ZIGI – Kasus Covid-19 di Indonesia semakin hari kian meningkat secara signifikan. Dilansir dari Katadata, terjadi kenaikan kasus positif Covid-19 sebesar 38,3% dan angka kematian akibat Covid naik sebesar 4,9% dalam waktu sepekan ini.
Pakar Epidemiologi Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai Indonesia dalam kondisi herd stupidity. Lantas apa itu Herd Stupidity? Yuk simak informasi berikut ini!
Apa itu Herd Stupidity?
Istilah herd stupidity datang dari Pakar Epidemiologi Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarat Universitas Indonesia (FKM UI). Menurut Pandu Riono kondisi herd stupidity terjadi lantaran masyarakat maupun pemerintah melakukan kebodohan, yang memicu lonjakan Covid-19.
Perilaku manusia melakukan suatu hal yang mendorong terjadinya replikasi virus, dengan memperbanyak diri sehingga virus tersebut mudah menular. Pandu menilai bahwa masyarakat Indonesia berperan dalam kondisi herd stupidity, dimana mereka tak merasa jera saat Covid-19 melonjak dengan mudik pada Lebaran tahun lalu.
Selain itu, pemerintah tak memberikan kebijakan yang tegas sehingga banyak masyarakat yang dapat melanggar aturan terkait Covid-19.
Dilansir dari Urban Dictionary, Herd Stupidity dapat diartikan sebagai tindakan orang-orang yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa orang-orang bodoh berkumpul untuk mengusir orang-orang yang sebenarnya lebih unggul secara intelektual.
Kondisi herd stupidity yang dimaksud Pandu adalah dimana pihak komunal yang abai terhadap pandemi Covid-19 yang menuju puncak gelombang kedua.
"Indonesia sudah lama dalam kondisi Herd Stupidity. Perilaku Manusianya yang dorong replikasi virus , memperbanyak diri dan berubah menjadi lebih mudah menular. Manusia yg mendapat amanah jadi pejabat dan manusia-manusia lain yg tidak berperilaku 5M & enggan divaksinasi," ungkap Pandu, yang dikutip dari akun twitter pribadinya bernama @drpriono1 pada 21 Juni 2021.
Covid-19 terus melonjak
Pandu pun mengungkapkan bahwa Indonesia dalam keadaan genting, masyarakat harus semakin waspada terhadap Covid-19 yang semakin melonjak. Dilansir dari Katadata.co.id pada Senin, 21 Juni 2021, Juru Bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan bahwa angka jumlah kematian akibat Covid-19 meningkat sebesar 4,9 persen dibanding pekan sebelumnya. Walaupun angka tersebut terbilang kecil, namun hal tersebut tak dapat ditolerir.
Kasus positif Covid-19, meningkat sebesar 38,3 persen secara nasional. DKI Jakarta menjadi daerah yang mengalami kenaikan secara signifikan sebesar 7.132 kasus dalam sepekan. Kemudian diikuti daerah Jawa Tengah naik sebesar 4.426 kasus, Jawa Barat naik 2.050 kasus, DI Yogyakarta naik 973 kasus, dan Jawa Timur naik 939 kasus.
Menurut Wiku, setiap harinya angka kematian harus dapat ditekan setiap minggunya, sementara angka kesembuhan justru semakin menurun sebesar 6,9 persen.
“Hal ini merupakan perkembangan yang sangat tidak diharapkan, di mana saat kasus meningkat harusnya dibarengi pula dengan meningkatnya kesembuhan," ujar Wiku, Juru Bicara Satgas Covid-19.