Gerilya Politik Sandiaga Uno dan Strategi Kampanye Prabowo

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Muchamad Nafi

10/10/2018, 06.38 WIB

Sebagai “pemain pemula” di tingkat nasional, Sandi perlu meningkatkan elektabilitasnya. Berbagi peran, juga mengatur keuangan.

Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) saling berpegangan tangan seusai mendaftarkan dirinya di gedung KPU, Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Beberapa pekan terakhir, Sandiaga Uno begitu sibuk. Lihat saja jadwal kegiatannya yang sangat padat. Ia banyak mengunjungi sejumlah daerah, menemui tokoh dan pejabat setempat, menyapa masyarakat.

Dalam setiap kunjungannya, selalu ada kata-katanya yang menggelitik publik, mulai dari tempe setips kartu ATM hingga sepiring makan siang di Jakarta lebih mahal dari di Singapura. Pengusaha muda ini memang sedang bergerilya. Sebagai calon wakil presiden yang berpasangan dengan Prabowo Subianto, ia ingin lebih dikenal masyarakat.

(Baca: Menakar Lobi Personal Sandiaga di Tengah Kekosongan Tim Kampanye).

Karena itu, hari-hari belakangan, dia seakan tak ada jeda. Misalnya hari ini, agenda Sandi begitu penuh-sesak sejak pagi hingga sore. Pukul 09.00 nanti, dia dijadwalkan sudah di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong, Indramayu, Jawa Barat. Sejam kemudian, Sandi akan brgeser ke Sentra Batik Paoman, juga di Indramayu.

Siangnya, mantan Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini mengunjungi Pabrik Kerupuk di Kenanga, Desa Terusan. Tak lupa dia akan menyempatkan ke Pesantren Ar Ribath Annabawiyah. Kalau tak ada aral melintang, kegiatannya di Indramayu ini hendak diakhiri dengan mendatangi Islamic Center.

Agenda tak kalah padatnya sudah ia gelar kemarin di Lampung. Pagi hari Sandi mendatangi Pasar Tugu, Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung. Serentetan kegiatan mengikutinya hingga sore ketika melakukam dialog interaktif dengan “emak-emak” di Bambu Kuning Square, juga di Kota Bandar Lampung.

Sejak kampanye resmi dimulai pada 23 September 2018 lalu, Sandiaga memang kerap melakukan gerilya politik. Selain dua tempat tadi, dalam sepekan terakhir, dia telah terjun bertemu masyarakat di Jakarta, Bogor, Sidarjo, Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, dan Jember. Intensitas kampanye Sandiaga ini timpang dibandingkan dengan duetnya, Prabowo Subianto. 

Prabowo dalam sepekan terakhir tercatat hanya pergi ke Sukabumi pada Minggu (7/10). Ketika itu, dia bersilaturahim ke Pondok Pesantren As-Syafi'iyah Pulo Air. Selebihnya, Prabowo diketahui dua kali melakukan konferensi pers di kediamannya, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Peran Sandiaga yang lebih dominan dalam kampanye ini seolah membuatnya seperti pemain tunggal atau one man show dalam Pilpres 2019. Dominannya langkah politik ini sebenarnya tak lepas dari strategi Prabowo-Sandiaga dalam berkampanye. (Baca: Jalan Terjal Prabowo-Sandiaga Meraih Suara Kalangan Nahdiyin)

Peneliti dari The Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai Sandiaga lebih intensif berkampanye lantaran pendekatan mereka lebih difokuskan kepada generasi milenial dan perempuan. Bagi Arya, pendekatan kepada dua kelompok pemilih itu lebih tepat jika dilakukan oleh Sandiaga ketimbang Prabowo. “Sosok sandi lebih relevan,” kata Arya ketika dihubungi Katadata.co.id, Selasa (9/10).

Alasan lainnya, menurut Arya, karena popularitas Sandiaga saat ini belum setinggi Prabowo. Arya menilai Prabowo sudah lebih dikenal dan memiliki tingkat keterpilihan yang cukup besar lantaran sudah tiga kali mengikuti Pilpres.

Adapun Sandiaga baru kali ini terlibat sebagai kandidat dalam ajang kontestasi politik berskala nasional. Karenanya, Sandiaga memang harus lebih banyak turun menemui masyarakat dibandingkan Prabowo. “Karena Sandi figur baru, tentu sandi butuh waktu sosialisasi yang panjang,” kata Arya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai lebih intensnya kampanye Sandiaga karena pertimbangan fisik yang lebih bugar ketimbang Prabowo. Dibutuhkan tenaga ekstra untuk berkunjung ke berbagai wilayah.

Tak hanya itu, Pangi pun menilai kampanye ke akar rumput memerlukan biaya yang cukup tinggi. Sebab, mereka harus mengeluarkan dana untuk transportasi, mengumpulkan relawan, membuat agenda, hingga memberikan oleh-oleh bagi masyarakat. Untuk itu, pembagian peran dalam kampanye mutlak diperlukan untuk mengefisienkan pengeluaran.

Menurut Pangi, tak ada masalah jika intensitas kampanye pasangan nomor urut 02 lebih banyak didelegasikan ke Sandiaga. Hanya saja, Pangi menyarankan konten narasi mereka ketika kampanye perlu diperbaiki.

Selama ini, dia melihat narasi kampanye yang dibawa Prabowo-Sandiaga belum begitu jelas. Alhasil, kampanye tersebut tak berdampak signifikan terhadap elektabilitas keduanya. (Baca pula: Jokowi dan Prabowo Belum Cukup Aman Jadi Presiden yang Kuat)

Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis Minggu (7/9) menunjukkan jika Prabowo-Sandiaga hanya mampu memperoleh suara sebesar 28,9 persen. Angka elektabilitas itu hanya separuh dari raihan Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang mencapai 60,4 persen. 

“Kalau datang grasak-grusuk, door to door tidak jelas begitu, ya tidak ada efek elektoral. Jadi konten menemui masyarakat itu harus dibahas kembali,” kata Pangi.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN