Diminta Kominfo, Google Blokir 14 Aplikasi LGBT di Play Store

Penulis: Pingit Aria dan Desy Setyowati

29/1/2018, 19.09 WIB

Aplikasi Blued yang diblokir di Play Store masih bisa diakses di iOS. Beberapa aplikasi yang identik dengan LGBT yang lain pun masih bisa ditemui.

Digital internet
Arief Kamaludin|KATADATA

Google telah memblokir 14 aplikasi bermuatan Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender (LGBT) dari Play Store. Pemblokiran itu dilakukan atas permintaan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Pelaksana tugas (Plt) Biro Hubungan Masyarakat (Humas) Kemkominfo Noor Iza menjelaskan, instansinya sudah mengirimkan permintaan kepada Google untuk menurunkan 73 aplikasi yang berkaitan dengan LGBT, pada 15 Januari 2018. Google pun merespons dengan menurunkan 14 di antaranya, pada Ahad (28/1) kemarin.

"Tiga diantaranya terkait dengan aplikasi Blued," kata dia saat konferensi pers di kantornya, Senin (29/1).

Noor menjelaskan, ketiga aplikasi Blued ini bisa diturunkan dari Google Play Store karena memuat konten pornografi. Konten tersebut terjaring mesin sensor pengais konten negatif Kominfo yang dikenal dengan AIS. "Kami berhasil screenshot (konten pornografi) dan kami minya takedown," ujar dia.

(Baca juga: Kominfo Minta Google Cabut 73 Aplikasi LGBT dari Play Store)

Jejaring sosial Blued memang menjadi perbincangan di kalangan netizen sejak akhir 2017 lalu. Melalui Blued, para LGBT bisa berinteraksi dalam bentuk teks, foto, dan video.

Kominfo sebelumnya telah memblokir lima domain name server (DNS) layanan Blued pada 12 Oktober 2017. Namun, hal itu dianggap kurang efektif, sebab penyelenggara aplikasi mobile bisa saja berpindah-pindah DNS.

Bahkan, aplikasi Blued masih dapat dijumpai di toko aplikasi iOS, Apps Store. Tak hanya itu, aplikasi lain yang memuat konten LGBT seperti Grindr, Boyahoy, Hornet, dan lain-lain juga masih bisa ditemukan, baik di Google Play Store, maupun Apps Store.

Ia mengakui, proses penghentian aplikasi ini memakan waktu cukup lama, berbeda dengan pemblokiran situs internet. Untuk situs, kata dia, Kominfo tinggal mendata, lalu mengirimkan permintaan pemblokiran ke penyedia jasa internet (internet service provider/ISP). 

"Kalau aplikasi ada pengelolanya, yaitu penyedia jasa aplikasinya, Google Play Store atau iStore. Kami harus komunikasi di level mereka. Ini kami lakukan terus," kata dia.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan