Bermain untuk Tim Nasional Indonesia adalah mimpi yang hidup di benak hampir setiap pesepak bola muda di Tanah Air.

Mengenakan seragam merah putih dengan lambang Garuda di dada merupakan hasil dari perjalanan panjang yang ditempa oleh kerja keras, pengorbanan, dan disiplin. 

Mimpi itulah yang kini mulai menjadi kenyataan bagi empat talenta muda Papua Football Academy (PFA): Yance Glen Imbiri, Dolvi Salossa, Stenly Meyanu, dan Melki. 

Papua Football Academy (PFA) merupakan program investasi sosial yang diinisiasi dan didanai penuh oleh PT Freeport Indonesia. Akademi ini diluncurkan pada 31 Agustus 2022 sebagai bagian dari program pengembangan sumber daya manusia Papua melalui olahraga sepak bola.

PFA merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Freeport Indonesia untuk mendukung pembangunan masyarakat Papua, khususnya melalui pendidikan dan olahraga.

Program ini lahir setelah sukses penyelenggaraan PON XX Papua dan memanfaatkan fasilitas olahraga yang telah dibangun di Mimika.

Perjalanan mereka menuju pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia U-17 tidak lahir dalam semalam.

Di tengah persaingan sepak bola modern, bakat saja tak lagi cukup; disiplin latihan, kemauan belajar, mental yang kuat, serta keyakinan kepada Tuhan menjadi bekal yang mereka pegang setiap hari. 

Nilai-nilai itulah yang ditempa selama mereka menimba ilmu di PFA hingga akhirnya berbuah manis.

Meski berangkat dari akademi yang sama, jalan yang mereka tempuh menuju skuat Garuda Muda tidaklah serupa. Masing-masing memiliki kisah, tantangan, dan momen unik tersendiri. 

Melki Yatipai: Panggilan di Tengah Derasnya Hujan

Melki Yatipai mengenang dengan jelas saat pertama kali mendapatkan panggilan Timnas Indonesia U-17.

Pemain berposisi bek kanan dan gelandang bertahan ini mengingat momen dalam sebuah game internal yang merupakan bagian dari coaching clinic oleh perwakilan asosiasi sepak bola Belanda (KNVB) dan PSSI di Mimika Sport Complex. 

“Itu hujan turun cukup deras dan itu seperti latihan biasa. Saya bermain bersama teman-teman dalam sebuah pertandingan internal begitu, lalu setelahnya saya dipanggil tim pelatih dan perwakilan dari PSSI bahwa saya ikut pemusatan latihan Timnas Indonesia U-17. Saya cukup terkejut dan bangga, saya tidak pernah menyangka akan dipanggil,” ujarnya saat ditemui di Solo, Kamis (2/7/2026) sore.

Pemain yang mengidolakan Sadio Mane ini langsung menghubungi kedua orang tuanya setelah mendapatkan panggilan tersebut. Orang tuanya berpesan untuk tidak cepat puas dan selalu ingat kepada Tuhan.

Bagi Melki, PFA mengubah banyak hal, baik yang bersifat taktik, kedisiplinan di lapangan, maupun kepribadian di luar lapangan. Posisinya sebagai bek kanan juga tak lepas dari arahan pelatih PFA, Ardiles Rumbiak. 

Dolvi Salossa: Kedisiplinan Hidup dan Pengalaman Eropa

Cerita berbeda dikisahkan oleh Dolvi Salossa. Semuanya dimulai pada 2023 ketika keluarganya mendapat informasi mengenai seleksi PFA. Saat itu ia hanya datang dengan harapan sederhana untuk mencoba kesempatan.

Bersama PFA, putra dari legenda sepak bola Indonesia dan Persipura, Ortizan Salossa, mulai menjalani kehidupan baru sebagai calon pesepak bola profesional. Jadwal latihan yang padat, pendidikan formal, pembinaan karakter, hingga aturan disiplin perlahan mengubah kebiasaannya.

Hal utama yang berubah meliputi pengaturan pola makan, waktu istirahat, serta disiplin waktu tidur.

Berposisi sebagai penyerang, Dolvi dilirik sejak usia muda berkat prestasinya yang beragam, mulai dari top skor Barati Cup International U-14 2024, top skor Garuda International Cup U-15 2025, hingga pemain terbaik Piala Soeratin Nasional U-15 2025.

Pemanggilan timnas pun didapatkannya setelah Piala Soeratin U-15 tersebut. Salah satu pengalaman penting yang membentuk perkembangan Dolvi adalah program Elite Camp di Austria pada 12 Februari hingga 9 Maret 2026 bersama dua rekannya, Jupri Kogoya dan Yance Glen Imbiri. 

Mereka menjalani latihan intensif di tiga klub Austria: FK Austria Wien, FAC Wien, dan First Vienna FC. Pengidola Lionel Messi ini mengaku mendapat banyak pelajaran agar bermain lebih dewasa, seperti tahu kapan harus berakselerasi atau menembak, serta pentingnya tidak protes berlebihan kepada wasit. 

Stenly Meyanu: Pemantauan Senyap dan Adaptasi Mental

Perjalanan Stenly Meyanu memiliki cerita tersendiri. Pemain asal Merauke itu sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diamati oleh pemandu bakat Timnas Indonesia setelah pertandingan di Piala Soeratin U-15. 

“Setelah Piala Soeratin U-15, saya dipantau. Habis pertandingan saya diminta nama lengkap dan tinggi badan. Ternyata itu saya masuk dalam daftar pemain yang dipanggil mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-17,” kenangnya. 

Saat menghubungi orang tuanya, ia diingatkan untuk tidak cepat puas, tetap kerja keras, dan mengandalkan Tuhan. Sebagai seorang gelandang, Stenly memang sudah terbiasa menjadi penghubung permainan sejak pertama kali bermain sepak bola.

Namun, baginya perubahan terbesar selama berada di PFA justru bukan soal teknik, melainkan mental. Di PFA ia belajar bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, teman, dan pelatih baru.

Kemampuan adaptasi ini kembali diuji di Timnas U-17, di mana tuntutan latihannya berbeda karena dituntut berpikir dan mengambil keputusan lebih cepat dalam tekanan tinggi. 

Yance Glen Imbiri: Mengikis Kemalasan Demi Kedisiplinan Subuh

Kerja keras, disiplin, dan konsistensi juga menjadi kunci bagi Yance Glen Imbiri. Kehidupan di PFA mengubah total kebiasaan remaja asal Waropen ini.

Sebelum masuk PFA, bangun pagi menjadi tantangan tersendiri baginya. Namun, sistem akademi yang membiasakan seluruh pemain bangun pukul 05.00 WIT untuk memulai aktivitas sejak subuh telah membentuk dirinya menjadi lebih rajin dan disiplin. 

Glen bergabung dengan PFA pada 2023, dan Juli tahun ini menjadi akhir masa pendidikannya di akademi tersebut. Sebelum lulus, ia mendapat hadiah terbesar berupa pengumuman keikutsertaan dalam seleksi Timnas U-17.

Kabar gembira ini langsung ia bagikan kepada orang tuanya di Waropen, yang kemudian memotivasinya untuk tetap fokus dan selalu mengandalkan Tuhan. 

Glen mengakui persaingan di level Timnas jauh lebih ketat karena semua pemain memiliki kualitas tinggi. Jadwal yang padat menuntutnya pintar mengatur waktu istirahat dan kondisi badan.

Kendati demikian, ia melihat tantangan tersebut secara positif untuk memicu dirinya bekerja lebih keras. Untuk meningkatkan rasa percaya diri, Glen kerap membaca kutipan penyemangat di media sosial. Di masa depan, ia mematok mimpi besar untuk bisa bermain di kompetisi elite Eropa bersama Barcelona. 

Harapan Baru untuk Tanah Papua

Kini, keempat pemain tersebut menjadi bagian dari skuad Timnas Indonesia U-17 yang tengah menjalani pemusatan latihan. Mereka menjadi pemain pilihan saat Timnas Indonesia U-17 melakoni pertandingan persahabatan melawan Timnas Malaysia U-17 di Stadion Manahan pada Sabtu dan Selasa (4 dan 7/7/2026) lalu.

Pada pertandingan pertama laga latihan bersama itu berakhir imbang dengan skor 0-0. Pada laga kedua Pasukan Garuda Muda menundukkan Malaysia dengan skor meyakinkan 3-0.

Bagi masyarakat Papua, kehadiran mereka di Timnas kelompok umur bukan sekadar pencapaian individu, melainkan simbol nyata bahwa pembinaan usia muda di Tanah Papua mulai menunjukkan hasil. 

Meskipun tumbuh dari daerah, latar belakang, dan cerita keluarga yang berbeda, mereka dipertemukan oleh satu mimpi yang sama: mengenakan seragam Merah Putih.

Empat putra Papua ini tidak hanya membawa kemampuan mengolah bola, tetapi juga membawa doa orang tua, nilai disiplin dari PFA, semangat kebersamaan, serta harapan besar masyarakat Papua untuk melihat anak-anak dari Timur Indonesia berdiri sejajar dengan talenta terbaik dari seluruh penjuru negeri. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.