Profil Sumarni Laman, Ingin Suara Masyarakat Adat Didengar di G20
ZIGI –Sumarni Laman memiliki ketertarikan terhadap isu lingkungan karena pernah merasakan sendiri bencana kebakaran hutan di Kalimantan Tengah sekitar tahun 2000-an. Hal tersebut yang menginspirasinya untuk berpartisipasi di Yayasan Ranu Welum dan sempat menjadi koordinator Youth Act Kalimantan.
Selain itu, Sumarni Laman memiliki harapan besar usai Indonesia dipilih sebagai tuan rumah G20. Salah satunya agar suara kelompok marjinal dan masyarakat adat lebih didengar terkait kebakaran hutan, kejahatan lingkungan hingga sengketa tanah di Kalimantan Tengah. Yuk kita kenalan dengan sosok Sumarni Laman lewat artikel di bawah ini!
Baca Juga: Novita Indri, Aktivis Climate Rangers Desak G20 Percepat Target Iklim
1. Latar Belakang Sumarni Laman
Sumarni Laman lahir dan besar di Desa Kampuri, Kalimantan Tengah. Saat ini, Marni, sapaan akrabnya, tengah menjalani program S2 di School of Government and Public Policy Indonesia. Dia tinggal di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Kini Marni menjabat sebagai Public Relation di Yayasan Ranu Welum yang menggawangi Youth Act Kalimantan sejak 2019. Dia juga bertanggung jawab atas The Heartland Project, sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran anak-anak muda tentang dampak kebakaran hutan.
Saat melakukan wawancara dengan Zigi.id, Sumarni tak ingin melabeli dirinya sebagai aktivis. Karena segala hal yang telah dia lakukan merupakan panggilan hati. Pernah merasakan dampak dari kebakaran hutan hebat, dia tergerak untuk melindungi tanah kelahirannya di Kalimantan Tengah.
“Kata aktivis sepertinya bukan untuk saya. Soalnya saya tidak melihat diri saya sebagai aktivis. Karena apa yang saya lakukan ini adalah panggilan hati. Ini adalah suatu hal yang saya lakukan untuk memberikan kembali kepada komunitas. Saya suka membantu sesama,” ungkap Sumarni Laman.
2. Awal Mula Bergabung di Yayasan Ranu Welum dan Koordinator Youth Act
Sumarni Laman lulus dengan gelar Sarjana Pendidikan Kimia dari Universitas Palangkaraya tahun 2016. Dalam wawancara, Marni memantapkan diri untuk bergabung sebagai relawan di Ranu Welum pada 2017 tak lama setelah lulus kuliah. Berselang dua tahun, Marni baru memutuskan kembali menjadi staf resmi di Rabu Welum pada 2019.
“Beberapa hari setelah lulus kuliah saya tersadar, ‘Wah belum melakukan apa pun untuk Kalimantan’. Sebelum ambis mencari kerja, di tahun 2019 setelah saya pulang dari berbagai kegiatan di kota lain, saya kembali gabung di Yayasan Ranu Welum dan dipercaya jadi koordinator Youth Act,” ceritanya.
3. Pandangan Keluarga Terkait Keputusan Sumarni Laman
Sumarni Laman bersama tim pernah terjun langsung memadamkan api saat kebakaran hutan terjadi di Kalimantan Tengah bulan Juni hingga akhir November 2019.
Selama enam bulan, Marni dan para relawan juga aktif membagikan masker, memberikan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat yang terkena dampak, hingga harus menjaga ruangan agar asap tidak semakin berbahaya.
Tindakan Marni seperti demikian awalnya dipertanyakan oleh keluarganya. Apalagi, dengan statusnya sebagai seorang wanita, kegiatan tersebut cukup membahayakan. Meski demikian, Marni bersyukur karena sang Ibu kerap memberikan dukungan untuk kegiatannya selagi masih di jalan positif.
“Banyak yang enggak setuju, tapi setuju juga. Hingga sekarang, mereka (keluarga) berharap saya melakukan hal lain. Karena background saya (lulusan Sarjana Pendidikan Kimia), tapi malah melakukan banyak hal di lapangan. Apalagi saya perempuan. Tapi Mama saya suportif banget sih terhadap anak-anaknya, dan seluruh keinginan saya selagi positif,” ujarnya.
4. Hal Tersulit yang Pernah Dialami Sumarni Laman
Melanglang buana selama kurang lebih empat tahun, Sumarni Laman sering merasakan perang batin. Tantangan terbesarnya bukan di saat memberikan edukasi mengenai kebakaran hutan, dampak asap terhadap kesehatan lingkungan dan ekonomi, namun tentang mempertahan komitmen yang sudah dibuat.
“Menurut saya tantangan terbesar adalah gimana caranya untuk terus meyakini diri sendiri. Banyak hal yang bisa membuat kita mundur dan membelakangi orang-orang yang kamu perjuangkan bersama,” ucapnya.
Lalu dilanjutkan dengan, “Bahwa enggak apa-apa kalau merasa lelah dengan semua perjuangan, mau nangis ya enggak apa-apa. Tapi gimana caranya untuk terus berjuang. Setiap hari saya coba terus, untuk moving forward,” kata Sumarni.
5. Harapan Sumarni Laman untuk G20
Sumarni Laman sendiri sangat antusias menyambut G20, yang mana Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah. Ada harapan besar yang ingin terwujudkan lewat forum kerja sama ini.
Pertama, Sumarni Laman berharap suara masyarakat adat bisa lebih didengar oleh pemerintah. Pemilihan Indonesia sebagai tuan rumah juga bisa sekaligus menjadi perwakilan untuk negara berkembang.
Menurut Sumarni, forum kerja sama G20 yang berkaitan erat dengan iklim, perekonomian, dan teknologi, biasanya kebijakan lebih menguntungkan untuk negara maju. Namun dengan dipilihnya Indonesia, diharapkan kebijakan dapat berpihak kepada negara berkembang,
Sumarni lantas mengaitkan G20 dengan keadaan di Kalimantan Tengah. Di mana sumber daya alam banyak terdapat di sana. Namun kejahatan lingkungan dan sengketa tanah sering terjadi.
“G20 akan menjadi peluang besar untuk kita berbicara dan menuntut keadilan agar pertumbuhan ekonomi semakin berkembang. Tapi kita harus melihat aspek keadilan bagi masyarakat khususnya masyarakat adat dan juga untuk makhluk hidup lain yang jarang bersuara,” ujar Sumarni Laman.
Sumarni merujuk kepada kebarakan hutan yang disebabkan oleh oknum-oknum tertentu yang ingin membangun sektor ekonomi di Kalimantan Tengah. Makhluk hidup termasuk manusia dan hewan kehilangan tempat tinggal karena aksi tersebut. Praktis juga merusak kehidupan masyarakat adat yang menganggap hutan sebagai satu-satunya sumber kehidupan.
“Indonesia sebagai tuan rumah selain mewakili negara berkembang, kita mewakili sebuah negara multi-etnis yang memiliki banyak masyarakat adat. Jadi saya mengharapkan G20 bisa memberi peluang untuk masyarakat adat untuk bersuara,” tutupnya.
Sumarni Laman, yang selama ini memperjuangkan dan melindungi hutan dari kebakaran di Kalimantan Tengah, berharap G20 bisa menjadi sarana agar kebijakan baru dibuat, juga melibatkan kelompok marjinal dan masyarakat adat.
Baca Juga: Profil Gracia Paramitha, Co-Founder Indonesian Youth Diplomacy