ZIGI – Fenomena quiet quiting dalam dunia kerja tengah viral di kalangan anak muda khususnya generasi milenial dan Gen Z. Istilah ini mengacu pada bekerja seperlunya dan menghabiskan banyak waktu bersama keluarga.
Pasalnya fenomena quiet quitting ini dianggap melekat pada anak muda terutama dalam dunia kerja saat ini. Lantas apa sebenarnya quiet quitting? Yuk simak penjelasannya di bawah ini!
Baca Juga: Arti Generasi Sandwich Serta Cara Memutus Rantainya
Istilah Quiet Quitting Pertama Muncul
Istilah quiet quitting pertama kali diviralkan oleh pengguna TikTok @zaidleppelin yang diunggah pada Juli 2022. Kisah viralnya tersebut langsung diangkat oleh Wall Street Journal.
“Kamu tidak keluar dari pekerjaanmu, kamu keluar dari gagasan untuk melampaui di tempat kerja,” ujar Zaik Khan dikutip dari TikToknya, @zaidleppelin pada Kamis, 1 September 2022.
Ia melanjutkan dalam aktivitas pekerjaan, tetap menjalankan kewajiban sebagai karyawan namun tidak lagi menganut budaya dalam tekanan kerja.
“Kamu tetap menjalankan kewajibanmu (sebagai pekerja) tapi kamu tidak lagi menganut hustle culture,” imbuhnya.
Melansir dari laman resmi Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture merupakan standar di masyarakat yang menganggap bahwa hanya bisa mencapai sukses kalau benar-benar mendedikasikan hidup untuk pekerjaan dan bekerja sekeras-kerasnnya hingga menempatkan pekerjaan di atas segalanya.
Pengertian Quiet Quitting
Melansir dari New York Post, quiet quitting bisa dikatakan berlawanan dari hustle culture. Quiet quitting sendiri sebenarnya sudah ada di China pada beberapa tahun lalu yang dikenal dengan lying flat atau tang ping.
Lying flat atau tang ping adalah fenomena gelombang pekerja muda yang memberontak terhadap konsep jam kerja yang panjang dan sulit di China. Tren tersebut sempat viral di media sosial China pada April 2021 lalu.
“Menolak gagasan bahwa pekerjaan harus mengambil alih hidup seseorang dan karyawan harus melampaui deskripsi pekerjaan mereka,” ujar editor Linkedin News dikutip Zigi.id dari LinkedInnya.
Penyebab Quiet Quitting
Melansir dari majalah TIME, fenomena quiet quitting sendiri muncul setelah pandemi Covid-19 yang menyebabkan karyawan membayangkan kembai seperti apa pekerjaan itu mengingat selama pandemi banyak orang bekerja secara remote, tidak bekerja di hari Jumat atau justru adanya PHK besar-besaran.
Direktur Pelaksana Radstad Jaya Dass mengatakan selama pandemi semakin banyak pekerja muda yang merasa tidak mendapatkan pengakuan dan kompensasi dari kantornya karena telah bekerja secara berlebihan dari kewajibannya.
Quiet Quitting Menurut Psikolog
Psikolog Lee Chamber melihat quiet quitting bukan sesuatu yang buruk dilakukan oleh seseorang dalam dunia kerja. Lee mengutip dari studi kasus 2021, dimana pekerja kesehatan dapat mengelola pekerjaan selama pandemi Covid-19 dengan menerapkan batasan.
“Quiet quitting memiliki potensi untuk meningkatkan pengaturan batas serta membantu orang menjauh dari produktivitas toxic mereka,” ujar Lee Chambers dilansir dari Healtline.
Dengan adanya quiet quitting ini justru dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang karena mengambil waktu istirahat yang cukup.
“Ini dapat memperdayakan mereka untuk mengambil kendali atas waktu istirahat dan pertumbuhan mereka. Menciptakan ruang untuk refleksi tentang cara mereka menanamkan kesejahteraan ke dalam hidup mereka,” imbuhnya.
Tanggapan Lee Chamber ini juga disetujui oleh psikolog dan penulis kesehatan lainnya yakni Tania Taylor dimana quiet quitting bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
“Waktu berkualitas yang dihabiskan secara positif dengan teman dan keluarga adalah bahan utama untuk meningkatkan kesejahteraan mental kita,” ujar Tania Taylor.
Itulah pengertian dari fenomena quiet quitting dalam dunia kerja yang viral di media sosial. Quite quitting disebut sangat melekat dengan kehidupan anak muda khususnya generasi milenial dan Gen Z untuk menghabiskan banyak waktu bersama keluarga dan teman.
Baca Juga: Kisah Demi Skipper, TikTokers yang Tukar Jepit Rambut Jadi Rumah Mewah