Polisi Kawal Operasi Pasar 1000 Ton Daging Bulog di Jabodebek

Penulis: Michael Reily

Editor: Pingit Aria

20/12/2017, 10.24 WIB

Bulog menggelontorkan dua jenis daging yakni sapi dan kerbau dalam operasi pasar kali ini.

Daging Sapi Beku Impor
Arief Kamaludin|KATADATA
Daging beku sapi yang diimpor Bulog dari Australia dijual seharga Rp 80 ribu per kilogram.

Perum Badan Usaha Logistik (Bulog) melaksanakan operasi pasar daging sapi dan kerbau beku selama 3 hari. Operasi pasar yang dikawal polisi ini dilaksanakan di Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi untuk menekan harga di pasaran.

Direktur Komersial Bulog Tri Wahyudi Saleh menyatakan, permintaan daging cenderung meningkat jelang akhir tahun. “Saya yakin operasi pasar dapat membantu masyarakat, dengan mengganduli harga,” kata Tri di Kantor Divisi Regional Bulog DKI Jakarta.

Titik lokasi operasi pasar akan dilaksanakan di Senen, Cilandak, Kramat Jati, Tanjung Priok, Cipete Utara, Kebayoran Lama, Marunda, dan Limo Depok.

Pada setiap titik disediakan daging sapi 2,5 ton dengan harga Rp 80 ribu per kilogram dan 1 ton daging kerbau dengan harga Rp 75 ribu per kilogram. Ada juga 3 truk yang berkeliling untuk menjual daging.

(Baca juga: Pemerintah Siapkan 281 Ribu Agen untuk Bantuan Pangan Non-Tunai)

Menurut Tri, harga daging segar di pasaran melonjak cukup tinggi. “Informasi yang saya terima harganya mencapai Rp 110 ribu,” ujarnya.

Operasi pasar daging beku bakal dijalankan secara beriringan dengan Gerakan Stabilisasi Pangan, pekan lalu. Pemerintah melakukan operasi penggelontoran komoditas beras, gula, dan minyak goreng secara nasional.

Tri mengungkapkan jika daging beku dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, Bulog bakal menyalurkan distribusi secara nasional. Stok daging kerbau beku di gudang Bulog saat ini mencapai 21 ribu ton.

Untuk mencegah penimbunan, polisi bakal mengamankan penjualan. Penjualan pun dilakukan jauh dari pasar supaya tidak memicu penyelewengan pembelian untuk dijual kembali oleh konsumen lain. “Saya pikir dukungan polisi akan mencegah praktik curang masyarakat,” tutur Tri.

(Baca juga: Patokan Harga Beras Berpotensi Meningkatkan Angka Kemiskinan)

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan