Mendag Percepat Perundingan Perjanjian Dagang Kawasan Bebas Eropa

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Selasa 2/10/2018, 18.35 WIB

Kerja sama ekonomi Indonesia Eropa diharapkan bisa memaksimalkan peluang pasar negara EFTA secara maksimal.

ekspor
Katadata

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita bertolak ke Swiss untuk membahas finalisasi perjanjian perdagangan Indonesia-Eropa Free Trade Zone (EFTA) dalam Indonesia-Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Kedua perundingan akan membuka akses pasar  produk Indonesia ke negara Eropa seperti Swiss, Norwegia, Islandia, dan Liechtenstein.

Enggar menjelaskan pertemuan dengan Menteri Ekonomi Federal (Federal Councillor) Swiss Johann N. Schneider Ammann untuk membahas sejumlah poin sebelum memfinalisasi perundingan CEPA di Bali pada 28 hingga 31 Oktober mendatang. "Kami sepakat akan mengawal penyelesaian perundingan CEPA agar  dapat tercapai di Bali," katanya dalam keterangan resmi dari Zurich, Swiss, Selasa (2/10).

Menurutnya, Indonesia secara konsisten akan memperjuangkan kepentingan berbagai isu, termasuk juga dalam perundingan negara EFTA. Sehingga, penyelesaian isu harus difinalisasi dengan kesepakatan kedua pihak dalam konsesi negosiasi.

(Baca : Negosiasi Panjang Perjanjian Dagang RI-Australia Akhirnya Rampung)

Selanjutnya, ketua juru runding kedua delegasi akan bertemu kembali membahas isu-isu terakhir, dan diharapkan dapat membuahkan kesepakatan final bagi kedua pihak.

Enggar menegaskan Indonesia konsisten dalam perjanjian IE-CEPA sebagai negara yang siap berkompetisi dengan negara lain. Indonesia berupaya aktif mengintervensi pasar  di tengah  sentimen negatif  dan aksi proteksionis beberapa negara di belahan dunia saat ini.

Dia juga menyebut, kerja sama ekonomi Indonesia Eropa  diharapkan bisa memaksimalkan  peluang pasar negara EFTA secara maksimal. "Mereka merupakan pasar potensial mengingat pendapatan per kapita yang tinggi dan posisi mereka yang dapat dijadikan pintu menuju pasar Uni Eropa, dimana  saat ini Indonesia belum memiliki perjanjian dagang dengan UE,” ujar Enggar.

Duta Besar Indonesia di Swiss Muliaman Hadad menyampaikan produk Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk dikembangkan di pasar Swiss seperti emas, kopi, coklat, tekstil dan produk tekstil serta alas kaki. Selain itu, untuk beberapa produk potensial lainnya asal Indonesia juga masih berpeluang masuk  seperti produk berbahan baku kayu seperti furnitur dan kerajian, produk olahan hasil laut seperti rumput laut dan udang serta produk berbahan alami seperti minyak atsiri.

(Baca : Australia Akan Beri Bea Masuk 0% untuk Produk Mobil dan Garmen RI)

Muliaman meminta supaya promosi atas produk Indonesia dilakukan secara gencar. “Dengan diberlakukannya IE-CEPA nantinya, tentu akan meningkatkan nilai perdagangan kedua negara secara signifikan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Swiss juga menyampaikan rasa duka cita dari pemerintah Swiss atas musibah gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah. Sebagai bentuk simpati dan solidaritas, Ammann menyatakan pihaknya akan mengirimkan tim medis dan tim pembersihan puing yang terdiri dari tujuh orang dan berangkat pada 1 Oktober 2018 ke Indonesia.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha