Modal US$ 10 Juta Jack Ma untuk 1.000 Pengusaha Digital di Afrika

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Jum'at 12/10/2018, 17.24 WIB

Jack Ma menginisiasi The Netpreneur Prize karena menurutnya Afrika mirip dengan Tiongkok zaman dulu.

Jack Ma IMF-WB
Ajeng Dinar Ulfiana|KATADATA.
Jack Ma selaku pendiri sekaligus Chairman Eksekutif dari Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok mengisi acara Gelaran International Monetary Fund - World Bank (IMF-WB) 2018 di Nusa Dua Bali. (12/10). Jack MA mengatakan 30 tahun lalu, sebuah negara tidak ada harapan jika idak ada listrik akan tetapi di jaman sekarang, jika tak punya koneksi internet sebuah negara tidak akan bisa maju.

Pendiri Alibaba, Jack Ma menginisiasi program pengembangan 1.000 pengusaha di bidang digital di Afrika hingga 2023. Program yang disebutnya The Netpreneur Prize itu bernilai US$ 10 juta atau sekitar Rp 150 miliar.

Ia mau membangun Afrika karena menurutnya kondisi di negara tersebut mirip dengan Tiongkok tempo dulu. Ia yakin, Afrika akan menjadi negara yang andal di bidang digital.

Jack Ma bercerita, Tiongkok tidak memiliki internet ataupun infrastruktur telekomunikasi lainnya ketika ia mendirikan Alibaba pada 19 tahun lalu. "Saat itu, di Tiongkok belum ada internet, sistem pembayaran, ataupun logistik. Infrastruktur juga belum memadai," kata dia di Bali Internasional Convention Center, Bali, Jumat (12/10).

Yang menarik, menurutnya kondisi seperti ini adalah peluang bagi pengusaha. Sebab, usaha akan memiliki nilai lebih ketika menghasilkan hal baru. "Ketika semuanya sudah siap, (usaha) Anda tidak ada nilainya. Justru, karena belum ada apa-apa disitu lah kita butuh wirausaha," ujar pria berusia 53 tahun tersebut.

(Baca juga: Bekraf Tawarkan 5 Produk Kreatif untuk Dipasarkan di Alibaba)

Di sisi lain, ia merasa ada nilai lebih dari Afrika dibanding Tiongkok dulu, yakni kemauan masyarakatnya untuk berusaha. "Tahun lalu saya berkunjung ke Afrika. Saya terkejut, karena mereka muda, energik, dan tidak kenal takut padahal dewasa ini di dunia penuh dengan ketakutan," ujarnya. "Mereka mau berubah, tidak seperti Tiongkok dulu."

Untuk itu, ia mau menginisiasi program US$ 10 juta untuk 1.000 pengusaha yang disebut The Netpreneur Prize. Toh, ia melihat potensi bagi industri digital di Benua Hitam itu sangat besar karena penetrasi internetnya cukup besar. "Kami undang 1.000 dari mereka selama lima tahun ke depan untuk pelatihan di Hangzhou, Tiongkok.

Ia berharap, setelah pelatihan ini para pengusaha itu kembali ke negaranya dan membangun ekonomi digital. Ia optimistis, industri digital seperti sistem pembayaran, e-commerce, hingga komputasi awan (cloud computing) bakal berkembang di Afrika. "Mungkin nanti akan ada banyak Alipay dan Alibaba di Afrika," ujarnya.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha