Koreksi Pertumbuhan, IMF Sebut Ekonomi Dunia Belum Cukup Kuat

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Kamis 11/10/2018, 19.39 WIB

IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9% menjadi 3,7% pada 2018 dan 2019.

IMF-World Bank
Katadata/Arief Kamaludin
Managing Director IMF Christine Lagarde (kanan) dan Presiden World Bank Group Jim Yong Kim, dalam seminar Bali Fintech Agenda dirangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank Group 2018, di Nusa Dua,Bali, Kamis, (11/10).

Dana Moneter Internasional (IMF) menilai, pertumbuhan ekonomi dunia saat ini lebih baik disbanding saat krisis 2008. Hanya, menurut Managing Director IMF Christine Lagarde, ekonomi dunia belum cukup kuat untuk menghadapi segala tantangan.

Untuk itu, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9% menjadi 3,7% pada 2018 dan 2019. "Apakah ekonomi cukup kuat? Saya jawab, tidak. Jelas kami lihat, pertumbunan ekonomi selama tiga tahun, 3,7%," kata dia di Bali International Convention Center, Bali, Kamis (11/11).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Ia mencatat, ada beberapa tantangan yang dihadapi dunia. Salah satunya, perang dagang khususnya antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok. "Ini akan sangat merugikan bagi kedua belah pihak dan semua negara yang terlibat (termasuk rantai suplai perdagangan di antara kedua negara)," kata dia.

(Baca juga: IMF Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2018 Tak Capai Target)

Belum lagi, bank sentral AS, Federal Reserve terus menaikan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate). Mereka menyebut langkah tersebut sebagai upaya untuk normalisasi ekonomi AS. Hal ini kemudian, membuat nilai tukar di beberapa negara khususnya yang tengah berkembang (emerging market), melemah.

Untuk itu, ia merekomendasikan tiga hal yakni melalukan eskalasi, diselesaikan/memperbaiki sistem, tanpa merusak tatanan yang sudah ada. "Karena setiap negara memiliki keuntungan dari kerangka kerja hukum selama bertahun-tahun dan itu membantu dunia," kata dia.

Di sisi lain, Tiongkok yang masih melakukan restrukturisasi juga dengan sengaja memperlemah mata uangnya. Kedua hal ini membuat dolar AS semakin menguat.

Reporter: Desy Setyowati