Selusin Teknologi Canggih Kawal Asian Games 2018

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

13/8/2018, 12.46 WIB

Dari kebutuhan telekomunikasi, rekayasa cuaca, hingga ancaman siber, semua aspek diperhatikan dalam Asian Games 2018.

Venue Asian Games 2018
ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf
Suasana Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dihiasi lampu warna warni di Jakarta, Selasa (13/2) malam. Stadion Utama Gelora Bung Karno mulai digunakan untuk berbagai pertandingan olahraga usai direnovasi seperti atletik pada ajang 18th Asian Games Invitation Tournament.

Pemerintah nampaknya tak ingin Asian Games 2018 menjadi ajang pesta olahraga yang biasa-biasa saja. Apalagi, 16 ribu atlet dan official dari 45 negara bakal hadir di dua kota tuan rumah, yakni Jakarta dan Palembang. Setidaknya, ada 12 teknologi canggih yang bakal mengawal perhelatan tersebut.

1. Jaringan generasi kelima atau 5G di 175 titik di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Si Jalak Harupat, dan Jakabaring Palembang. Teknologi ini bakal diujicobakan oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) selama Asian Games 2018. “Kecepatannya 16,5 gigabyte per detik (gbps)," kata General Manger (GM) External Corporate Communication Telkomsel Denny Abidin, akhir pekan lalu (10/8).

Selain itu, terdapat 967 akses point wifi highdens di Stadion GBK dan Jakabaring untuk memenuhi kebutuhan internet secara gratis bagi atlet, ofisial, dan penonton. Tersedia pula internet fiber Indihome, jaringan intranet 58 GB, dan delapan unit Satellite News Gathering (SNG) untuk kebutuhan broadcaster di wisma atlet Kemayoran dan Palembang.

2. Kendaraan listrik tanpa sopir bernama Navya Autonom Shuttle milik Telkomsel. Mobil ini berkecepatan maksimal 25 kilometer (km) per jam. Kendaraan ini juga dilengkapi dengan sensor pendeteksi jalan jarak jauh yang disebut Lidar (Light Detection and Ranging).

(Baca juga: Mogok Tiga Kali, Kemenhub Evaluasi Pengoperasian LRT Palembang)

3. Hawk eye yang berfungsi membantu wasit dalam pertandingan bulutangkis. Mengutip dari Koran Tempoedisi 9 Juli 2018 lalu, operasional teknologi ini menelan biaya Rp 85 juta per unit setiap harinya. Dalam penyelenggaran Asian Games 2018 nanti, software keluaran Swiss Score ini akan terpasang sebanyak dua unit yang dibiayai oleh Konfederasi Bulu Tangkis Asia (BAC)

4. 610 Light Emitting Diode(LED)lighting system di Stadion GBK. Setiap lampu memiliki daya 1.500 watt, dengan tingkat kecerahan 3.500 lumen. Untuk itu, pemerintah memasang 1.293 unit panel surya di atap stadion yang menghasilkan listrik 450 kilowatt. Dengan begitu, sistem penerangan ini diklaim menghemat energi hingga 500%.

5. Tata suara yang terintegrasi dengan sistem pencahayaan stadion atau interactive dynamic system

6. Papan digital dari Seiko untuk menampilkan waktu, skor, dan momen menarik. 

7. 250 closed-circuit television(CCTV) yang terintegrasi dengan teknologi face recognitionatau pengenalan wajah dengan kualitas gambar mencapai 7K. Teknologi ini berguna untuk mengantisipasi tindak terorisme.

(Baca juga: Telkomsel Hadirkan Teknologi 5G di Ajang Asian Games 2018)

8. E-ticket berbentuk e-voucher berteknologi quick response(QR) code. 

9. Teknologi informasi dari perusahaan asal Korea Selatan, Sangyong Information and Communication Corporation (SICC). SICC merupakan penyedia teknologi informasi dalam Asian Games 2014 Incheon, Olimpiade 2012 London, hingga Piala Dunia Korea dan Jepang 2002. SICC menjamin kelancaran jaringan, perangkat lunak (sofware), dan perangkat keras (hardware) dalam gelaran internasional ini.

10. Asian Games Information System (AGIS). Sistem informasi ini bertanggung jawab terhadap sistem transportasi, jadwal siaran langsung, profil para atlet dan negara asal mereka, catatan rekor, informasi arena pertandingan, hasil kejuaraan, serta titik kendali jadwal. 

11. Sistem back-up dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang melibatkan 30 ahli, untuk mengantisipasi risiko serangan siber selama Asian Games.

12. Teknologi modifikasi cuaca dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Teknologi ini dimanfaatkan untuk membasahi lahan gambut di Sumatra Selatan, guna mencegah kebakaran lahan dan hutan. 

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan