Resmikan Pembangkit di Papua, Jokowi Curhat Kena Mati Lampu 3 Kali

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Arnold Sirait

21/12/2017, 11.24 WIB

Dari 3.000 desa yang belum teraliri listrik, 2.000 di antaranya berada di Papua.

jokowi
Arief Kamaludin | KATADATA

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan dua pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) di Papua. Namun, ada cerita mengenai listrik di Papua yang ia rasakan sebelum meresmikan pembangkit tersebut. Cerita itu kemudian ia bagikan ketika meresmikan pembangkit listrik, Rabu (20/12).

Menurut Jokowi, satu hari sebelum peresmian, dirinya menginap dan bermalam di salah satu hotel di kota Sorong. Di sana, ia merasakan langsung bagaimana listrik mati-hidup atau terkenal istilah biarpet. Bahkan peristiwa mati-hidup listrik itu dirasakan sampai tiga kali. 

Pengalaman itu, kata Jokowi sama seperti yang dialami masyarakat Papua selama ini mengenai listrik. "Tadi malam saya menginap di Kota Sorong. Di hotel, mati lampu tiga kali. Malam ini, saya mau menginap di Nabire. Saya mau cek mati lampu enggak nanti malam," ujar Jokowi, berdasarkan dalam keterangan resmi Sekretariat Presiden, Kamis (21/12).

Melihat fakta tersebut, Presiden memerintahkan jajarannya untuk mengatasi masalah listrik "biarpet" serta membangun listrik untuk desa di tanah Papua. Adapun, pembangkit yang diresmikan yakni PLTMG Nabire dengan kapasitas 20 megawatt (MW). Kemudian ada PLTMG Jayapura berkapasitas 50 MW.  Selain itu ada peluncuran 74 desa baru berlistrik Papua dan Papua Barat. 

Dengan beroperasinya kedua PLTMG ini, harapannya kebutuhan listrik bagi masyarakat yang berada di kedua wilayah tersebut bisa terjawab. Selain itu, keberadaan pembangkit juga bisa mendorong masuknya investor. Apalagi listrik adalah kunci investasi.

Hingga saat ini memang masih ada beberapa desa di Indonesia yang belum teraliri listrik. Jumlahnya bahkan bisa mencapai  3.000 desa . “Paling banyak 2.000 desa itu di tanah Papua,” kata Jokowi.

Di sisi lain, penyediaan listrik di tanah Papua memang banyak tantangan seperti kondisi geografis. Namun, itu harus dihadapi agar listrik bisa menerangi seluruh tanah Papua tahun 2019. "Kami lihat, bergunung-gunung, nyebur. Setelah nyebur digotong ke atas bukit. Medannya memang sangat berat. Seberat apapun medan harus bisa ditaklukan dan desa-desa harus terang benderang," ujar Jokowi. 

Dengan kondisi geografis seperti itu, Jokowi tidak menampik kebutuhan dana untuk pembangkit di Papua lebih besar dibandingkan daerah lain.  Mengutip pernyataan Menteri ESDM Ignasius Jonan, untuk membangun listrik di satu desa di Papua perlu biaya Rp 2 miliar, padahal di tempat lain hanya Rp 1 miliar untuk satu desa.

Namun, meskipun membutuhkan anggaran besar, pembangunan pembangkit itu harus tetap dilakukan. Presiden juga berpesan kepada jajarannya untuk selalu mengutamakan dan memperbaiki kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. "Ini bukan mahal dan murah. Ini keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar dia.

(Baca: Pemerintah Siapkan 240 Ribu Lampu Tenaga Surya Terangi Desa Terpencil)

Turut hadir mendampingi Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dalam acara tersebut adalah Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Gubernur Papua Lukas Enembe.

 

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan