Mengapa Nekat Mudik Bisa Berdampak Buruk bagi Lansia?

Mudik bisa berdampak buruk bagi lansia sebab berpotensi menularkan Covid-19. Apalagi penduduk lansia berisiko 19,5 kali lipat terhadap kematian.
Image title
7 Mei 2021, 06:52
Petugas gabungan menghalau pemudik sepeda motor saat hari pertama penyekatan larangan mudik di Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/5/2020). Penyekatan akses transportasi tersebut sebagai tindak lanjut kebijakan larangan mudik Lebaran pada 6 -17 Mei 2021 yang b
ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/foc.
Petugas gabungan menghalau pemudik sepeda motor saat hari pertama penyekatan larangan mudik di Karawang, Jawa Barat, Kamis (6/5/2020).

Bulan Ramadan tanpa tradisi mudik bagi banyak orang mungkin terasa tidak afdal. Namun, di masa pandemi Covid-19 ini sebaiknya kegiatan mudik tidak dilakukan sebab ada bahaya mengintai. Terutama terhadap orang tua yang telah berusia lanjut.

Tradisi pulang ke kampung halaman pada umumnya untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak keluarga. Ajang berkumpul seperti ini malah bisa berujung bahaya sebab orang tua memiliki risiko terpapar dan kematian yang lebih tinggi bila terkena Covid-19. 

Berdasarkan analisa Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, penduduk lansia di atas 60 tahun berisiko 19,5 kali terhadap kematian. Sedangkan kelompok usia 46-59 tahun memiliki risiko 8,5 kali lipat. Apalagi bagi masyarakat yang memiliki komorbid atau penyakit bawaan. 

Seseorang yang memiliki satu penyakit komorbid berisiko 6,5 kali lipat untuk meninggal saat terinfeksi Covid-19. Sedangkan jika memiliki dua penyakit bawaan berisiko 15 kali lipat. Lalu yang memiliki tiga atau lebih penyakit komorbid memiliki risiko 29 kali lipat.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat, selama periode 7 Januari hingga 6 Maret 2021 kasus pada lansia berusia di atas 60 tahun mengalami peningkatan. Kasus positif naik sebesar 76,6 persen dari 81.499 kasus menjadi 143.913. 

Tingkat vaksinasi untuk lansia juga masih rendah. Berdasarkan data per 13 April 2021, baru 2.108.512 lansia atau 9,78% dari target yang telah mendapatkan vaksin dosis.

 

Aktivitas libur panjang pada perayaan Idul Fitri tahun ini perlu diwaspadai. Mengingat, berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, peningkatan kasus saat ada libur panjang bervariasi antara 37 persen hingga 119 persen. 

Apalagi, banyak masyarakat yang menyatakan keinginannya untuk tetap pulang ke kampung halaman.  Menurut survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub), masih terdapat masyarakat yang akan tetap mudik pada periode yang dilarang pemerintah. Perkiraan jumlah pemudik cukup besar, mencapai 27,6 juta orang. Daerah tujuan terbanyak adalah Jawa Tengah (37 persen), Jawa Barat (23 persen), dan Jawa Timur (14 persen).

Untuk meminimalisir penyebaran, pemerintah  mengeluarkan himbauan tidak mudik dan berupaya melakukan pembatasan mobilisasi saat hari raya. Selain itu, tetap memprioritaskan dan menggejot vaksinasi pada lansia.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait