Tujuh Fakta Penyelenggaraan Sidang IMF-Bank Dunia Bukan Hura-Hura

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Hari Widowati

Selasa 9/10/2018, 05.30 WIB

Anggaran yang terpakai untuk penyelenggaraan pertemuan ini baru Rp 566 miliar atau sekitar 66,1% dari alokasi awal Rp 855,6 miliar.

IMF-WB Meeting
ICom/AM IMF-WBG/M Agung Rajasa
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (kedua kanan) bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri), Menkominfo Rudiantara (kedua kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) menghadiri pertemuan dengan media di sela-sela Pertemuan Tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Senin (8/10). Sri Mulyani mengatakan pertemuan yang dihadiri ratusan negara tersebut akan membahas isu-isu yang memiliki korelasi terhadap kemajuan ekonomi Indonesia ke depannya.

Pemerintah membantah tudingan yang dari kalangan oposisi yang menyebut penyelenggaraan Sidang Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia merupakan pemborosan. Pemerintah mengatakan, ada tujuh fakta yang menunjukkan bahwa forum ini bukanlah ajang hura-hura.

Pertama, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman sekaligus Ketua Panitia Nasional Penyelenggara Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, anggaran yang terpakai untuk penyelenggaraan pertemuan ini baru Rp 566 miliar atau sekitar 66,1% dari alokasi awal Rp 855,6 miliar. Itu pun pemerintah baru membayar Rp 192,1 miliar dari Rp 566 miliar. "Nanti ada tambahan lagi (yang dibayarkan). Angka ini betul-betul kami hemat," kata Luhut saat konferensi pers di Hotel Westin, Bali, Senin (8/10).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Dalam perhelatan ini, pemerintah hanya menyediakan lokasi penyelenggaraan. Itu pun hotel, bukan membangun gedung baru seperti Peru ketika menjadi tuan rumah Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia pada 2015. Para peserta pun membayar hotel atau penginapan masing-masing. "Kalau ada yang (curiga) ke saya. Sudah ada yang saya telepon juga, saya kasih angkanya. Kami tidak main-main, memangnya kami sudah gila. Jangan bohong," ujarnya.

Kedua, ia membantah pemerintah menyediakan fasilitas mobil mewah kepada peserta sidang tahunan ini. "Mobil yang kami sewa itu keluaran 2013 dan 2015, Mercedez. Kami maunya Camry, tapi (yang tersedia) tidak sampai 400 unit," kata Luhut.

(Baca: Jokowi: Rombongan Pertemuan IMF-Bank Dunia Bayar Hotel Sendiri).

Ketiga, ia memastikan Indonesia mendulang untung dari adanya acara tersebut. Salah satu wujudnya adalah meningkatkan jumlah wisatawan ke Bali. Hal itu karena pemerintah memperlebar pelataran pesawat atau apron Bandara Ngurah Rai, sehingga kapasitasnya lebih besar dan cepat. "Jumlah turis ke Bali naik menjadi 1,2 juta per tahun," katanya. Tak hanya Bali, pemerintah juga memperbaiki infrastruktur bandara di Banyuwangi, Medan, Labuan Bajo, dan Mandalika.

Acara ini juga melibatkan 20 ribu pekerja seni. Sidang tahunan ini juga membuka lapangan kerja sebanyak 32.700, yang 400 di antaranya terbuka khusus bagi generasi muda Bali. Selain itu, acara ini menghasilkan 33 destinasi wisata baru sehingga secara total Indonesia memiliki 60 tujuan wisata. "Okupansi hotel (di Bali) juga naik dari 60-70% menjadi 70-80%. Kan bagus," kata dia.

Fakta keempat, disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ia mengatakan, sidang tahunan ini membahas terkait pembiayaan infrastruktur. Setidaknya ada sekitar 20 proyek infrastruktur yang bakal dibiayai, nilainya sebesar US$ 27 miliar atau setara Rp 400 triliun.

Kelima, pertemuan ini mengkaji seputar pembiayaan dan penanganan bencana alam di Indonesia. Apalagi, Indonesia baru saja menghadapi bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) serta Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng). Beberapa negara peserta sidang, yakni Chili, Kolombia, Peru, dan Meksiko membuat obligasi untuk probabilita gempa bumi.

Indonesia ingin mempelajari langkah negara-negara tersebut dalam menghadapi bencana. "Saya mau mempelajari itu dari Maroko yang memiliki asuransi untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan perumahan dalam menghadapi potensi gempa bumi," kata Sri Mulyani.

Keenam, menkeu memastikan Indonesia tak lantas menambah utang dari IMF semata-mata hanya karena menjadi tuan rumah sidang tahunan. Sebab, IMF hanya akan memberi utang kepada negara yang tengah mengalami krisis pembayaran. "Ekonomi Indonesia dalam kondisi baik. Terjadi penyesuaian, tetapi tidak berarti krisis. Kami tidak meminjam (kepada) IMF," ujar dia.

Terakhir, sidang tahunan ini akan menghasilkan berbagai kebijakan. Pertemuan ini membahas berbagai isu mengenai infrastruktur, perkembangan ekonomi dunia terkini, hingga teknologi. Dari sisi teknologi, misalnya, forum ini bakal menghasilkan 12 pokok bahasan terkait financial technology (fintech).

Secara keseluruhan, terdapat 34.223 orang yang mendaftar hadir pada sidang tahunan ini. Sebanyak 14.003 di antaranya merupakan peserta dari negara lain. Lalu, sebanyak 22.220 orang di antaranya merupakan pengusaha hingga bankir yang bakal melakukan pendekatan (pitching) terkait kerja sama. "Maroko, mereka sangat melihat Indonesia sebagai contoh. Kalau rugi, tanya ke mereka kok mau (mengajukan diri) menjadi tuan rumah (2021 nanti)?" ujarnya.

(Baca: Lagarde Puji Persiapan Rapat Tahunan IMF-Bank Dunia)

Reporter: Desy Setyowati