IHSG Rawan Turun, Saham AKRA, MDKA, HRUM, INDF Jadi Rekomendasi
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham hari ini. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG kembali terkoreksi 0,25% ke level 6.619 pada awal pekan seiring meningkatnya tekanan jual.
Menurutnya, indeks telah mencapai area koreksi yang sebelumnya diproyeksikan MNC Sekuritas. Dalam skenario terburuk, Herditya memperkirakan IHSG kini sudah berada di penghujung wave v dari wave (c).
“Sehingga IHSG rawan terkoreksi dengan area terdekat berada di 6.578–6.598,” tulis Herditya dalam risetnya, Selasa (8/9).
MNC Sekuritas menargetkan area support IHSG berada di kisaran 6.561–6.476, sementara level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.705–6.755.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga tertahannya laju kenaikan harga.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness PT Harum Energy Tbk (HRUM) akumulasi beli di rentang Rp 890–Rp 910 dengan target harga di Rp 985–Rp 1.015, sementara level stoploss di bawah Rp 870.
Kemudian PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) direkomendasikan trading buy pada area Rp 2.860–Rp 2.880 dengan target harga di Rp 2.980–Rp 3.020, dan stoploss di bawah Rp 2.850.
Sentimen IHSG
Sedangkan Phintraco Sekuritas mencatat IHSG ditutup melemah 0,25% ke level 6.619,67 pada perdagangan Senin (7/9). Di tengah koreksi indeks, sektor kesehatan menguat 0,82% seiring imbauan penggunaan masker akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau.
Secara teknikal, Phintraco melihat indikator Stochastic RSI IHSG membentuk death cross, sementara histogram positif MACD mulai menyempit. IHSG juga ditutup di bawah level moving average (MA) 5, yang mengindikasikan tekanan terhadap indeks masih berlanjut.
“Diperkirakan IHSG akan bergerak sideways cenderung melemah menguji level 6.550-6.600 pada perdagangan hari ini,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Selasa (8/9).
Di samping itu, Phintraco Sekuritas menyoroti cadangan devisa Indonesia yang meningkat menjadi US$ 146,5 miliar pada Agustus 2026, dari US$ 145,3 miliar pada Juli 2026. Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak Maret 2026.
Kenaikan cadangan devisa ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa dan penarikan utang luar negeri pemerintah. Peningkatan itu mampu mengimbangi kebutuhan pembayaran utang luar negeri hingga intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Dari sisi fiskal, Phintraco mencermati permintaan tambahan anggaran kementerian dan lembaga (K/L) untuk 2027 yang mencapai hampir Rp 1.000 triliun.
Namun, Phintraco menyoroti keterbatasan ruang fiskal membuat pemerintah tidak dapat mengakomodasi seluruh permintaan tersebut. Nilainya juga jauh melampaui tambahan anggaran belanja K/L yang telah disepakati sebesar Rp 9,1 triliun.
“Pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran supaya defisit anggaran tidak melebihi yang sudah ditetapkan,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).
