Operator Pelabuhan Patimban akan ditentukan melalui lelang, paling lambat April 2018 mendatang.
Menteri Transportasi Jepang, Keiichi Ishii, kunjungi lokasi Pelabuhan Patimban
Kementerian Perhubungan

Pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk pembangunan pelabuhan Patimban fase I tahap I akan cair mulai Maret 2018 mendatang. Nantinya, pinjaman dengan total Rp 14 triliun tersebut akan dikucurkan bertahap selama dua tahun.

Direktur Kepelabuhanan, Direktorat Jenderal Pelabuhan Laut, Kementerian Perhubungan, Chandra Irawan mengatakan, pinjaman yang segera cair adalah untuk pekerjaan fase I Pelabuhan Patimban.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

"Pembangunannya nanti dilakukan secara bertahap," kata Chandra usai rapat dengan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Jumat (12/1).

(Baca juga: Gubernur Jabar Ingin BUMD Ikut Kelola Pelabuhan Patimban)

Chandra juga mengatakan, operator pelabuhan ini baru ditunjuk paling lambat April 2018 mendatang. Saat ini, menurutnya, pembicaraan soal operator dan skema pengoperasian pelabuhan telah memasuki tahap akhir. "Maret juga akan ditunjuk kontraktor pelabuhan," kata dia.

Chandra juga menjelaskan, pembangunan pelabuhan fase I tahap I ditargetkan selesai tahun 2020. Nantinya, pelabuhan akan memiliki carport yang dapat menampung 200 ribu mobil.

Selain itu pelabuhan ini juga memiliki panjang dermaga 300 meter. "Nantinya sampai tahap terakhir bisa menampung 600 ribu mobil," ujar Chandra.

Sedangkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan, operator pelabuhan akan ditentukan melalui proses lelang. Di mana, pesertanya terdiri dari kosorsium Indonesia dengan Jepang. “Indonesia sebagai mayoritas,” ujarnya.

(Baca juga: Pencairan Dana Talangan Infrastruktur Masih Didominasi Tol)

Ameidyo Daud
Artikel Terkait
Terkait masalah pembiayaan, Jepang menginginkan kereta ini dibangun melayang, sehingga investasinya besar.
Investasi ini meliputi pendanaan empat proyek infrastruktur besar, yakni jalan tol, PLTU Meulaboh, Bandara Kertajati, dan hunian kelas menengah
Total kebutuhan dana untuk universitas ini mencapai Rp 3,9 triliun dan ditargetkan rampung pada 2022.