Pengembang Tik Tok Geser Uber Jadi Startup Paling Bernilai di Dunia

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

30/10/2018, 09.26 WIB

Dengan pendapatan US$ 2,5 miliar atau Rp 37,5, triliun pada 2017, Bytedance belum menghasilkan laba.

Tik Tok
Wikipedia
Aplikasi Tik Tok yang di Tiongkok dikenal dengan nama Douyin.

Perusahaan perangkat lunak Bytedance Technology Co baru saja merampungkan putaran investasi senilai US$ 3 miliar atau Rp 45 triliun. Alhasil, valuasi pengembang Tik Tok ini naik menjadi US$ 75 miliar atau Rp 1.125 triliun dan menggeser posisi Uber sebagai startup paling bernilai di dunia.

Bytedance mendapat tambahan modal dari Softbank Group Corp, KKR & Co, General Atlantic, dan beberapa investor. "Bytedance melampaui Uber Technologies Inc dan menjadi startup paling bernilai di dunia," demikian dikutip dari Bloomberg, akhir pekan lalu (26/10). Catatan CB Insights, valuasi Uber senilai US$ 72 miliar atau Rp 1.080 triliun.

Setelah mendapat pendanaan, Bytedance berencana memperkuat ekspansi bisnisnya di negara-negara barat. Apalagi, aplikasi terdahulunya yakni  Musical.ly populer di kalangan remaja di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Namun, aplikasi tersebut ditutup dan penggunanya dipindahkan ke Tik Tok.

Bytedance menyatakan, pengguna aktif bulanan (Monthly Active User/MAU) Tik Tok mencapai 500 juta orang. Sebanyak 300 orang di antaranya berada di negara asalnya, Tiongkok. "Setelah menjadi pemain utama di kancah internet di Tiongkok, kini (Bytedance) berencana menggunakan tambahan modal itu untuk menghadapi pesaing (di negara) barat," demikian dikutip.

(Baca juga:  Gaet Remaja, Facebook Bakal Rilis Aplikasi Pesaing Tik Tok)

Adapun pendapatan Bytedance mencapai US$ 2,5 miliar atau Rp 37,5, triliun pada 2017. Tahun ini, Bytedance menargetkan pendapatannya naik menjadi US$ 7,2 miliar atau Rp 108 triliun. Meski begitu, pengembang banyak aplikasi hiburan ini belum menghasilkan laba.

Meski posisinya tergeser oleh Bytedance, The Verge melaporkan bahwa Uber berencana melantai di bursa saham (initial public offering/IPO) di AS pada 2019. Dengan aksi korporasi itu, valuasi Uber diperkirakan mencapai US$ 120 miliar atau Rp 1.800 triliun.

Sementara, Bytedance dikabarkan akan melakukan IPO juga pada 2019. Mengutip dari Financial Times, Bytedance menargetkan valuasinya meningkat dua kali lipat setelah penjualan sahamnya.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan