Dua Saran Menteri ESDM untuk Percepat Proyek Panas Bumi

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Arnold Sirait

Kamis 6/9/2018, 14.53 WIB

Jonan meminta PLN dan badan usaha jangan banyak berdebat. Selain itu, badan usaha harus bisa sosialisasi lebih awal ke masyarakat.

Panas Bumi Geothermal
Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memiliki dua saran untuk mempercepat proyek panas bumi. Proyek panas bumi ini diperlukan sebagai sumber energi alternatif, sehingga pengembangannya juga perlu percepatan.

Menurut Jonan, untuk mempercepat pengembangan proyek panas bumi, badan usaha yang ditugaskan menggarap wilayah kerja dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang membeli listriknya tidak banyak berdebat. Semakin banyak berdebat, proses pembangunan pembangkit listrik akan semakin lama.

Padahal, untuk menghasilkan listrik dari panas bumi membutuhkan waktu 10 tahun. "Eksplorasinya sendiri saja sudah panjang, bisa dua, tiga bahkan mungkin empat tahun. Konstruksinya tiga atau empat tahun lagi. Nanti debatnya tambah lima tahun lagi," kata Jonan saat membuka acara "The 6th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE)" Tahun 2018, Kamis (6/9).

Untuk mengurangi debat dan mempercepat proses, Jonan menyarankan badan usaha dan PLN bisa bicara harga listrik lebih awal. Selama dua tahun menjabat, menurutnya, PLN dan badan usaha baru diskusi harga setelah proyek hampir selesai.

Diskusi lebih awal ini bisa menyamakan pemahaman antara kedua belah pihak. “Daripada nanti sudah hampir selesai terus debat, nanti prosesnya panjang lagi," kata Jonan.

Selain itu, Jonan meminta badan usaha melakukan sosialisasi kepada masyarakat saat awal akan melakukan kegiatan pemanfaatan panas bumi. Ini penting dilakukan agar tidak terjadi salah paham dengan masyarakat.

(Baca: Indonesia Bisa Jadi Penghasil Panas Bumi Terbesar di Dunia)

Badan usaha juga jangan hanya bergantung pada upaya pemerintah untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat. Jadi, harus ada diskusi intensif dan sosialisasi terlebih dulu. “Kalau tidak, nanti protes dari masyarakat itu meningkat karena mungkin kesalahpahaman atau ketidakpahaman terhadap manfaat yang ditimbulkan dari eksplorasi panas bumi," ujar Jonan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha