SKK Migas Kebut Empat Proyek Strategis Nasional Hulu Migas

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Yuliawati

28/12/2017, 13.42 WIB

Dari lima Proyek Strategis Nasional hulu migas, hanya proyek Jangkrik di Blok Muara Bakau Kalimantan Timur yang beroperasi.

Unit pengolahan gas alam cair Blok Tangguh
Katadata

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menggarap lima proyek minyak dan gas bumi (migas) yang masuk dalam proyek strategis hulu migas. SKK Migas berupaya mengerjakan proyek tersebut sesuai target.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher mengatakan pihaknya terus memonitor perkembangan lima proyek hulu migas yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional. "Sedang di monitor terus, Insya Allah masih sesuai target," kata dia kepada Katadata, Kamis (28/12).

(Baca: SKK Prediksi Investasi Hulu Migas Meningkat 10% Tahun Depan)

Dari lima proyek tersebut, hanya proyek Jangkrik di Blok Muara Bakau Kalimantan Timur yang dikerjakan oleh kontraktor Eni Muara Bakau Ltd, yang telah beroperasi. Berdasarkan rencana pengembangan (PoD) II Lapangan Jangkrik dan Jangkrik NE yang disetujui SKK Migas 2013 silam, nilai investasi proyek ini sebesar senilai US$ 3,77 miliar. Proyek ini pun sudah beroperasi (Onstream) pada kuartal III Juli 2017 lalu. Kapasitas Produksi gasnya sebesar 450 juta kaki kubik per hari (mmscfd).

Sementara itu empat proyek lainnya hingga kini masih dalam proses. Pertama, proyek Jambaran Tiung Biru di Blok Cepu Jawa Timur. Status proyek saat ini masih dalam tahapan pelaksanaan survey dan topografi Persiapan kantor untuk Tim Project Management Team (PMT) PT Pertamina EP Cepu (PEPC) oleh kontraktor yang mengerjakan rekayasa, pengadaan dan konstruksi (EPC).

Adapun kapasitas produksi proyek ini sebesar 330 mmscfd gas. Mengacu PoD Jambaran Tiung Biru pada 2015 lalu, nilai investasi proyek ini sebesar US$ 2,05 miliar. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada 2020 mendatang.

(Baca: Produksi Blok Cepu Akan Bertambah Mulai 2019)

Kedua, Proyek Tangguh Train 3 yang dioperasikan oleh BP Indonesia di Papua Barat. Proyek tersebut kini masuk dalam tahap konstruksi, yakni dalam persiapan rekayasa, pengadaan dan konstruksi (EPC). Targetnya proyek tersebut bisa beroperasi pada kuartal II 2020. Kapasitas produksi proyek ini ditargetkan sebesar 700 mmscfd atau sekitar 3,8 juta ton per tahun (MTPA).

Mengacu PoD tahun 2012, proyek ini ditaksir bernilai investasi sebesar US$ 11,13 miliar. Namun dalam keputusan final investasi (financial investment decision/FID) yang dicapai pada 2016 lalu, investasi proyek Tangguh berhasil dipangkas menjadi US$ 8 miliar

Ketiga, proyek ultra laut dalam (Indonesian Deepwater Development/IDD) yang dikerjakan oleh Chevron Indonesia. Proyek ini mencakup beberapa lapangan, salah satu lapangan yang telah berproduksi adalah Lapangan Bangka pada Agustus 2016 lalu. Adapun kapasitas produksi lapangan Bangka sebesar 85 mmscfd untuk gas dan minyak 2.400 barel per hari (bph). Saat ini Chevron tengah membangun proyek IDD untuk dua lapangan yakni Lapangan Gendalo dan Gehem.

(Baca: SKK Migas: Enam Proyek Hulu Migas Prestasi Pemerintahan Jokowi-JK)

SKK migas mencatat Status proyek IDD saat ini tengah dalam tahap revisi pengembangan lapangan (PoD ) pertama. Di sisi lain Chevron juga tengah melakukan lelang pekerjaan kajian desain awal (Pre Front End-Engineering Design/Pre-FEED) untuk memilih skenario pengembangan proyek IDD. SKK migas menargetkan proyek tersebut akan berproduksi sesuai target. Untuk lapangan Gendalo ditargetkan beroperasi pada kuartal IV tahun 2022. Kapasitas produksinya sebesar 700 mmscfd untuk gas dan 20 ribu bph untuk minyak.

Sementara Lapangan Gehem ditargetkan berproduksi pada kuartal II 2023. Kapasitas produksi Lapangan Gehem nantinya sebesar 420 mmscfd untuk gas dan 27 ribu bph untuk minyak. Adapun nilai proyek IDD sebesar US$ 6,98 miliar, ini berdasarkan dokumen PoD I yang disetujui SKK Migas 2008 lalu.

Keempat, proyek lapangan Abadi di Blok Masela. Status proyek tersebut saat ini tengah dalam tahapan proses revisi PoD pertama yang terdiri dari beberapa pekerjaan seperti, proses pengadaaan pre-FEED dan Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) oleh Inpex dan tahap klasifikasi lokasi potensial fasilitas produksi di darat. Namun demikian jadwal produksi, perkiraan investasi, dan juga kapasitas produksi Blok Masela hingga kini masih dalam tahap diskusi di SKK Migas.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan