Setelah Rokok Elektrik, Tiga Barang Ini Dibidik Kena Cukai Tahun Depan

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Martha Ruth Thertina

8/11/2017, 18.40 WIB

“Kalau dilihat, prioritas mungkin plastik dan minuman berpemanis karena ini yang mudah," kata Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Marizi Z. Sihotang.

Minuman
ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Pekerja menyusun aneka jenis minuman kaleng di salah satu grosir penjual makanan dan minuman kemasan di Pekanbaru, Riau, Senin (12/6).

Pemerintah terus mengupayakan penambahan objek kena cukai. Saat ini, yang tengah dikaji yaitu pengenaan cukai untuk plastik (kresek), minuman berpemanis, dan emisi kendaraan bermotor.

"Tahun depan kami usahakan sudah bisa goal  barang kena cukai baru," kata Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai di Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Marizi Z. Sihotang di kantornya, Jakarta, Rabu (8/11). (Baca juga: Rokok Elektrik Akan Terkena Cukai 57% Tahun Depan)

Khusus untuk cukai kresek, Marizi mengatakan instansinya sudah meminta Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mau membahasnya. Namun, informasi yang ia dapat, masih ada keberatan dari pengusaha soal rencana tersebut.

Sebelumnya, Ditjen Bea dan Cukai sempat menyebut potensi penerimaan dari cukai kresek mencapai Rp 500 miliar. "Harapan saya cepat kelar agar cukai jadi instrumen fiskal yamg dinamis," ujar dia.  (Baca juga: Banggar DPR Sepakati RAPBN 2018, Penerimaan Negara Naik 9,1%)

Bila lolos dalam pembahasan di parlemen, nantinya akan disusun draf Peraturan Pemerintah (PP) untuk cukai kresek. Setelah itu, baru dirilis aturan turunannya berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Di sisi lain, pengenaan cukai untuk emisi kendaraan bermotor masih dikaji Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan. Rencananya, cukai dikenakan atas karbon yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor. Namun besaran tarifnya hingga kini belum ditetapkan.

"Konsep cukai itu, kalau kami kenakan atas dasar eksternalitas (dampak ke eksternal) negatif, apakah itu (dampaknya ke) lingkungan? Nanti ada earmark. Earmark-nya itu digunakan untuk biayai recovery (pemulihan) kerusakan lingkungan dan kesehatan," ujar dia.

Meski begitu, dia menjelaskan bahwa cukai ini kemungkinan akan dikenakan kepada produsen. Baru kemudian produsen membebankannya kepada konsumen. "Tapi ini masih kajian. Kalau dilihat, prioritas mungkin plastik (kresek) dan minuman berpemanis karena ini yang mudah," kata dia.

Adapun pengenaan cukai untuk minuman berpemanis juga masih dalam pengkajian BKF. Menurut Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi, bisa tidaknya cukai tersebut diterapkan tahun depan tergantung hasil kajian BKF. Jika kajian bisa selesai dengan cepat, mungkin saja cukai minuman berpemanis diterapkan tahun depan.

Namun, ia menekankan, penambahan objek pajak ini bukan semata keputusan Kemenkeu, tapi keputusan pemerintah. Maka itu harus dibahas bersama instansi lainnya. "Secara keseluruhan ekstensifikasi ini adalah keputusan bersama yang nanti akan secara resmi diajukan pemerintah. Ini bukan semata-mata keputusan Kemenkeu,” ujar dia.

Adapun baru-baru ini, pemerintah menetapkan pengenaan cukai untuk rokok elektrik (vape). Tarifnya mencapai 57% dari harga jual eceran. Ketentuan tersebut berlaku pada berlaku pada 1 Juli 2018 mendatang. Alasannya, rokok elektrik dinilai sebagai produk hasil tembakau yang juga berdampak bagi kesehatan maka itu dikenakan cukai. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan