Jelang Tahun Politik, Jokowi Ingatkan Kadin Agar Jangan ‘Nyambi’

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Pingit Aria

29/11/2017, 13.18 WIB

Anggota Kadin memang ada yang bersalin peran dari pengusaha menjadi politisi.

jokowi
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo bersiap memimpin rapat terbatas tentang perkembangan implementasi program pengentasan kemiskinan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (25/7). Presiden menekankan untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di masyarakat dan pelaksan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta urusan ekonomi tidak perlu dicampur aduk dengan urusan politik. Peringatan Jokowi ini mengingat makin dekatnya Indonesia dengan tahun politik, saat ada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Jokowi mencontohkan, pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia agar memberi batasan yang jelas antara kegiatan usaha dan politiknya. Kadin merupakan salah satu asosiasi pengusaha terbesar di Tanah Air, selain Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

"Jangan Kadin misalnya, 'nyambi' politik. Ini mau jadi pengusaha, apa politikus,” kata Jokowi dalam sambutannya pada Kompas 100 CEO Forum, di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (29/11).

Tak jelas apakah pernyataan Jokowi tersebut ditujukan untuk menyindir individu tertentu atau hanya contoh secara umum. Namun, fenomena pengusaha yang menjadi politisi memang bukan ha lasing di Indonesia.

(Baca juga: BI Waspadai Risiko dari Pemulihan Ekonomi Dunia yang Bersifat Temporer)

Aburizal Bakrie yang pernah memimpin Kadin pada 1994-2004 juga merupakan petinggi Partai Golkar. Begitu juga Sandiaga Uno yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta baru tahun lalu mundur sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang UMKM dan Koperasi. Di luar Kadin, CEO MNC Group Hary Tanoesudibjo juga dikenal sebagai pendiri Partai Persatuan Indonesia (Perindo)

Selain itu, Jokowi juga mengeluhkan sikap pengusaha yang cenderung menahan rencana investasinya di tahun politik. Sikap ini menurutnya tampak pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 silam. "Dari 2014 wait and see, tahun depannya lagi masih wait and see," kata Jokowi.

Sementara, Jokowi menyebut, beberapa indikator ekonomi Indonesia telah menunjukkan perbaikan. Salah satu contohnya adalah tiga lembaga rating yang memberi peringkat layak investasi kepada Indonesia. Selain itu, peringkat kemudahan berusaha Indonesia tahun ini juga naik ke posisi 72.

"Tahun lalu waktu saya bilang ekonomi (RI) akan membaik tidak percaya. Semoga sekarang semua percaya," katanya.

(Baca juga: Jokowi Diminta Dongkrak Ekonomi Tumbuh 6% untuk Bekal Pilpres 2019)

Jokowi dalam rapat koordinasi nasional Kadin bulan lalu pernah menuding pihak-pihak yang kerap tidak percaya capaian pemerintah dan kerap pesimistis adalah politisi dan bukan pengusaha.

Salah satu alasannya lantaran pertumbuhan ekonomi yang berada di atas 5% dan laju inflasi yang dalam tiga tahun terakhir di bawah 4%. "Angka ini yang suka meragukan, jangan-jangan orang politik," kata Jokowi.

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan