial yang sangat dalam, yaitu merasakan empati terhadap sesama yang kurang beruntung sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam membagi rezeki.
Oleh sebab itu, ibadah kurban harus benar-benar dibangun atas dasar kesadaran dan kepedulian yang tinggi kepada saudara-saudara yang kurang mampu, sehingga orang-orang yang berkurban akan melakukannya dengan penuh ikhlas karena Allah semata. Dan, semua ini tidak bisa kita raih selain dilandasi dan didasari oleh ketakwaan kepada-Nya. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Artinya, "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS Al-Hajj, [22]: 37).
Perintah untuk membangun kepedulian sosial kepada kerabat, saudara, fakir-miskin dan lainnya, juga tertuang dalam Al-Qur'an surat An-Nisa', Allah swt berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Artinya, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki." (QS An-Nisa', [4]: 36).
Tidak hanya ayat di atas, Rasulullah juga menegaskan bahwa tidak sempurna iman orang yang hanya berpikir tentang perutnya sendiri dan mengenyangkannya, tanpa mempedulikan saudara dan tetangganya yang kelaparan. Dalam hadits yang berasal Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
Artinya, "Tidaklah beriman, orang yang selalu kenyang, sementara tetangganya lapar sampai ke lumbungnya." (HR Al-Baihaqi).
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Itulah pentingnya menjadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk membangun kepedulian sosial dan empati terhadap sesama, yaitu dengan cara berkurban. Oleh karena itu, hari raya tidak hanya tentang ibadah shalat sunnah saja, namun juga tentang kepedulian sosial kepada sesama, yaitu dengan cara berkurban.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjadikan momentum perayaan shalat sunnah Idul Adha ini sebagai ajang untuk membangun spirit kebahagiaan bersama, kepedulian bersama dan empati kepada orang-orang yang tidak mampu, sehingga harapannya, kita semua dijadikan hamba-hamba yang dicintai dan disenangi oleh Allah swt.
Demikian khutbah Idul Adha perihal ibadah kurban dan kepedulian sosial ini. Semoga bisa membawa bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِك| عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِينَ
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
4. Tema Khutbah Idul Adha 2026 Tentang Momentum Tekankan Solidaritas dan Soliditas
الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ - الله ُأَكْبَرُ x3
كَبِيْرًا, وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ, لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَاابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً ، وَأَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ حَجَّ اْلبَيْتَ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْناً وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلَتِهِ فَكَانَ ذَالِكَ مِنْ نِعْمَةِ اْلعُظْمىَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ اْلعَتِيْقِ ذَاكِرًا أًسْمَآءَ رَبِّهِ اْلحُسْنىَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْباَعِهِ اِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ كِتَابِهِ رِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الَّرحمن الرحيم. إِنّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَالأَبْتَرُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd..
Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Segala puji bagi Dzat yang Mahakuat. Di pagi hari nan cerah saat mentari mulai terik dan harapan yang membuncah, kebesaran Ilahi dikumandangkan di seluruh penjuru dunia. Umat Islam sejagat berbondong-bondong menuju tempat-tempat suci untuk bersimpuh di hadapan-Nya dalam rangka Hari Raya Idul Adha nan bahagia.
Pada waktu yang bersamaan, kaum Muslimin yang tengah menjalankan ibadah haji, kini tengah melontar Jumrah Aqabah setelah wukuf di Arafah sebagai simbol menundukkan ego dan melawan sifat-sifat syaithaniyah dan hayawaniyah yang ada dalam diri setiap manusia. Dengan spirit ketundukan dan kepatuhan akan kebesaran-Nya, umat Islam di seluruh penjuru bumi menggemakan takbir dan tahmid yang menggetarkan kalbu emnsyukuri hidayah yang telah diraihnya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah
Idul Adha merupakan hari raya bersejarah untuk mengenang kembali peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas putranya, Ismail AS. Saat Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah melalui mimpinya untuk "menyembelih" anaknya yang sangat dicintai, dia menghadapi dua pilihan yaitu mengikuti dorongan perasaan dengan menyelamatkan Ismail, atau mentaati perintah Allah dengan totalitas ketundukan.
Di tengah kebimbangan itu, Ismail menyatakan dengan tegas atas pertanyaan ayahnya, bahwa ia siap dengan sepenuh hati untuk menjalankan perintah Allah SWT. Kemudian, turunlah firman Allah SWT:
وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.
"Dan kami panggillah: Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini sebagai ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." (QS As-Shaffat: 104-107).
Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan qurban, di setiap tanggal 10 Dzulhijah dan pada hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Deskripsi historis ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah SWT and kerelaan untuk berkorban adalah esensi yang melekat dari ibadah Qurban. Nilai-nilai tersebut telah diimplementasikan dengan baik oleh Nabi Ibrahim dan ditanamkan kepada anak kesayangannya, Ismail as.
Sikap rela berkorban ini merupakan salah satu karakter keberimanan yang dimunculkan dari kedalaman spiritualitas demi sebuah tujuan tertinggi. Dalam konteks hubungan sosial, rela berkorban merupakan perwujudan sikap "altruisme", menjunjung nilai-nilai "mengutamakan orang lain" dari pada diri sendiri. Yaitu, mengorbankan apa yang kita punya, bahkan yang kita cintai untuk kesejahteraan orang lain. Jika Nabi Ibrahim as. mengorbankan Ismail, sedangkan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dengan rela mengorbankan segala materi untuk membantu orang lain yang lebih memerlukan, walaupun mereka sendiri masih membutuhkannya. Allah berfirman:
وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"...Mereka (kaum Anshar) mengutamakan kepentingan orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka, meski mereka sendiri masih memerlukannya..." (QS Al-Hasyr: 9).
Ayat ini menunjukkan keberhasilan Rasulullah SAW dalam menanamkan karekater kuat dan memupuk sikap solidaritas kemanusiaan di kalangan para sahabat. Atas alasan ini, mereka rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi kepentingan yang lebih besar. Untuk itu, hari raya Idul Adha seharusnya dijadikan momentum untuk penguatan karakter keimanan, memupuk rasa solidaritas yang mampu mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan.
Dalam satu studi tentang "Spending Money on Others", dalam ulasan Blanding, M (2023) Why giving to others makes us happy. Working Knowledge, Harvard Business School menyatakan bahwa para peneliti meminta partisipan untuk sekadar mengingat kembali saat mereka dermawan kepada orang lain dan membandingkan perasaan mereka saat mereka memberi kepada orang lain dan saat mengingat mereka menghabiskan uang untuk diri sendiri.
Para peneliti tersebut menemukan bahwa orang tidak mengekspresikan kebahagiaan saat mengingat menghabiskan uang untuk diri sendiri sebanyak dan sebaik saat mereka mengingat tindakan memberi kepada orang lain.
Hasil riset Elizabeth Dunn, pakar psikologi sosial dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, menyimpulkan bahwa semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain terbukti menambah kebahagiaannya sebagaimana dimuat dalam Jurnal SCIENCE (2008) dengan judul tulisan yang mengejutkan: "Spending Money on Others Promotes Happiness" (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).
Temuan ilmiah tersebut menunjukkan, bahwa yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membelanjakannya. Orang yang menyedekahkan uang atau hartanya untuk membantu mereka yang membutuhkan ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri. Logika terbalik yang jamak terjadi justru mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi demi mengejar kebahagiaan semu.
Momentum Idul Adha yang menekankan prinsip solidaritas dan soliditas publik jika benar-benar dijadikan landasan untuk membangun negeri dapat dimulai saat ini. Seberat apapun problem yang dihadapi oleh negara ini, dengan modal semangat pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan, niscaya berbagai masalah akan teratasi. Sebab, rakyat dan para pemimpinnya merasa "berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing". Langkah ini juga akan mengikis sikap mementingkan diri sendiri dan mencintai harta (hubbud dunya) secara berlebihan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Berdasarkan paparan di atas, ibadah qurban mempunyai dua nilai: kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Kesalehan spiritual dalam hal ini adalah penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim. Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Ismail. Sikap ini penting untuk diteladani, terutama bagi generasi muda Indonesia.
Ismail adalah figur anak saleh, atau prototipe generasi muda yang baik. Ia berpandangan jauh ke depan atas dasar spiritualitas yang tinggi, berani mengambil sikap di saat situasi yang sulit, rela berkorban, dan berbakti kepada orang tuanya. Ismail bukanlah pemuda penakut yang mudah putus asa, tapi seorang lelaki muda gentleman yang berani mengambil risiko atas sebuah prinsip yang diyakininya. Ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya dan berkata:
يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
"...Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Shaffat: 102).
Ismail juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Dalam surat Maryam ayat 55 dijelaskan bahwa Ismail adalah sosok pemuda yang "shadiqal wa'di", yaitu jujur dan menepati janji. Imam al-Thabari dalam kitab Jami'ul Bayan menjelaskan bahwa ada dua dimensi kejujuran dalam diri Ismail. Pertama, kejujuran yang dibangun dalam relasi antar manusia, dan kedua, kejujuran yang bersifat lebih eksklusif antara manusia dengan Tuhannya. Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan begitu, berbohong adalah termasuk dosa besar (kabura maqtan), sebab ia telah melakukan dua hal yaitu menipu orang lain dan ingkar janji di mata Allah.
Itulah hebatnya Ismail. Andai saja generasi muda Indonesia mampu meneladani Ismail, tentu bangsa ini akan bergerak lebih cepat ke arah yang lebih maju dan sejahtera. Kesalehan Ismail ini sudah sepatutnya menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda zaman sekarang. Apalagi, sejak 2012 lalu hingga 2035, Indonesia telah dan akan dibanjiri generasi muda usia produktif, atau yang biasa disebut bonus demografi.
Yaitu, periode jumlah tenaga kerja produktif jauh lebih banyak daripada tenaga non produktif. Puncak bonus demografi adalah antara tahun 2020-2035, di mana jumlah penduduk produktif (usia 15-64) akan jauh lebih besar dari pada usia non produktif (di bawah 15, dan di atas 64).
Ini artinya peranan generasi muda sekarang sangat strategis. Namun, bangsa ini juga tengah dihadapkan pada problematika yang menimpa generasi muda; mulai dari kasus penyalahgunaan NARKOBA, miras, terorisme, dan kekerasan. Menurut Indonesia Drugs Report 2022 yang dirilis oleh Pusat Penelitian Data, dan Informasi Badan Narkotika Nasional (Puslitdatin BNN) prevalensi jumlah penduduk usia 15-65 tahun yang terpapar narkoba pada 2021, setidaknya pernah pakai, pada 2021 adalah sejumlah 4,8 jackpot jiwa. Menurut data mereka, rentang usia pertama kali dalam menggunakan narkoba adalah pada 17 sampai 19 tahun. Di sinilah mengapa usia remaja menjadi rentang usia pengguna narkoba terbanyak dan pada usia mereka 35 sampai 44 tahun, ketergantungan ini dapat menjadi tanpa henti. Selain itu, kekerasan yang melibatkan pemuda juga masih terus menghiasi berita-berita di media massa, seperti bullying, tawuran, dan geng motor.
Hal ini bisa terjadi antara lain dikarenakan cara berfikir yang pendek, tidak mempunyai harapan hidup, serta mementingkan diri sendiri. Apalagi didasarkan pada sebuah keyakinan yang ingin cepat mendapatkan kesenangan hidup dengan cara mengorbankan diri dan bahkan menyakiti orang lain. Ini tidak boleh dibiarkan. Bagi orang tua dan juga generasi muda, perlu meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim as, supaya bisa terhindar dari hal-hal negatif. Sebab, Nabi Ibrahim telah berhasil membangun keluarga dengan karakter pasrah total kepada Allah SWT. dan gigih berjuang untuk meraih apa yang diinginkan dengan kesungguhan tekad dan komitmen ilahiyah.
Dalam istilah agama, hal ini lebih kita kenal sebagai ikhtiar dan tawakkal (i'qil wa tawakkal). Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu-kesatuan yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk tercapainya keseimbangan dalam perjalanan kehidupan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah
Tidaklah tercapai suatu tujuan ataupun cita-cita dalam kehidupan, melainkan harus didukung oleh ikhtiar atau totalitas usaha dalam meraihnya. Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam upaya meraih tujuan hidup. Namun tidak instan, perlu usaha keras dan totalitas untuk meraih cita dengan karakter kuat dan semangat berkorban. Hal ini tidak akan bermakna, serta seringkali menjadi sia-sia, apabila tidak dibarengi dengan totalitas kepasrahan dan doa kepada Allah SWT.
Tentang kedua prinsip ini, istri Nabi Ibrahim, Hajar telah mengajarkan kepada kita dalam peristiwa Sai. Ia tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit. Ia berlari ke sana ke mari, dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya dan berputus asa.
Ia gunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti. Kita tahu bahwa Hajar tidak mendapatkan apa yang dicari dari hasil upayanya saat naik ke gunung Shafa dan gunung Marwah, tetapi dari karunia Allah SWT. lewat tendangan kaki balita Nabi Ismail as. Pencarian air ini melambangkan sebuah proses upaya dengan gigih untuk sebuah tujuan hidup yang lebih baik di muka bumi meskipun kadang mendapatkan bukan dari upayanya tetapi karena karunia Allah SWT.
Berjuang hidup yang pantang menyerah. Setiap orang harus siap berjuang keras dan pantang menyerah. Namun demikian, juga selalu disertai dengan kesabaran, keuletan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam hidup ini, kita haruslah siap menghadapi segala kemungkinannya.
Terkadang kegagalan harus kita alami untuk menjadikan kita semakin kuat. Terkadang juga, keberhasilan datang menghampiri usaha keras. Tetapi, jangan sampai terjerumus lupa diri kepada Allah, Sang Penentu segala hasil. Ini penting agar kita tidak sombong, angkuh, dan lupa atas keberhasilan tersebut. Itulah tujuan yang ingin dicapai dengan sikap tawakkal dalam totalitas usaha, sebagaimana dicontohkan Hajar saat mendaki dan menuruni bukit Shafa dan Marwah.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd
Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah
Di akhir khutbah ini, saya ingin memberikan underline bahwa Idul Qurban mengantarkan kita untuk dapat meneladani kisah sukses keluarga Nabi Ibrahim. Pertama, sosok Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail AS mengajarkan kepada kita tentang pentingya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, serta optimisme dalam menjalani hidup. Ini merupakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga yang patut diteladani. Masing-masing anggota keluarga mempunyai karakter kuat yang didasari pada keimanan. Sikap taat kepada Allah, gigih berjuang, dan jujur harus diutamakan dalam mengarungi kehidupan ini.
Kedua, peristiwa qurban mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari untuk memupuk solidaritas kemanusiaan. Tanpa adanya pengorbanan, manusia akan mementingkan dirinya sendiri, lalu menjadi manusia rakus dan acuh terhadap lingkungan sekitar.
Di hari raya Idul Adha kali ini, mari kita kobarkan semangat dan optimisme untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan meneladani totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah; kerelaan pengorbanan dan kejujuran Nabi Ismail, serta kegigihan dan ikhtiyar yang dilakukan oleh Hajar.
جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ السُّعَدَاءِ المَقْبُوْلِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالَى فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر - الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَهْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَهْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ المُتَافِقُوْنَ.
الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْراً كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَهْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَاماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَائِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَد| فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْا الخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْا عَنِ السَّيِّئَاتِ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْا اللهَ إِلَى مَا دَعَاكُمْ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ اللهُ عَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْهَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ. يَا إِلَهَنَا وَإِلَهَ كُلِّ شَيْءٍ. هَذَا حَالُنَا يَا اللهُ لَا يَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلَاءَ وَالبَلَاءَ وَالوَبَاءَ وَالفَحْشَاءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةَ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.
5. Tema Khutbah Idul Adha 2026 Tentang Hari Raya dan Kebahagiaan Bersama
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْاَنِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هوَ الْأَبْتَرُ
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Mari kita awali khutbah ini, dengan senantiasa mengungkapkan syukur dan terimakasih kepada Allah swt, dengan kalimat alhamdulillâhilladzi bi ni'matihi tatimmusshalihat, yang telah mempertemukan kita semua pada momentum yang sangat luar biasa dan sakral, yaitu Hari Raya Idul Adha. Mudah-mudahan hari raya ini bisa menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba yang suci, diampuni segala dosa dan diterima semua amal ibadah oleh-Nya.
Shalawat dan salam tak henti-hentinya kita haturkan, kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alih wa sahbih, sebagai manusia terbaik dan utusan terbaik. Karena berkah dakwah dan perjuangannya-lah, kita semua bisa berkumpul saat ini dalam keadaan iman dan Islam. Semoga kita semua diakui sebagai umatnya dan bisa mendapatkan syafaatnya, kelak pada hari kiamat. Amin ya rabbal alamin.
Selanjutnya, melalui mimbar yang mulia dan momentum yang agung ini, kami selaku khatib mengajak kepada diri kami sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang turut hadir pada pelaksanaan shalat Idul Adha ini, untuk terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, salah satunya adalah dengan meningkatkan rasa kepedulian sosial dan empati terhadap sesama.
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Menumbuhkan kepedulian sosial dan empati kepada sesama saudara merupakan salah satu cara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt yang bisa kita lakukan saat ini. Dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, kita semua bisa lebih memahami nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan solidaritas yang diajarkan dalam Islam. Sehingga, kita semua bisa menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat dan bantuan kepada sesama.
Menjadi manusia yang bermanfaat dan peduli terhadap sesama, merupakan salah satu ajaran mulia dalam agama Islam. Bahkan, Islam mengajarkan kepada kita semua, bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat terhadap sesama. Pasalnya, dengan memberikan manfaat kepada orang lain, kita bisa menciptakan dampak positif dalam kehidupan mereka. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya, "Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain." (HR ad-Daru Quthni dan al-Baihaqi).
Momentum Hari Raya Idul Adha merupakan waktu yang sangat tepat untuk mengaplikasikan hadits ini. Pada momentum ini, kita semua yang sudah mampu untuk berkurban, sangat dianjurkan untuk berkurban. Tujuannya, selain sebagai bentuk patuh terhadap perintah Allah swt dan mendekatkan diri kepada-Nya, juga untuk menumbuhkan sikap kepedulian sosial dan empati kepada sesama manusia. Pentingnya dan perintah berkurban telah ditegaskan dalam Al-Qur'an, Allah swt berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya, "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." (QS Al-Kautsar [108]: 2).
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Hari Raya Idul Adha tidak hanya tentang ritual ibadah shalat dan takbir saja, namun juga untuk membangun dan memperkuat hubungan sosial. Dan hal ini bisa kita raih dengan cara berkurban. Dengan berkurban, selain menjadi bentuk kepatuhan dan wujud syukur setiap Muslim kepada Allah, juga memiliki makna sosial yang sangat dalam, yaitu merasakan empati terhadap sesama yang kurang beruntung sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam membagi rezeki.
Oleh sebab itu, ibadah kurban harus benar-benar dibangun atas dasar kesadaran dan kepedulian yang tinggi kepada saudara-saudara yang kurang mampu, sehingga orang-orang yang berkurban akan melakukannya dengan penuh ikhlas karena Allah semata. Dan, semua ini tidak bisa kita raih selain dilandasi dan didasari oleh ketakwaan kepada-Nya. Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Artinya, "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu." (QS Al-Hajj, [22]: 37).
Perintah untuk membangun kepedulian sosial kepada kerabat, saudara, fakir-miskin dan lainnya, juga tertuang dalam Al-Qur'an surat An-Nisa', Allah swt berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Artinya, "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki." (QS An-Nisa', [4]: 36).
Tidak hanya ayat di atas, Rasulullah juga menegaskan bahwa tidak sempurna iman orang yang hanya berpikir tentang perutnya sendiri and mengenyangkannya, tanpa mempedulikan saudara dan tetangganya yang kelaparan. Dalam hadits yang berasal Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
Artinya, "Tidaklah beriman, orang yang selalu kenyang, sementara tetangganya lapar sampai ke lumbungnya." (HR Al-Baihaqi).
Ma'asyiral Muslimin jamaah shalat Idul Adha yang dirahmati Allah
Itulah pentingnya menjadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk membangun kepedulian sosial dan empati terhadap sesama, yaitu dengan cara berkurban. Oleh karena itu, hari raya tidak hanya tentang ibadah shalat sunnah saja, namun juga tentang kepedulian sosial kepada sesama, yaitu dengan cara berkurban.
Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjadikan momentum perayaan shalat sunnah Idul Adha ini sebagai ajang untuk membangun spirit kebahagiaan bersama, kepedulian bersama dan empati kepada orang-orang yang tidak mampu, sehingga harapannya, kita semua dijadikan hamba-hamba yang dicintai dan disenangi oleh Allah swt.
Demikian khutbah Idul Adha perihal ibadah kurban dan kepedulian sosial ini. Semoga bisa membawa bermanfaat dan membawa keberkahan bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالِحِينَ
اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَل| عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلَاحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.
Itulah contoh lima tema khutbah Idul Adha 2026 yang menarik dan menyentuh hati.