Gelontorkan Rp 1,2 Triliun, Meikarta Jadi Pengiklan Terbesar Tahun Ini

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

Kamis 23/11/2017, 10.14 WIB

Meikarta terpantau gencar beriklan di media cetak pada Agustus-September 2017.

Meikarta
Arief Kamaludin|KATADATA

Nielsen Indonesia mencatat, belanja iklan sepanjang Januari-September tahun 2017 mencapai Rp 107,7 triliun. Angka itu tumbuh 8% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yakni Rp 99,8 triliun.

Meikarta disebut membantu peningkatan belanja iklan sebesar 16% dari Rp 32 triliun pada kuartal ketiga tahun lalu, menjadi Rp 37,3 pada kuartal kuartal ketiga tahun ini.

Nielsen mencatat, Lippo Group menggelontorkan Rp 1,2 triliun untuk mengiklankan Meikarta hanya pada Agustus dan September 2017. “Meikarta tidak terlihat sebagai pengiklan terbesar di televisi karena iklannya lebih banyak di media cetak,” ujar Head of Business Media Nielsen Indonesia Hellen Katherina kepada wartawan di Jakarta, Rabu (22/11).

(Baca juga:  Sengkarut Izin dan Pemasaran Megaproyek Meikarta)

Selain Meikarta, pengiklan terbesar pada sembilan bulan pertama tahun ini adalah Traveloka dengan total belanja iklan sebesar Rp871,6 Miliar yang tumbuh sebesar 82% dibandingkan tahun sebelumnya. Di peringkat ke tiga pengiklan terbesar adalah Indomie dengan total belanja iklan sebesar Rp767,2 Miliar.

Dari kategori Peralatan Telekomunikasi, Vivo Smartphone masuk dalam daftar pengiklan terbesar di urutan ke empat dengan total belanja iklan mencapai Rp 571,5 Miliar dan tumbuh hingga 60 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Samsung Smartphone juga meningkatkan belanja iklannya sebesar 121% dan berada di urutan ke lima dengan nilai Rp 564,1 Miliar.

Kontributor utama untuk pertumbuhan belanja iklan masih dari media TV yang menyumbang 80% dari total nilai belanja iklan. (Baca juga: Teguran Ombudsman Tak Hentikan Promosi Meikarta)

Hanya, Hellen menyatakan, nilai belanja iklan TV yang dilaporkan selama ini hanya memperhitungkan iklan-iklan yang tayang pada commercial break. Sementara itu, bentuk iklan yang disisipkan dalam acara TV belum dimasukkan dalam pelaporan. “Jadi masih ada aktivitas iklan di TV yang belum terkuantifikasi nilainya,” katanya.

Reporter: Pingit Aria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha