Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (6/9/2026) mengatakan pemantauan dilakukan selama 24 jam karena sebaran abu bisa berubah mengikuti aktivitas erupsi serta kondisi atmosfer.
Berdasarkan analisis citra satelit pada Senin (7/9/2028) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster abu vulkanik. Abu pada lapisan hingga sekitar 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, abu hingga ketinggian sekitar 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.
Sebaran abu bahkan berdampak pada penerbangan. BMKG mencatat adanya penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta (Banten), Halim Perdanakusuma (Jakarta), dan Radin Inten II (Lampung), pada waktu yang berbeda.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu mengetahui arah pergerakan abu, terutama bagi mereka yang berada di sekitar Selat Sunda hingga wilayah yang terdampak.
Untuk mengikuti perkembangan tersebut, masyarakat bisa memanfaatkan sejumlah link yang dapat dibuka langsung lewat HP.
Lantas, apa link pantau sebaran abu vulkanik Anak Krakatau yang bisa diakses masyarakat? Berikut di bawah ini pembahasan lengkapnya.
Link Pantau Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau
Bagi masyarakat yang ingin mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau lewat HP, berikut ini tiga link yang bisa diakses:
1. Link Citra Sebaran Abu Vulkanik BMKG
Salah satu sumber utama yang dapat digunakan untuk pantau sebaran abu vulkanik adalah laman resmi BMKG.
https://www.bmkg.go.id/cuaca/satelit/citra-sebaran-abu-vulkanik
Laman tersebut menyajikan citra satelit yang telah dianalisis untuk menunjukkan keberadaan dan pergerakan abu vulkanik.
Pada peta, area hasil analisis abu vulkanik ditampilkan dengan warna merah dan dibatasi menggunakan poligon berwarna kuning. Dengan melihat peta tersebut, pengguna dapat mengetahui gambaran wilayah yang berpotensi terdampak serta arah pergerakan abu.
Informasi pada laman BMKG bersumber dari analisis aktivitas gunung berapi dan informasi Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin.
Karena bisa dibuka melalui browser HP, laman ini menjadi salah satu pilihan utama untuk masyarakat yang ingin memantau perkembangan abu vulkanik Anak Krakatau secara visual.
2. Instagram resmi BMKG
Informasi yang lebih mudah dicerna juga bisa dipantau melalui akun Instagram resmi BMKG, @InfoBMKG.
BMKG menggunakan kanal media sosialnya untuk menyampaikan berbagai informasi dan pembaruan kepada masyarakat.
Dalam siaran pers terbarunya mengenai Anak Krakatau, BMKG juga secara khusus mengarahkan masyarakat agar mendapatkan informasi dari kanal resmi BMKG, PVMBG/Badan Geologi, serta instansi pemerintah yang berwenang. Akun Instagram yang dicantumkan BMKG sebagai kanal resminya adalah @InfoBMKG.
Kanal ini bisa menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin melihat pembaruan kondisi tanpa harus membaca citra satelit secara langsung.
Namun, untuk informasi teknis dan peta sebaran yang lebih rinci, laman citra satelit BMKG tetap menjadi rujukan yang lebih tepat.
3. Dashboard abu.cikoytew.my.id
Alternatif lainnya adalah situs abu.cikoytew.my.id.
Berbeda dari dua kanal sebelumnya, situs ini bukan situs resmi pemerintah. Situs tersebut merupakan dashboard pihak ketiga yang menggabungkan sejumlah sumber data mengenai aktivitas gunung berapi dan abu vulkanik.
Pengguna dapat mencari informasi berdasarkan nama gunung maupun kota. Dashboard tersebut juga menyediakan sejumlah fitur, seperti status erupsi, perkiraan jarak sebaran abu ke kota, riwayat pergerakan abu, serta kondisi arah angin di sekitar gunung.
Selain itu, tersedia pula informasi mengenai sulfur dioksida (SO2) dan peta pemodelan yang memanfaatkan data CAMS/ECMWF melalui Windy.
Untuk status aktivitas gunung, dashboard tersebut menyebut melakukan pemeriksaan silang dengan data PVMBG, sedangkan informasi abu di udara mengacu pada advisory VAAC Darwin.
Karena merupakan layanan pihak ketiga, informasi dari situs tersebut sebaiknya tetap dibandingkan dengan sumber resmi seperti BMKG dan PVMBG, terutama apabila digunakan untuk mengambil keputusan terkait keselamatan.
Sebaran Abu Vulkanik Bisa Berubah
Masyarakat perlu memahami bahwa sebaran abu vulkanik Anak Krakatau dapat berubah sewaktu-waktu.
Arah pergerakan abu dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari kekuatan erupsi, tinggi kolom erupsi, hingga arah dan kecepatan angin di atmosfer. Artinya, peta yang menunjukkan kondisi pada pagi hari belum tentu sama dengan kondisi beberapa jam berikutnya.
BMKG mengatakan pemantauan Anak Krakatau dilakukan secara nonstop selama 24 jam menggunakan berbagai instrumen dan analisis dari PVMBG.
Untuk mendapatkan informasi terbaru, masyarakat disarankan mengutamakan kanal resmi BMKG dan PVMBG, sementara dashboard pihak ketiga dapat digunakan sebagai informasi pelengkap.
Demikian informasi tentang link pantau sebaran abu vulkanik Anak Krakatau beserta informasi lainnya yang penting diketahui.